Lobar Canangkan 10 Desa Model Ramah Perempuan dan Anak

0
Wabup Lobar, Hj Sumiatun didampingi Sekda, bersama kades Sesaot Yuni Hari Seni dan para Kades dan kepala OPD saat pencanangan 10 desa model DRPPA di Purekmas Sesaot, Rabu, 20 Juli 2022. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – 10 Desa di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) terpilih sebagai model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) tahun 2022. Sepuluh desa terpilih menjadi model DRPPA tersebut adalah, Desa Sesaot, Desa Dasan Geria, Desa Bengkel, Desa Kekait, Desa Senggigi, Desa Kediri, Desa Kuripan, Desa Suka Makmur, Desa Jembatan Kembar dan Desa Taman Baru.

Pencanangan 10 desa model DRPPA itu dilakukan oleh wakil Bupati Lobar, Hj Sumiatun di lokasi wisata pusat rekreasi masyarakat (Purekmas) Desa Sesaot, kecamatan Narmada. Kegiatan itu digelar Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A).

Wabup Hj. Sumiatun saat pencanangan di Purekmas Sesaot, Rabu, 20 Juli 2002 mengatakan, Kementrerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bersama dengan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KemenDesa PDIT) telah mendeklarasikan dan berkomitmen untuk mewujudkan DRPPA sebagai upaya mewujudkan pembangunan yang setara, adil dan merata. “Hari ini kita canangkan 10 Desa Model Ramah Perempuan dan Peduli Anak,” katanya. Hadir saat itu Sekda Lobar, Dr H. Baehaqi, kepala DP2KBP3A Ramdan Hariyanto, dan segenap Kepala OPD lainnya.

Selain itu komitmen tersebut juga merupakan wujud implementasi dari lima arahan presiden yaitu Peningkatan Pemberdayaan Perempuan dan kewirausahaan, Peningkatan Peran Ibu dan Keluarga dalam pendidikan dan pengasuhan anak, Penurunan kekerasan terhadap terhadap perempuan dan anak, Penurunan pekerja anak serta pencegahan perkawinan anak.

Wabup menyebutkan, desa harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya khususnya perempuan dan anak, memenuhi hak atas perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Komitmen kerjasama dua kementerian tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan Komitmen Bersama Pencanangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Ramah Perempuan dan Layak Anak.

“Saya mengajak kepada semua OPD, camat, kepala desa, organisasi perempuan dan semua elemen masyarakat untuk bersama-sama dalam mendukung DRPPA ini,” kata politisi Golkar Lobar ini.Keberhasilannya lanjut dia, dapat diukur melalui Indikator kelembagaan yang terdiri dari adanya pengorganisasian perempuan dan anak, tersedianya data desa yang memuat data pilah tentang perempuan dan anak, tersedianya peraturan desa tentang DRPPA serta tersedianya pembiayaan dari keuangan desa dan pendayagunaan aset desa untuk mewujudkan DRPPA melalui pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di desa,” jelasnya.

Dia  berharap agar penerapan DPRPA ini, tidak hanya di 10 desa yang dicanangkan saja. Namun ia berharap semua kepala desa untuk dapat mengikuti dan menerapkan DRPPA di desa masing-masing, membuat aturan-aturan tentang perlindungan perempuan dan anak di desa, mendukung dan memberdayakan wirausaha yang ada di desa.

Ia juga menekankan semua OPD terutama OPD terkait untuk mendukung sepenuhnya, kelompok-kelompok wirausaha yang ada di desa secara berkelanjutan.

Sementara itu Kepala Desa Sesaot, Yuni Hariseni mengatakan pihaknya berterimakasih dijadikan Purekmas menjadi lokasi pencanangan. Terkait ramah perempuan dan peduli anak, pihak desa berupaya meningkatkan peran gender, keterlibatan dari perempuan dan jangan sampai terjadi kasus kekerasan di rumah tangga dan melindungi anak-anak. “Kami akan lanjutkan dengan membuat Perdes sebagai payung hukum,” jelas dia.

Untuk program desa yang sudah dilakukan terkait dengan ramah anak dan peduli anak, pihaknya melibatkan perempuan baik dalam rembuk dan musyawarah. Dalam penggalian dusun pun pihaknya juga melibatkan para perempuan dan anak-anak supaya mereka memiliki hak bersuara.

Di samping membantu perekonomian keluarga. “Dari DD juga kami alokasikan untuk bantuan kepada kelompok  home industry dimana berisi para perempuan, dan penyuluhan jangan terjadi KDRT, mencegah perkawinan usia dini, dan jangan sampai putus sekolah,” ujarnya. (her)