Harga Mahal, Stok Cabai Menipis

Mataram (Suara NTB) – Tak hanya harga yang mahal. Stok cabai di Kota Mataram mulai menipis. Kondisi ini dikhawatirkan menyebabkan harga melonjak. Pengepul diminta menghentikan pengiriman keluar daerah.

Kepala Bidang Bahan Pokok, Barang Penting, dan Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida menjelaskan, pemerintah dihadapkan pada dua persoalan terkait pemenuhan kebutuhan bahan pokok. Pertama, harga komoditi cabai rawit mengalami lonjakan harga yang sangat signifikan. Kondisi ini bertahan lama dengan fluktuasi harga bervariasi. Kedua, stok cabai terjadi mulai menipis,sehingga memicu tidak stabilnya harga di pasar.

Fenomena di lapangan harga cabai rawit sebelumnya Rp95 ribu/kg. Kemudian turun menjadi Rp60 ribu/kg. Dan, kembali mengalami lonjakan kisaran Rp65 ribu – Rp75 ribu/kg. “Kami heran juga harganya turun naik tidak seperti sebelumnya,” katanya.

Tidak stabilnya harga tersebut disinyalir stok yang mulai menipis. Di pasar induk Mandalika sebutnya, pengepul biasanya mendapatkan pasokan dari distributor 50-100 kg per hari, kini berkurang menjadi 10-15 kg.

Nida menegaskan, harga barang naik mungkin tidak menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat asalkan stok tersedia. Menurutnya, akan menjadi persoalan jika harga barang naik tetapi tidak ada stok. “Makanya ini yang harus dicarikan solusi,” katanya.

Ia membantah bahwa menipisnya ketersediaan cabai di Pasar Mandalika disebabkan pengiriman keluar daerah. Hasil koordinasi dengan Balai Karantina bahwa tidak ada pengiriman cabai dalam jumlah besar. Jika sebelumnya pengiriman bisa mencapai 100-150 ton perhari, ternyata hanya 23 ton pengiriman perhari.

Nida menyimpulkan pasti ada persoalan di tingkat petani, sehingga instansi teknis perlu mencari tahu sumber permasalahannya di lapangan. “Makanya kita ingin bertemu dengan asosiasi petani cabai di Lombok Timur,” timpalnya. Menurutnya, mendatangkan cabai dari Pulau Jawa, saat ini belum menjadi solusi. Harga cabai di Pulau Jawa juga sangat mahal. Distributor berpikir panjang untuk mengirim ke Lombok.

Pedagang di pasar Dasan Agung, Hj. Murdiah menuturkan, tidak berani menyetok cabai terlalu banyak. Selain harganya relatif mahal, juga sepi pembeli. Ia mengkhawatirkan cabai miliknya akan rusak. “Dulu berani saya ngambil 10 kilogram. Sekarang ini 2 kilogram saja ndak habis,” tuturnya.

Sepinya pembeli disiasati dengan menjual dalam takaran kecil. Ia menjual ukuran 1/4 kg seharga Rp20 ribu. Selain itu, diecer dengan ukuran lebih kecil seharga Rp5 ribu – Rp10 ribu. “Kalau ndak begitu ndak laku,” demikian kata dia. (cem)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Berdayakan 11 Ribu Klaster Usaha, BRI Perkuat Komitmen Bawa UMKM Naik...

0
Jakarta (suarantb.com) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk secara konsisten mendorong pelaku UMKM meningkatkan skala bisnisnya. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan yang ke-77 Republik...

Latest Posts

Berdayakan 11 Ribu Klaster Usaha, BRI Perkuat Komitmen Bawa UMKM Naik Kelas

Jakarta (suarantb.com) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Bang Zul Apresiasi Masjid Sederhana di Desa Wakan

Mataram (Suara NTB) – Menyapa langsung masyarakat Nusa Tenggara...

Lagu Sasak Masuk Kompilasi Video Musik Wonderland Indonesia 2

Mataram (Suara NTB) - Lagu Sasak “Lalo Ngaro” dari...

1.856 Rumah di Kota Bima Masih Kumuh

Kota Bima (Suara NTB) - Dinas Pekerjaan Umum dan...

Bupati Lobar Promosikan Wisata Olahraga Bersepeda di Senggigi

Giri Menang (Suara NTB) - Keindahan alam dan pantai...