Pembangunan Pemecah Gelombang di Ampenan Belum Jelas

0
Miftahurrahman. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat di sepanjang sembilan kilometer Pantai Ampenan meski tetap meningkatkan kewaspadaan. Pembangunan pemecah gelombang yang direncanakan sejak lama hingga kini belum jelas. Anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah pusat khusus ke NTB sangat terbatas.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Miftahurrahman menjelaskan, pembangunan pemecah gelombang sepanjang sembilan kilometer Pantai Ampenan sudah diusulkan dan bahkan  Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I sudah memegang data tersebut, termasuk usulan pembangunan jetty di Pantai Mapak. Hanya saja, kebijakan anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah pusat untuk pelayanan di NTB sangat terbatas, sehingga belum ada alokasi terkonsentrasi untuk menangani kawasan pantai. “Data sudah kita usulkan bahkan datanya sudah dipegang oleh BWS,” kata Miftah dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Secara keseluruhan kondisi sembilan kilometer pantai Ampenan sudah diidentifikasi. Miftah menyebutkan, kebutuhan anggaran untuk pembangunan pemecah gelombang atau jetty tergantung dari masing-masing kajian tipologi muara sungai. Tipologi muara di Pantai Ampenan ada yang menjorok dan tidak menjorok ke laut. Akan tetapi, pihaknya kembali bersurat ke BWS untuk melakukan kajian ulang tentang karakteristik sembilan kilometer Pantai Ampenan tersebut.

Menurutnya, sempat ada usulan kombinasi penanganan antara di atas dan di bawah. Ia memahami kondisi kedalaman pantai bervariasi dari utara dari kedalaman 4-8 meter. Selain itu, karakteristiknya berpalung maka wajar kondisi pantai agak seperti ini, sehingga diperlukan penanganan komprehensif dan pola kombinasi dengan underground. “Semua butuh anggaran besar,”  ucapnya.

Disebutkan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun pemecah gelombanag kisaran Rp10 miliar – Rp17 miliar. Biaya ini sangat tergantung dari bentuk, luasan, panjang, dan jenis konstruksi yang digunakan. (cem)