Dua Desa di Bima Masih Lestarikan Doa Dana

0
Ritual do'a dana di Desa Sangga Kecamatan Lambu.(Suara NTB/Ist)

Bima (Suara NTB) – Warga dua desa di Kabupaten Bima, yakni Sangga Kecamatan Lambu dan Rasabou Kecamatan Tambora hingga kini masih melestarikan do’a dana, tradisi tolak bala hingga syukuran hasil panen.

Kepala Desa Sangga Kecamatan Lambu Syamsuddin Yusan S.Sos mengatakan, do’a dana akan digelar beberapa kali saat memasuki musim tanam hingga setelah panen tanaman seperti padi, jagung hingga bawang merah.

Do’a dana di Desa Rasabou Kecamatan Tambora.(Suara NTB/Ist)

“Selama musim tanam sampai dengan musim panen do’a dana dilakukan selama 3 kali, yakni do’a kamabu oka ranggala, do’a keselamatan atau tola bala dan do’a maru menta,” katanya kepada Suara NTB, baru-baru ini.

Ia mengaku warga menggelar do’a dana sebagai bentuk pengharapan ridho kepada Allah SWT agar hasil panen melimpah. Kemudian penolakan bala hingga bencana lahan dari serangan hama ulat dan tikus. “Do’a dana ini merupakan tradisi dari turun temurun,” ujarnya.

Sementara do’a dana yang digelar di Desa Sangga berbeda dengan di Desa Rasabou Kecamatan Tambora. Do’a dana yang digelar warga yang berada di lereng gunung Tambora ini, justru dilakukan setelah masa panen.

“Do’a dana di Rasabou sebagai bentuk ungkapan syukuran selesai panen. Biasanya kita melakukannya selama 3 hari berturut-turut dengan lokasi yang berbeda-beda,” kata seorang warga, Anhar SE.

Lebih lanjut Ia mengaku, pada hari pertama lokasi do’a dana di ujung kampung paling barat. Kemudian hari ke dua dipusatkan di pertengahan kampung serta hari ke tiga di ujung kampung paling timur. Waktu do’a untuk hari pertama dan kedua pada sore hari atau sekira pukul 17.30 wita.

“Untuk hari ketiga atau terakhir waktunya pagi hingga sore hari. Dalam rangkaian doa ini juga digelar berbagai kegiatan kesenian tradisional seperti mpaa gantao dan genda,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, warga diharuskan juga membawa bekal berupa bubur nasi (kawiri) selama dua hari pertam dan hari terakhir dianjurkan untuk membawa nasi kuning. Berbagai bekal yang disiapkan secara mandiri ini akan dimakan bersama-sama. “Untuk acara penutupan doa ini biasanya ada penyembelihan hewan ternak berupa kambing atau sapi,” pungkasnya. (uki)