Kasus Pernikahan Usia Dini di Lobar akibat Kemiskinan

Giri Menang (Suara NTB) – Kasus pernikahan dini di Lombok Barat (Lobar) masih tinggi. Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus pernikahan dini ini, dominan akibat faktor ekonomi atau kemiskinan.

Berdasarkan data kasus yang ditangani Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Lobar, 80 persen pernikahan usia anak atas dasar latar belakang ekonomi. “Kalau saya ditanya, apakah kemiskinan itu menyebabkan pernikahan anak, atau pernikahan anak itu menyebabkan kemiskinan. Dia sama, dia bisa di depan dan bisa di belakang. Kan seperti lingkaran setan, kalau saya sering bilang, itu lingkaran iblis,” tegas Sekretaris DP2KBP3A Lobar, Erni Suryana, Selasa, 26 Juli 2022.

Erni Suryana. (Suara NTB/ist)

Dijelaskan, anak-anak yang menikah ini, jelas dia rata-rata dari korban perkawinan anak. Misalnya orang tua menikah di usia anak, lalu dia cerai. Kemudian anaknya dititipkan di kakek dan nenek, lalu orang tuanya nikah lagi. Lantas anak ini merasa tidak bahagia, akhirnya dalam fikiran si anak timbul ingin menikah.

Karena merasa dengan menikah, dia bisa bahagia, ada orang melindungi. Dari sisi ekonomi ada yang memenuhi, kemudian menikah. Namun apa kemudian yang terjadi, tak lama menikah dan hamil, mereka bercerai.

Ia menyebut mengacu dari sisi persentase, dari kasus-kasus yang ditangani pihaknya, bisa dikatakan 80 persen itu disebabkan kemiskinan. “Dari kasus-kasus pernikahan anak yang kami tangani, kita belas (pisah) 80 persen akibat faktor ekonomi (kemiskinan),” kata dia.

Terbaru pihaknya menangani, anak kelas 2 SMP, tidak punya ayah. Sedangkan Ibunya di Arab Saudi. Kemudian ia tinggal di kakeknya, lalu kakeknya menikah lagi. Sehingga anak ini pun menikah. “Tapi bisa kita belas, tapi kemana anak ini dipulangkan,” jelas dia.

Yang perlu menjadi perhatian pemerintah kata dia, bagaimana penanganan tuntas bagi anak korban pernikahan dini. Pihaknya sendiri sudah MoU dengan Ponpes Ass’adah di Labuapi. Sejauh ini beberapa anak yang dititipkan di ponpes ini. Bahkan sejumlah anak ini pun sudah dikuliahkan secara gratis.

“Tapi ini kan sifatnya swadaya, pemerintah perlu tuntaskan,” ujarnya. Karena kebijakan memisah anak usia dini, namun belum ada program tindaklanjutnya. Ia berharap agar sekolah-sekolah atau ponpes di Lobar mau menerima anak-anak yang korban pernikahan dini tersebut. (her)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Petani Porang di Sekotong Tengah Keluhkan Ruas Jalan Rusak

0
Akibat jalan rusak di wilayah terisolir Dusun Serero Desa Sekotong Tengah kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar), menghambat segala aktivitas warga setempat. Dimana warga sakit...

Latest Posts

Petani Porang di Sekotong Tengah Keluhkan Ruas Jalan Rusak

Akibat jalan rusak di wilayah terisolir Dusun Serero Desa...

Peredaran Dua Kilogram Narkoba di NTB Digagalkan

Mataram (Suara NTB) - Polda NTB menggagalkan peredaran narkoba...

Polisi Kantongi Hasil Audit Kerugian Negara Kasus Dana Kapitasi Puskesmas Babakan

Mataram (Suara NTB) - Polresta Mataram mengaku sudah menerima...

Kemendikbudristek dan Polda NTB Luncurkan Sekolah Satu Atap di Teluk Gok

Mataram (Suara NTB) - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan...