Bukan Imbas Zonasi, Kurangnya Siswa Baru karena Banyak Masuk Pesantren

0
Muhammad Humaidin. (Suara NTB/Jun)

Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdas) Kota Bima mengklaim kurangnya siswa baru yang mendaftar bukan karena imbas sistem zonasi, tapi kebanyakan wali murid mendaftarkan anaknya ke pesantren atau madrasah.

Klaim tersebut menanggapi terus berkurangnya siwa baru yang mendaftar di SMPN 7 Kota Bima, sehingga pihak sekolah terpaksa menutup sebagian Ruang Kelas Belajar (RKB).

Kabid Dikdas Dikbud Kota Bima M. Humaidin M.Pd menegaskan peserta didik baru ajaran tahun ajaran 2022-2023 sudah berdasarkan jalur zonasi yang disesuaikan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 1 tahun 2021. “Sistem zonasi yang diterapkan sudah sesuai Permendikbud,” katanya akhir pekan kemarin.

Ia mengaku, berkurangnya siswa yang mendaftar tidak hanya di SMPN 7, namun  rata-rata sekolah di Kota Bima juga mengalami hal yang serupa. Salahsatu penyebabnya yakni output siswa yang tamat SD terus berkurang. “Selain itu lulusan SD yang masuk SMP juga cenderung melanjutkan pendidikan ke jalur Pesanteran dan Madrasah,” ujarnya.

Dalam meningkatkan jumlah siswa yang mendaftar, Dikbud berharap kedepan pihak sekolah umum bisa melakukan inovasi atau terobosan agar wali murid dan calon siswa baru tertarik untuk mendaftar ke sekolahnya masing-masing. “Inovasi harus terus dilakukan. Seperti motede pembelajaran hingga program atau kegiatan ekstrakurikuler,” harapnya.

Seperti diberitakan Suara NTB sebelumnya sejumlah RKB di SMPN 7 Kota Bima terpaksa ditutup. Penutupan RKB sekolah yang berada di Kelurahan Jatiwangi Kecamatan Asakota itu karena minimnya siswa baru yang mendaftar akibat kebijakan sistem zonasi.

Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 7 Kota Bima, Sa’adatul Hayat, S.Pdi, M.Pd, mengatakan tahun ajaran 2022-2023 hanya ada 62 siswa baru yang mendaftar. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit ketimbang ketersediaan 15 RKB. “Siswa yang mendaftar tahun ini menurun dan jauh dari target alokasi 15 RKB,” ujarnya, kepada Suara NTB, belum lama ini.

Ia mengaku menurunnya siswa yang mendaftar di SMPN setempat tidak hanya tahun ajaran baru 2022-2023, namun dari tahun ke tahun, jumlah siswa yang mendaftar menurun dratis akibat sistem zonasi pendidikan yang telah diterapkan. “Sistem zonasi yang diterapkan tidak berjalan semestinya,” katanya.

Akibat kurangnya siswa yang mendaftar, Ia mengaku pihaknya terpaksa menutup atau tidak mengfungsikan sebagian RKB. Karena jumlah siswa baru yang mendaftar tersebut hanya akan ditampung 3 sampai 4 RKB. “Jika kondisi ini terus terjadi tidak tertutup kemungkinan sekolah ini akan bubar alias tidak beraktivitas lagi,” katanya.

Dalam menghadapi kondisi yang terjadi di sekolah, Ia meminta agar sistem zonasi bisa di perketat lagi penerapannya. Tidak ada lulusan SD terdekat dengan SMPN 7 Kota Bima yang keluar jalur lagi. “Kami ingin lulusan SDN Songgela, SDN Tolotongga, SDN Tambana, SDN Jatiwangi dan Lela yang dekat dengan SMPN 7 bisa mendaftar di sekolah kami,” harapnya.

Ia menambahkan, meski secara aturan sistem zonasi harusnya sekolahnya sudah terpenuhi kebutuhan siswa baru. Namun faktanya tidak sedikit lulusan SD terdekat yang melanjutkan pendidikan ke sekolah lain di luar zona.

“Malah orang tua cenderung milih sekolah di luar zona sesuai keinginannya. Kami tentu tidak bisa memaksakan kehendak terkait keinginan wali murid ini,” ujarnya. (uki)