Pemkot Bentuk Satgas Penanganan PMK

0
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram mengecek kondisi kesehatan hewan ternak di Kelompok Ternak di Kelurahan Dasan Cermen. Pemkot Mataram telah membentuk Satgas Penanganan Bencana Non Alam Mendesak Penyakit Mulut dan Kuku.  (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah pusat telah menetapkan wabah penyakit mulut dan kaki sebagai bencana non alam. Langkah antisipatif mulai dilakukan oleh Pemkot Mataram untuk mencegah penularan secara masif. Salah satunya dengan membentuk satuan tugas penanganan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Mahfuddin Noor menjelaskan, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) telah ditetapkan sebagai bencana non alam terhadap hewan ternak. Langkah yang dilakukan sesuai arahan pemerintah provinsi yakni dengan membentuk satgaas Penanganan Keadaan Mendesak Bencana Non Alam Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak di Kota Mataram.

Mahfuddin Noor

Satgas ini terdiri dari lintas organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, dan relawan. Tugasnya adalah mencegah eskalasi penularan, memantau,vaksinasi dan penyemprotan cairan disinfektan di kandang peternak. “Di Kota Mataram sudah terbentuk Satgas Penanganan PMK,” kata Mahfuddin.

Satgas ini memiliki kesamaan seperti Satgas Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Non Alam Covid-19. Hanya saja kata Mahfuddin, fokus yang ditangani pada hewan ternak. Selain sektor pencegahan dan penanganan, tugas yang dilakukan adalah komunikasi,informasi, dan edukasi. Edukasi akan dilakukan kepada masyarakat terutama ke peternak, supaya mengawasi ternak agar tidak terdampak PMK sesuai prosedur.

Hewan ternak yang terpapar PMK dilakukan penanganan melalui vaksinasi, penyemprotan disinfektan, pemberian vitamin dan isolasi. “Hewan ternak juga perlu diisolasi jika terjangkit PMK,” ujarnya.

Mahfuddin mengakui, populasi terhadap hewan ternak di Kota Mataram relatif banyak atau mencapai seribu ekor lebih. Akan tetapi, titik kandangnya relatif sedikit jika dibandingkan dengan kabupaten lain di NTB. Oleh karena itu, satgas cukup mengawasi titik pemotongan sapi serta mengidentifikasi jumlah hewan ternak yang terkena penyakit mulut dan kuku. Selanjutnya, dilakukan intervensi penanganan sesuai prosedur yang ditetapkan pemerintah. (cem)