Izin Usaha Pangkalan akan Dicabut Jika Jual Elpiji Melebihi HET

0
Elpiji 3 Kg. (Suara NTB/bul)

Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melalui Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Bima mengancam akan mencabut izin usaha pangkalan apabila menjual LPG 3 kilogram melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Jika ada pangkalan yang masih menjual LPG 3 kilogram diatas HET kita akan cabut izin usahannya,” kata Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Bima, Irfan Dj, SH, akhir pekan kemarin.

Irfan mengaku, sikap tegas tersebut sebagai langkah pihaknya menindaklanjuti aduan masyarakat serta temuan pihaknya di lapangan terkait mahalnya LPG 3 kilogram yang dijual di pangkalan sekira Rp18 ribu.

“Pangkalan tidak boleh menjual melebihi HET, karena LPG 3 kilogram ini telah disubsidi Pemerintah. Kami harapkan masyarakat bisa melapor jika ada temuan seperti ini,” ujarnya.

Seperti diberitakan Suara NTB, LPG ukuran 3 kilogram dijual dengan bebas dan ilegal di wilayah Kabupaten Bima. Harga jualnya melebih HET yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Informasi yang dihimpun Suara NTB, praktek penjualan LPG melon tersebut seperti di wilayah Kecamatan Woha, Wawo dan Bolo. Harga jual persatuannya mencapai kisaran antara Rp25.000 hingga Rp30.000.

Padahal HET yang ditetapkan Pemerintah berdasarkan jarak yang ditempuh, harga LPG 3 kilogram hanya Rp15.000 dengan jaraknya 0-60 kilometer. Rp15.750 jarak 60-120 kilometer dan jarak diatas 120 kilometer harganya Rp16.500. “LPG 3 kilogram di jual diatas HET, ditemukan di wilayah Kecamatan Woha saat Sidak kemarin,” kata Irfan.

Berdasarkan temuan lanjut dia, ada oknum-oknum tertentu atau pangkalan-pangkalan ilegal yang membeli LPG subsidi di pangkalan resmi sesuai HET. Hanya saja, dijual kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. “Dijual juga kepada warga yang tidak termasuk dalam kuota subsidi. Hal ini membuat stok LPG di pangkalan cepat habis dan harganya tinggi,” ujarnya.

Kata dia, munculnya hal itu, lantaran penggunaan atau pemakaian gas di Kabupaten Bima terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu, dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk meraih keuntungan.

“Memang tidak bisa dihindari, saat ini konversi minyak tanah ke gas terus meningkat dan hal ini dimanfaatkan olehoknum-oknum tertentu untuk meraup keuntungan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, LPG 3 kilogram tidak hanya digunakan warga untuk kebutuhan rumah tangga, namun juga digunakan oleh petani untuk menghidupkan mesin pengairan, karena harga bensin dianggap mahal, sehingga mereka beralih menggunakan gas.

“Selain itu dimanfaatkan juga peternak, untuk menghangatkan hewan ternak dan mereka tidak lagi menggunakan listrik,” ujarnya. (uki)