Kantor Bahasa Provinsi NTB Gelar Pelatihan Guru Master Se-NTB

0
Foto bersama kegiatan pelatihan Guru Master Se-NTB yang diadakan Kantor Bahasa NTB. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kantor Bahasa Provinsi NTB mengambil peranan penting melaksanakan rangkaian Revitalisasi Bahasa Daerah. Untuk memperkuat implementasi Revitalisasi Bahasa Daerah di NTB, Kantor Bahasa Provinsi NTB menggelar kegiatan Pelatihan Guru Master Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Tunas Bahasa Ibu pada Senin, 25 Juli 2022 sampai dengan Jumat, 29 Juli 2022 di Hotel Lombok Raya dengan menyasar 251 guru Mulok dan Bahasa Indonesia Tingkat SD dan SMP Se-Provinsi NTB.

Pada kesempatan ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, menyampaikan apresiasi dan harapan terkait implementasi Revitalisasi Bahasa Daerah.

Menurutnya, sebagai guru master, guru-guru yang terlibat harus mempunyai kompetensi lebih. Kegiatan ini sangat penting sebagai upaya bersama merevitalisasi bahasa daerah yang dimiliki.

“Seorang guru mempunyai peran yang strategis dan vital. Saya memahami bahwa mempertahankan identitas bangsa melalui bahasa ini tentu tidak mudah. Untuk itu kita harus terus mencari strategi yang tepat dan  nyata untuk mewujudkan penguatan Revitalisasi Bahasa Daerah dan mempertahankan keaslian bahasa daerah kita. Ini menjadi wadah bersama yang baik untuk meningkatkan kompetensibahasa daerah yang terstruktur dan terarah,” ucap Aidy.

Ia menjelaskan penanaman karakter menjadi keunggulan tersendiri dan harapannya seluruh eleman masyarakat di NTB sadar akan penanaman dan eksistensi bahasa daerah dengan penuh kebanggaan.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa NTB, Puji Retno Hardiningtyas dalam sambutannya menyampaikan Revitalisasi Bahasa Daerah di NTB adalah tipe model B di mana implementasi penguatan nilai-nilai bahasa daerah dilaksanakan dengan berbasis sekolah.

Dalam kegiatan ini akan ada lima tahapan, yaitu Pra-Koordinasi dan DKT Revitalisasi Bahasa Daerah, Koordinasi dan DKT Revitalisasi Bahasa Daerah, Pelatihan Guru Master, Pengawasan dan Evaluasi Pelaksanaan Model Pembelajaran di Sekolah, dan Festival Tunas Bahasa Ibu.

Tujuan akhir dari program revitalisasi bahasa daerah ini adalah agar para penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah dan memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa daerah dengan penuh suka cita melalui media yang mereka sukai.

Di samping itu, revitalisasi bahasa daerah juga bertujuan agar kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah terjaga; bahasa dan sastra daerah menemukan fungsi dan ranah barunya; dan dapat tercipta ruang kreativitas dan kemerdekaan bagi para penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasanya.

Di Provinsi NTB, revitalisasi bahasa daerah dilaksanakan dengan menggunakan model revitalisasi berbasis sekolah. Artinya, pewarisan bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo dapat diperkuat secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah. Sehubungan dengan itu pula, Kantor Bahasa Provinsi NTB sebagai unit pelaksana teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, melakukan berbagai upaya menyukseskan revitalisasi bahasa daerah, seperti menyelenggarakan pelatihan guru master dan menyusun model pembelajaran bahasa daerah di NTB.

Pelaksanaan kegiatan selama lima hari ini dibagi ke dalam enam kelas dengan susunan kelas SD Bahasa Sasak, SD Bahasa Samawa, SD Bahasa Mbojo, SMP Bahasa Sasak, SMP Bahasa Samawa, dan SMP Bahasa Mbojo. Sebanyak 18 narasumber model pembelajaran, mulai dari praktisi, dosen, pegiat bahasa, pegiat sastra, praktisi, dan pakar bahasa dan sastra ikut terlibat dalam pelatihan ini.

“Pelatihan Guru Master ini tujuannya berkelanjutan dan terarah. Para guru master yang dilatih agar mengimbaskan model pembelajaran yang didapatkan ke sekolah-sekolah dan rekan guru-guru lainnya. Buku Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Sasak, Samawa, dan Mbojo), baik untuk tingkat SD maupun SMP, yang tersusun ini merupakan salah satu sarana untuk menyukseskan revitalisasi bahasa daerah,” ujar Retno.

Dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding); dari model ceramah ke pendekatan pembelajaran penyingkapan/penemuan (discovery atau inquiry learning); dari belajar individual ke kooperatif, serta terkonstruksinya pengetahuan siswa.

“Namun, tentu saja di dalam model pembelajaran yang kami sajikan dalam buku ini masih banyak yang perlu dikembangkan. Kami berharap, penguatan Revitalisasi Bahasa Daerah melalui Pelatihan Guru Master ini dapat diterima, dilaksanakan, dan dikembangkan bersama,” tutup Puji Retno. (ron)