Wujudkan NTB Jadi Pusat Fesyen Muslim Nasional

0
Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah (Suara NTB/alfan)

Mataram (Suara NTB) – Indonesia ingin mejadi pusat busana muslim dunia karena sumberdaya dan kreativitas para desainer nasional yang sudah sangat memadai. Sementara itu Provinsi NTB yang memiliki sumberdaya dan warisan tenun juga ingin menjadi pusat fesyen muslim nasional guna mendukung keinginan Indonesia tersebut.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Provinsi NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan, potensi tenun di NTB sangat besar. Dimana setiap kabupaten/kota, baik di Lombok maupun Sumbawa memiliki ciri khas tersendiri dan keunikan yang menonjol sehingga punya daya tarik yang bagus untuk konsumen.

“Harapannya yaitu NTB bisa menjadi salah satu pusat busana muslim di Indonesia. Karena Indonesia sendiri punya cita-cita untuk bisa mejadi pusat busana muslim dunia. Agar bisa tercapai, maka kita di daerah bisa melakukan penggairahan,” terang Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah kepada Suara NTB Jumat, 22 Juli 2022.

Niken mengatakan, perhatiannya pada kain tenun lokal menjadi salah satu bagian dari program pembinaan dan pelestarian kerajinan daerah. Lantaran tenun ini menjadi warisan yang tak ternilai   harganya, maka semua pihak sudah semestinya memberi atensi pada pelestarian kain tenun ini. Salah satunya dengan menggencarkan kembali penggunaan kain tenun sebagai busana kantor untuk ASN.

Kebijakan itu lahir selain untuk merawat tradisi tenun lokal, juga untuk menumbuhkan ekonomi para penenun yang selama ini menggantungkan hidupnya di aktivitas menenun.

“Semakin banyak yang menggunakan busana tenun sehari-hari, semakin banyak kain yang ditenun dan pada akhirnya kesejahteraan pengrajin semakin meningkat,” ujar Ketua TP – PKK NTB ini.

Selain menggalakkan tenun lokal untuk bisana ASN Pemprov di hari-hari tertentu, Dekranasda NTB juga menggiatkan kembali lomba peragaan busana tenun lolal. Hal ini untuk mengenalkan khazanah kain tenun kepada masyarakat, juga untuk mengasah kreativitas pada desainer lokal agar naik kelas.

“Tahun ini kami membuka pendaftaran secara nasional. Kita mengajak masyarakat luar NTB untuk ikut lomba menggunakan kain khas NTB. Sudah saatnya juga desainer kita bisa naik ke level nasional. Hal itu terbukti dari keterlibatan mereka di acara Muffest dan Indonesian Fashion Week bulan April kemarin di Jakarta,” ujarnya.

Niken mengatakan, saat itu ada enam desainer lokal yang mengambil bagian dalam Muslim Fashion Festival tersebut. Diantaranya Diyah Kahar, Herry Kuncoro, Andre dan lainnya. Mereka membawakan tenun NTB dengan corak desain khas lokal seperti pantai, Sirkuit Mandalika, joki cilik dan lainnya.

“Yang istimewa tahun ini yaitu kita mengajak anak-anak muda NTB untuk tampil menunjukkan hasil karyanya di pentas nasional. Ini belum pernah sebelumnya dan mereka jadi memiliki pengalaman baru,” katanya.

Dalam event tersebut, NTB mendapatkan kehormatan untuk tampil di sesi pertama setelah pembukaan. Tema umum yang ditampilkan di ajang ini yaitu “Sport Tourism” sebab daerah ini dipilih oleh pusat sebagai destinasi event olahraga selain tentunya wisata alam.

Menurutnya, produksi kain tenun di NTB dilakukan secara tradisional dan dengan ATBM atau alat tenun bukan mesin. Produktifitas mereka saat ini tergantung pasar. Jika ada permintaan, maka produksi kain tenun dilakukan, sehingga sangat diharapkan masyarakat NTB membeli dan menggunakan tenun lokal untuk menggairahkan pasar.

“Kita terus berupaya agar tenun NTB semakin banyak yang mengenal dan menggunakannya,” harapnya.(ris)