UPK Montong Gading, Berkembang dari Modal Rp2 Miliar Jadi Rp5 Miliar

0
Kantor dan Unit Usaha UPK Montong Gading yang masih eksis hingga sekarang ini. (Suara NTB/rus)

Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Montong Gading Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menjadi salah satu dari sekian unit kegiatan dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan yang terbilang masih tersisa. Dana yang dikelola awal Rp 2 miliar se Kecamatan Montong Gading sejak 2014 silam itu kini sudah bisa berkembang menjadi Rp 5 miliar.

KISAH sukses UPK Montong Gading ini disampaikan Koordinator UPN PNPM Mandiri Pedesaan wilayah NTB, Sadli. Sadli berkeyakinan, jika amanah dijalankan dengan baik, maka hasilnya pun akan baik. Hal ini dibuktikan dengan kerja profesional yang telah dilakukan bersama pengelola-pengelola di wilayah Kecamatan Montong Gading.

Saat ini, kata Sadli, anggota UPK Montong Gading ini mencapai 3 ribu orang lebih. Dana sosial itu telah berkembang dan membina kelompok perempuan sebanyak 279. Pengelolaan dana masyarakat tersebut dilaksanakan terbuka. Di mana, setiap tahunnya digelar laporan melalui Musyawarah Antar Desa (MAD) sebagai pertemuan tertinggi guna mempertanggunjawabkan pengelolaan anggaran.

MAD yang digelar sekali dalam setahun inni menghadirkan anggota, perwakilan dari pemerintah Kecamatan, desa, hingga masing-masing ketua kelompok. Cara-cara yang telah dilakukan ini berbuah manis, sehingga kini UPK Montong Gading tumbuh dan berkembang dengan baik.

Dalam menjalankan roda usahanya bermodal dana UPK PNPM MP, Sadli memastikan telah ia penuhi dengan dasar hukum yang kuat. Sebagaimana surat dari Menkokesra tahun 2014 silam, bisa dikembangkan melalui badan hukum, perseroan terbatas atau koperasi.

UPK ini pun dibuatkan badan hukum sesuai aturan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Setelah berbadan hukum, aktivitas pengembangan usaha tidak saja pada bidang simpan pinjam. Akan tetapi kini sudah  bisa berkembang menjadi UPK Mart. Sadli menyebutnya dengan bisnis ritel modern.

Pilihan bisnis ritel modern ini beralasan karena sekarang ini telah terjadi pergeseran pola belanja masyarakat. Sadli mengatakan, dibangunnya UPK Mart ini dengan harapan bisa makin mendekatkan masyarakat dengan akses penyedia kebutuhan sehari-hari.

Selanjutnya dikatakan Sadli, komitmen bisnis UPK juga menyediakan dana sosial. Sebanyak 15 persen dari keuntungan itu  tetap disalurkan ke dana sosial. Alhasil, dari penyisihan dana sosial itu sejauh ini telah mencapai Rp 1 miliar yang sudah disalurkan.

“Belanja di UPK Mart sambil bersedekah untuk dhuafa,” ucapnya. Produk y angdial dari UPK Mart juga diambil dari industri rumahan anggota yang menjadi binaannya. Informasi itu disampaikan terbuka ke seluruh anggota. Tujuannya agar masyarakat tahu ada alokasi dana sosial setiap tahun untuk masyaraat kurang mampu.

Dari dana sosial tersebut, alokasi terakhir tahun 2021 lalu yang disalurkan tahn 2022 ini telah diperuntukkan bagi 750 paket sembako untuk masyarakat miskin. Bantuan anak yatim 250 orang, dan bantuan pemasangan 8 unit KWH listrik juga untuk warga yang tak mampu.

Ditambahkan, saat ini jumlah UPK di NTB ada 70 unit. Dari jumlah itu hanya 49 unit yang aktif. Khusus di Lotim, ada 9 UPK dan dan 8 diantaranya masih aktif. Sisanya yang tidak aktif itu katanya sudah tidak ada lagi. (rus)