38 Desa di Kabupaten Bima Dilanda Kekeringan, 10.505 Jiwa Terdampak

0
Ilustrasi daerah terdampak kekeringan. (Suara NTB/dok)

Bima (Suara NTB) – Sebanyak 38 Desa dari 11 Kecamatan di wilayah Kabupaten Bima dilaporkan dilanda kekeringan musim kemarau pada Tahun 2022. Saat ini, tercatat ada 4.810 Kepala Keluarga (KK) atau 10.505 jiwa terkena dampak.

Sebaran wilayah serta jumlah warga yang terdampak kekeringan tersebut berdasarkan pendataan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Kabupaten Bima.

“Ada 4.810 KK atau 10.505 jiwa yang tersebar di 38 Desa yang terkena dampak kekeringan,” kata pejabat BPBD Kabupaten Bima, Bambang Hermawan S.Sos, MM, kepada Suara NTB, Rabu, 27 Juli 2022.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, 38 Desa yang dilanda kekeringan tersebut tersebar pada 11 Kecamatan, antara lain seperti, Kecamatan Bolo, Woha, Palibelo, Monta, Parado, Donggo, Soromandi, Belo, Wawo, Madapangga, dan Wera. “Ada 11 dari 18 Kecamatan di Kabupaten Bima yang dilanda kekeringan,” ujarnya.

Menurut dia, dari 11 Kecamatan yang dilanda kekeringan itu, di wilayah Kecamatan Palibelo paling banyak yang terkena dampak, yakni 12 Desa. Kemudian disusul Kecamatan Woha ada 5 Desa, Kecamatan Wawo 4 Desa serta Kecamatan Madapangga dan Donggo masing-masing 3 Desa.

“Sisanya di Kecamatan Bolo dan Soromandi masing-masing ada 2 Desa. Di Kecamatan Parado, Monta dan Wera juga masing-masing 1 Desa,” katanya.

Bambang memastikan data tersebut sifatnya hanya sementara dan bisa berubah sewaktu-waktu. Sebab, berdasarkan hasil pemetaan sementara, sebaran wilayah dan jumlah jiwa yang dilanda kekeringan diprakirakan akan terus meningkat dalam beberapa waktu kedepan.

“Berdasarkan prakiraan BMKG, saat ini wilayah Kabupaten Bima sedang puncak musim kemarau,” katanya.

Sebagai upaya penanggulangan dan antisipasi kekeringan, BPBD Kabupaten Bima tetap menyediakan beberapa unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, yang setiap saat menyalurkan kebutuhan air bersih ke wilayah yang terkena dampak.

“Kami juga berkoordinasi dengan OPD lainnya ntuk membantu menyalurkan air bersih di wilayah yang terkena dampak kekeringan. Distribusi air bersih 5.000 liter per satu kali penyaluran,” ujarnya.

Bambang meminta serta mengimbau Pemerintah Desa (Pemdes) serta Pemerintah Kecamatan untuk segera melaporkan ke pihaknya apabila telah terjadi kekeringan di wilayahnya dengan melayangkan surat resmi disertai dengan jumlah KK dan jiwa yang terkena dampak.

“Jika terjadi kekeringan, segera laporkan ke BPBD, disertai jumlah KK atau jiwa yang terkena dampak, sehingga bisa segera disalurkan kebutuhan air bersih,” pungkasnya. (uki)