Stabilkan Produk Hortikultura, Petani Diimbau Atur Jadwal Tanam

0
Seorang petani sedang menyemprot tanaman cabai di Lotim. Distan Lotim mengimbau petani mengatur jadwal tanam produk hortikultura untuk menjamin ketersediaan stok di pasaran (Ekbis NTB/dok) 

SELAMA beberapa bulan terakhir, harga sejumlah komoditi hortikultura cukup menggiurkan. Mulai dari cabai rawit, cabai besar dan bawang merah. Cabai rawit ini sudah tembus Rp 70 ribu per Kilogram, cabai besar Rp 80 ribu per Kilogram dan bawang merah Rp 90 ribu per Kilogram.

Lonjakan harga sejumlah komoditi hortikultura ini dinilai karena pengaruh cuaca yang tidak menentu. Dinas Pertanian mengimbau petani hendaknya mengatur jadwal tanamnya. Hal ini dimaksudkan agar produk-produk hortikultura yang kerap mengalami lonjakan harga ini tetap bisa tersedia.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan Lotim, Neni Yuliawati akhir pekan kemarin menyampaikan, pihaknya sudah keliling ke sentra-sentra produksi hortikultura di Lotim. Akibat kondisi cuaca, kemarau basah tahun ini membuat tanaman hortikultura banyak yang kurang bagus.

“Saya sudah keliling dan melihat banyak cabai yang tidak bisa berbuah,” ungkap Neni. Akibatnya, produksi  hortikultura khususnya cabai dan bawang merah ini menurun drastis. Kondisi cuaca tahun ini di luar prediksi. Kemarau sangat basah ini membuat cabai tidak bisa tumbuh dengan baik.

Komoditi hortikultura, sambungnya memang sangat berpegaruh pada kondisi alam. Semakin baik kondisi cuaca, maka semakin bagus produksinya. Cuaca yang tidak menentu ini memang menjadi tantangan bagi petani. Hanya petani yang bisa memanfaatkan teknologi dan menguasai pola tanam yang bagus yang berhasil dan tanamannya selamat hingga mendapatkan hasil jual yang lumayan.

Harga yang bagus ini diakui membuat petani tersenyum. Hanya saja tidak semua petani yang bisa melakukannya. Itulah sebabnya, petani disarankan terus memperbaharui informasi mengenai cuaca yang disampaikan Badan Meteorlogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Tidak semua petani memang bisa melakukan, itulah yang sebenarnya kondisi alam ini menjadi kendala terbesar,” paparnya. Tidak semua petani yang punya kemampuan menghadpai tantangan alam. Menghadapi tantangan alam itu, salah satu kuncinya adalah menggunakan teknologi dan ilmu budidaya yang baru.

Untuk tanaman bawang, petani disarankan menanam bawang biji. Pilihan bawang biji dianggap bisa menekan biaya usaha tani. Pasalnya, dengan harga bibit yang sekarang akan menambah tingginya biaya produksi. Hitungannya, dengan harga Rp 35 ribu per kilogram maka bisa tembus Rp 90 juta perhektar untuk bibit.  Belum lagi untuk obat-obatan. (rus)