Jadikan Museum Daerah sebagai Sarana Edutainment

0
Sutan Syahril bersama pemateri dari Kemenristek Dikti, budayawan dan peserta sosialisasi pemanfaatan museum daerah dan kajian koleksi museum oleh UPT Museum Daerah Dinas Dikbud Sumbawa.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Museum daerah mesti dijadikan sarana edukasi entertainment (edutainment). Pelayanan publik harus lebih ditingkatkan untuk menambah angka kunjungan.

Sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Dikbud Sumbawa, melalui, Sutan Syahril usai sosialisasi pemanfaatan museum daerah dan kajian koleksi museum oleh UPT Museum Daerah Dinas Dikbud Sumbawa. Sosialisasi diikuti puluhan Kepala Sekolah dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), kemudian praktisi kebudayaan, serta budayawan.  “Tugas museum itu ada beberapa seperti bidang pengkajian, pendidikan dan entertainment Jangan sampai ada stigma museum itu kuno,” terangnya.

Dipilihnya Kepala Sekolah sebagai peserta, kata Sutan, karena dalam kurikulum merdeka belajar terdapat enam dimensi. Salah satunya ada kebhinekaan global. Yang masuk dalam elemen mengenal dan menghargai budaya. Dan suplemennya mendalami budaya dan identitas budaya. “Sengaja kami undang Kepala Sekolah, setelah berakhirnya kegiatan ini ada referensi pada saat sekolah membuat project P5. Nanti bisa ambil tema kearifan lokal,” ujarnya.

Perwakilan Kemenristekdikti, Yeni Asmawati dalam pemaparannya menjelaskan museum bisa dijadikan sarana edukasi dan hiburan. Sehingga, keberadaan museum bukan hanya untuk tempat belajar bagi anak sekolah, guru dan kepala sekolah, tapi juga untuk masyarakat umum. Untuk itu, pengenalan anak didik terhadap museum sangat penting. Sebab di museum bisa menjadi sumber pendidikan terkait kebudayaan. “Harus kita kenalkan anak didik dengan museum. Harus ada guru juga yang mengajarkan muatan lokal di sekolah,” tegasnya.

Yeni juga menyarankan Museum Daerah Sumbawa lebih meningkatkan pelayanan publik. Untuk menambah angka kunjungan. Berbagai cara bisa dilakukan untuk meningkatkan kunjungan ke museum, bisa dengan menambah koleksi benda, kerjasama dengan sanggar tari, komunitas teater, serta lainnya. “Intinya bagaimana caranya kita menarik minat untuk orang mau datang ke museum. Selain itu Kepala Sekolah juga harus bisa mengangkat anak-anak sekolah di bidang budaya. Bukan hanya eksak. Kita harus bisa gali potensi anak didik disekitar kita tentang budaya,” tandasnya.

Praktisi Kebudayaan, Serius Zibua memberi pemaparan terkait pemanfaatan museum dimata milenial. Menurutnya, datang ke museum bukan hanya sekedar melihat benda sejarah. Tapi bisa sebagai pusat edukasi. Sejauh ini masyarakat belum sadar terhadap museum sebagai pusat edukasi. Museum bisa dikemas secara luar biasa, biar orang yang luar biasa juga mau datang. Perlu juga buat pojok literasi di museum. Sediakan buku dongeng yang isinya gampang dimengerti oleh anak. Dengan penataan museum yang lebih baik, dinilai bisa mengajarkan anak zaman sekarang untuk mau datang ke museum. “Bisa dibuat ruang teater, ruang menyalurkan bakat. Ini bisa jadi terobosan di museum. Supaya tercapai museum sebagai tempat yang mengedukasi,” sebutnya. (arn)