Elpiji Subsidi Dijual Bebas dan Ilegal, Harganya Lampaui HET

Bima (Suara NTB) – LPG ukuran 3 kilogram diduga dijual dengan bebas dan ilegal di wilayah Kabupaten Bima. Harga jualnya melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Informasi yang dihimpun Suara NTB, praktek penjualan LPG melon tersebut seperti di wilayah Kecamatan Woha, Wawo dan Bolo. Harga jual persatuannya mencapai kisaran antara Rp25.000 hingga Rp30.000.

Padahal HET yang ditetapkan Pemerintah berdasarkan jarak yang ditempuh, harga LPG 3 kilogram hanya Rp15.000 dengan jaraknya 0-60 kilometer. Rp15.750 jarak 60-120 kilometer dan jarak diatas 120 kilometer harganya Rp16.500.

Bupati Bima melalui Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Bima, Irfan Dj, SH membenarkan hal itu. Kata dia, praktek tersebut ditemukan pihaknya di wilayah Kecamatan Woha saat melakukan Inspeksi mendadak (sidak) belum lama ini.

“Memang ditemukan di wilayah Kecamatan Woha saat Sidak kemarin. Dan kita akan lakukan pembinaan sesuai aturan yang berlaku,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 26 Juli 2022.

Berdasarkan temuan lanjut dia, ada oknum-oknum tertentu atau pangkalan-pangkalan ilegal yang membeli LPG subsidi di pangkalan resmi sesuai HET. Hanya saja, dijual kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Dijual juga kepada warga yang tidak termasuk dalam kouta subsidi. Hal ini membuat stok LPG di pangkalan cepat habis dan harganya tinggi,” ujarnya.

Kata dia, munculnya hal itu, lantaran penggunaan atau pemakaian gas di Kabupaten Bima terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu, dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk meraih keuntungan.

“Memang tidak bisa dihindari, saat ini konversi minyak tanah ke gas terus meningkat dan hal ini dimanfaatkan olehoknum-oknum tertentu untuk meraup keuntungan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, LPG 3 kilogram tidak hanya digunakan warga untuk kebutuhan rumah tangga, namun juga digunakan oleh petani untuk menghidupkan mesin pengairan, karena harga bensin dianggap mahal, sehingga mereka beralih menggunakan gas.

“Selain itu dimanfaatkan juga peternak, untuk menghangatkan hewan ternak dan mereka tidak lagi menggunakan listrik,” ujarnya.

Untuk mencarikan solusi, Irfan menambahkan pihaknya akan menggelar pertemuan dengan para agen, penyalur LPG 3 kilogram di Kabupaten Bima. Mempertanyakan stok hingga kuota penerima manfaat LPG 3 kilogram karena di lapangan masih dianggap kurang hingga langka. “Ini langkah dan upaya yang dilakukan kami dalam waktu dekat ini,” pungkasnya. (uki)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Meriahkan Hari Kemerdekaan, BRI Rangkul Pelaku UMKM dalam “BRILian Independence Week” 

0
Jakarta (suarantb.com) Perayaan HUT Republik Indonesia (RI) ke-77 yang dilaksanakan oleh berbagai pihak berlangsung meriah, tak terkecuali PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang...

Latest Posts

Meriahkan Hari Kemerdekaan, BRI Rangkul Pelaku UMKM dalam “BRILian Independence Week” 

Jakarta (suarantb.com) Perayaan HUT Republik Indonesia (RI) ke-77 yang...

Asyik Swafoto Wisatawan Kelahiran Israel Tewas Terjatuh dari Puncak Rinjani

Selong (Suara NTB)-Sekitar pukul 05.30 Wita, Jumat tanggal 19...

JNE Raih 2 Penghargaan Bergengsi Kriteria Pelayanan Pelanggan

Jakarta (Suara NTB) -Kinerja maksimal dalam seluruh aspek yang...

Yuk Belajar Cara Pengiriman Uang ke Luar Negeri yang Mudah & Murah

Pengiriman uang ke luar negeri di zaman serba digital...

Kado Kemerdekaan ke 77 RI, Sistem Transmisi Bima-Sape Operasi Penuh

Mataram (suarantb.com)- Tanggal 17 Agustus 2022, bertepatan dengan perayaan...