Implementasi Kurikulum Merdeka Dorong Sekolah Jadi Melek Teknologi

0
Puluhan kepala sekolah mendapat pembekalan implementasi kurikulum merdeka oleh pemerintah kerjasama LPTK dan INOVASI, di Balai Karya, Rabu, 27 Juli 2022. (Suara NTB/kir)

Praya  (Suara NTB) – Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mulai ajaran baru tahun ini telah mendorong sejumlah perubahan bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Salah satu yang paling dirasakan ialah pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah maupun guru kini mendapat tambahan motivasi untuk menjadi lebih melek akan perkembangan teknologi. Pasalnya, IKM menuntut pihak sekolah lebih akrab dengan teknologi, khususnya teknologi digital.

“Mau tidak mau dengan kita menerapkan kurikulum merdeka, sekolah dituntut lebih melek akan IT (informasi dan teknologi). Bukan hanya guru, tetapi juga kita sebagai kepala sekolah,” ungkap Kepala SDN 4 Darek, Dende Fitriani, kepada Suara NTB, di sela-sela Pembekalan Implementasi Kurikulum Merdeka tahap 2 bagi Kepala SD/MI, kolaborasi pemerintah, LPTK dan Inovasi, di Balai Karya Loteng, Rabu, 27 Juli 2022

IT, ujarnya, menjadi salah satu elemen penting bagi keberhasilan sekolah dalam menerapkan kurikulum baru tersebut. Karena penyelenggaran pendidikan dituntut lebih sering bersinggunganya dengan IT. “Kalau dulu, kita bisa dikatakan jarang bersinggungnya dengan IT dalam hal penyelenggaran pendidikan. Tapi sekarang dengan kurikulum merdeka ini, kita harus lebih akrab dengan IT,” ujarnya.

Sebagai kurikulum yang baru, menjadi satu kewajaran kalau banyak sekolah yang belum sepenuhnya siap mengimplementasikan kurikulum merdeka tersebut. Walaupun pada prinsipnya sekolah sudah sangat siap. Tinggal bagaimana sekaranga pemerintah daerah bisa terus memberikan pendampingan, sehingga pada akhirnya sekolah benar-benar siap menerapkan kurikulum tersebut secara mandiri.

Kendati belum sepenuhnya memahami apa itu kurikulum merdeka, Fitriani mengaku cukup terkesan dengan kurikulum tersebut. Karena bisa dikatakan, kurikulum baru tersebut menjadi penyempurna dari kurikulum-kurikulum pendidikan sebelum-sebelumnya. Di mana prinsip dasar dari kurikulum merdeka ialah bagaimana pembelajaran bisa focus kepada siswa. Bukan pada soal pencapaian indicator pendidikan.

Sehingga sekolah menjadi lebih tertantang untuk bisa terus mengembangkan diri. Karena kurikulum merdeka memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengembangkan pola dan metode pendidikan disekolah. “Bicara kesiapan, sekolah sangat siap mengimplementasi kurikulum merdeka. Tapi tentu bimbingan dan pendampingan dari pemerintah tetap diharapkan,” tandasnya.

Terutama dari INOVASI – lembaga kerjasama Pemerintah Indonesia dan Australia, yang selama ini banyak membantu sekolah di Loteng dalam mempersiapkan diri menghadapi IKM. Tentunya diharapkan bisa terus mendampingi dan membina sekolah-sekolah yang ada di daerah ini. Supaya sekolah di Loteng bisa benar-benar siap menerapkan kurikulum merdeka.

Terpisah, Perencana Program Dinas Pendidikan (Disdik) Loteng, Harsono, mengatakan secara total ada 911 satuan pendidikan, baik itu sekolah negeri, swasta maupun madrasah di Loteng yang telah mendaftarkan diri untuk menerapkan IKM mulai tahun ajaran baru ini. Namun secara bertahap. Di mana sebagian besar sekolah tetap menerapkan kurikulum 2013, tetapi mengkombinasikan dengan kurikulum merdeka.

Hanya sebagian kecil sekolah yang sudah secara penuh mengimplementasikan kurikulum merdeka. “Karena ini kurikulum baru, penerapakan dilakukan secara bertahap. Harap pemerintah, dalam beberapa tahun kedepan kurikulum merdeka ini sudah diterapkan secara penuh disekolah-sekolah di daerah ini,” tandasnya. (kir)