BI : Penyaluran Kredit UMKM di NTB Capai Rp17,83 Triliun

0
BI NTB mencatat, hingga Juni 2022 sebanyak Rp10,26 triliun kredit UMKM di NTB disalurkan ke lapangan usaha perdagangan. Tampak salah satu aktivitas perdagangan di Pasar Dasan Agung Kota Mataram (Ekbis NTB/ris)

REALISASI kredit sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi NTB mencapai Rp17,83 triliun hingga Juni 2022 atau 32 persen dari total keseluruhan kredit yang disalurkan. Meskipun masih dalam suasana pandemi, kinerja sektor kredit tetap bagus.

Bank Indonesia mencatat, Rp10,26 triliun atau 55,73 persen kredit UMKM di NTB disalurkan ke lapangan usaha perdagangan, kemudian 3,89 triliun atau 21,27 persen kredit ke lapangan usaha pertanian, Rp1,04 triliun atau 5,63 persen kredit disalurkan ke lapangan usaha akomodasi makan dan minum (akmamin),Rp821 miliar atau 4,68 persen disalurkan ke industri pengolahan dan 13,16 persen disalurkan ke sektor lainnya.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Achmad Fauzi mengatakan, jika dilihat dari jenis penyaluran kredit, 84 persen kredit UMKM digunakan oleh debitur sebagai modal kerja, dan 16 persen untuk investasi. Dari jenis UMKM, 43 persen kredit disalurkan kepada pelaku usaha skala kecil,kemudian 40 persen pelaku usaha mikro dan 17 persen pelaku usaha menengah.

“Kinerja kredit UMKM terus mengalami perbaikan hingga Juni 2022. Perbaikan tersebut tercermin dari penurunan porsi kredit UMKM yang direstrukturisasi, saat ini masih18,97 persen kredit UMKM yang direstrukturisasi dari total seluruh kredit UMKM,”jelas Fauzi saat memberikan penjelasan kepada media akhir pekan kemarin.

Non Performing Loan (NPL) kredit UMKM di NTB pada kuartal II/2022 tercatat 3,98 persen, meningkat jika dibandingkan dengan NPL padakuartal I/2022 sejumlah 0,87 persen. Sedangkan Loan At Risk (LAR) pada kuartal II/2022 naik menjadi 22,39 persen dibanding pada kuartal I/2022 dengan LAR 6,62persen.

BI NTB mendorong perbankan memperkuat digitalisasi untuk memperluasakses UMKM mendapatkan pembiayaan untuk mengembangkan usahanya. Pada Mei 2022, BI mencatat nilai transaksi digital banking meningkat 20,82 persen (yoy)menjadi Rp 3.766,7 triliun.

Hal ini menyebabkan industri keuangan terus berlomba menyajikan layanan digital, dimana selain perbankan, kehadiran fintech atau pembiayaan online juga terus tumbuh dan memberikan alternatif pembiayaan bagi masyarakat. Selain itu, pada periode Mei 2022, jumlah penerima pinjaman melalui pembiayaan online seumlah 18.056.908 akun dan nilai pinjaman mencapaiRp18,6 triliun. Dari jumlah tersebut , 39,13 persen atau Rp7,2 triliun diantaranya merupakan pinjaman fintech sektor produktif.(ris)