Event Otomotif Dunia di Mandalika dan Samota Picu Ketertarikan Berinvestasi di NTB

0
H. Mohammad Rum (Suara NTB/alfan)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah event internasional yang digelar di Lombok dan Sumbawa seperti MotoGP, WSBK, MXGP dan lainnya telah membuat nama Provinsi NTB makin dikenal secara nasional dan internasioal. Hal ini juga telah memicu ketertarikan dunia usaha untuk berinvestasi di daerah ini.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, Ir.H. Mohammad Rum, M.T mengaku ada banyak sektor potensial yang dilirik oleh investor di NTB. Tidak hanya di bidang pertambangan dan pariwisata, namun sektor  pelabuhan kelas internasional juga menjadi magnet yang tetap menarik, seperti Global Hub di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

“Event yang telah digelar seperti MotoGP dan WSBK di Mandalika dan MXGP di Samota, saya merasa akhir-akhir ini sudah mulai berdatangan invetasi itu,” ujar Mohammad Rum kepada Suara NTB, Kamis, 28 Juli 2022.

Rum mengatakan, Global Hub menjadi salah satu andalan utama NTB untuk investasi. Jika hal itu terwujud, akan ada investasi sebesar Rp 350 triliun di sana. Global Hub akan menjelma menjadi Singapura kedua, karena lokasinya yang sangat strategis yaitu di kawasan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

“Karena memang fungsinya dalah sebagai jalur kapal-kapal besar lintas benua, laut dalam dan sangat potensial. Jika ini bisa terwujud, tentunya KLU bisa menjadi pusat ekonomi baru tidak hanya bagi Provinsi NTB, namun bagi Indonesia,” kata Rum.

Pemprov NTB sudah melakukan penjajakan dengan Djarum Group dan mereka tertarik berinvestasi di Global Hub ini. Dulunya memang ada perusahaan asal Korea yang akan membangun kawasan ini, namun sayangnya masih terkendala oleh pandemi Covid-19.

“Insya Allah Djarum Group ini akan jadi. Kalau dilihat Perpresnya, bahwa Global Hub KLU ini telah ditetapkan sebagai Global Hub di Indonesia Timur atau ALKI II,” tambahnya.

 Dalam kesempatan tersebut, Rum menjelaskan terkait realisasi investasi di Provinsi NTB di tahun 2021 yang mencapai angka Rp 14 triliun.  Capaian tersebut di atas target nasional yang hanya Rp 6,5 triliun sekaligus melewati target RPJMD sebesar Rp 13 triliun. Sementara di triwulan I 2022 realisasi investasi sebesar Rp 4,1 triliun dan triwulan II sebesar Rp 5 triliun.

“Adapun target yang dibebankan ke Provinsi NTB oleh pusat sebesar Rp 18,5 triliun dan di RPJMD NTB sebesar Rp 15,3 triliun tahun 2022 ini,” sambungnya.

Ia mengaku optimis bisa memenuhi target investasi yang diberikan oleh pemerintah pusat jika melihat tren yang bagus di triwulan I dan II, dimana pada semester I-2022 ini investasi yang tercatat sudah mencapai Rp 9,1 triliun lebih.

“Kalau kita lihat di triwulan II sebenarnya lebih dari Rp 5 triliun. Ini karena adanya kendala input data di online sistem,” ujarnya.

Di tahun 2021 kemarin, investasi yang paling menonjol di NTB masih di sektor pertambangan, selanjutnya sektor ekonomi kreatif, perhubungan, infrastruktur, perdagangan dan lainnya. Jika bicara kabupaten/kota, kontribusi terbesar investasi berasal dari PT. Amman Mineral atau AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan PT. Sumbawa Timur Mining di Kabupaten Dompu.

“Selanjutnya adalah investasi di Mandalika Lombok Tengah. Ada Angkasa Pura juga di Lombok Tengah, di Lombok Timur juga ada PLTS. Namun tidak mendominasi, sebab tambang lah yang paling mendominasi,” ujarnya.

Tenaga kerja yang terserap di NTB dengan adanya investasi – investasi tersebut sekitar 6000 orang. Sebagian kecil adalah tenaga ahli dari luar, selebihnya sekitar 70 – 80 persen adalah tenaga kerja lokal. Pihaknya meminta kepada para investor untuk memberdayakan masyarakat lokal. Termasuk logistik dan akomodasi, mereka diminta menggunakan sumberdaya lokal.

Soal tenaga kerja lokal ini memang selalu menjadi atensi pemerintah daerah. Untuk proses investasi yang memakan waktu lama seperti pembangunan hotel, maka tenaga kerja lokal harus mulai disiapkan sejak dilakukan groundbreaking. Misalnya pembangunan hotel Kempinksi Bintang 5 Plus di kawasan Mekaki Lombok Barat, karena pembangunannya memakan waktu 3 – 4 tahun, maka anak-anak di kawasan setempat harus disekolahkan agar mereka memiliki skill yang dibutuhkan oleh pihak hotel saat akomodasi itu beroperasi nantinya.

“Ke depan ini, kita siapkan agar tenaga kerja lokal bisa menduduki jabatan-jabatan yang lebih strategis, tidak hanya jadi cleaning service dan satpam,” ujarnya.

Termasuk di perusahaan tambang PT. Sumbawa Timur Mining Dompu yang akan beroperasi efektif di tahun 2028 mendatang. Sehingga masih ada waktu sekitar 6 tahun sebelum tambang beroperasi untuk menyekolahkan putra-putra daerah di bidang pertambangan agar nantinya mereka bisa langsung terserap di sana.

“Perkiraan tenaga kerja di tambang Dompu bisa ribuan orang. Karena memang Sumbawa Timur Mining jika kita bandingkan dengan Freeport itu 11, 12. Itu angka yang sangat fantastis. Angka investasinya di tahap eksplorasinya saja sudah hampir habis 3 triliun. Belum mereka start eksploitasi di 2028, tentu akan banyak menyerap tenaga kerja,” terang Rum.

Sama halnya dengan pembangunan Smelter di KSB yang akan membutuhkan tenaga ribuan orang, sehingga tenaga kerja lokal harus disiapkan dengan baik. Smelter milik PT. AMNT di Sumbawa Barat investasinya sangat tinggi. Bahkan angka Rp 5 triliun investasi di triwulan II 2022 ini semuanya dari PT. AMNT saja.(ris)