Bangkai Kapal Kuno di Pohgading, Sebuah Fakta Sejarah yang Terpendam

0
Bangkai kapal yang ditemukan di Pantai Muara Harapan Pohgading Dusun Dalpak Kecamatan  Pringgabaya. (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Sebuah bangkai kapal kuno ditemukan terpendam pasir di Pantai Muara Harapan Desa Pohgading Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Bangkai kapal ini ditemukan beberapa waktu sewaktu melakukan aktvitas penambangan pasir besi dalam kawasan PT Anugrah Mitra Graha (AMG).

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kerakat, Asri mengatakan pihaknya sudah melaporkan penemuan tersebut kepada Museum NTB. Kepala Museum pun sudah datang. Untuk memastikan keberadaan kapal dan sudah dilakukan pengecekan langsung oleh sejumlah penyelam.

Dugaan sementara, kapal tersebut merupakan milik Belanda. Dugaan ini dilihat dari segi bentuknya. Pada bagian kapal ditemukan sejumlah bagian yang gosong karena terbakar. Kerusakan terparah pada lambung kapal. Kapal ini diduga menjadi salah satu korban perang. “Benar atau tidaknya itu kewenangan para arkeologi yang nanti kemudian menyimpulkan, Biarkan ahli saja yang menyimpulkan nanti,” imbuhnnya

Bagian-bagian kapal yang yang lepas antara lain tiang layar sudah ada dua unit. Ukurannya cukup besar  40 x 40 cm. Lainnya, bolder kapal, serpihan lambung terpisah dan lainnya. Bagian belakang kapal ini yang banyak ditemukan, sedangkan yang masih tertanam bagian depan,” ucapnya.

Pihaknya memprediksi sekitar 15 meter lagi bagian kapal masih terpendam dalam pasir. Yakni pada bagian depan kapal. Pasir di bawah seperti lumpur dan menyedot.

Bagi Kelompok Sadar Wisata Kerakat, diharapkan itu menjadi benda cagar budaya yang dijaga negara. Ke depan, penemuan ini menjadi petunjuk bagi penerus untuk meneliti sejarah Pohgading pada khususnya dan Lombok pada umumnya. Kapal ini menjadi petunjuk sejarah adanya orang yang pernah mendarat di Pohgading.

Peta Sejarah 1859

Berdasarkan peta tahun 1859, ada dalam peta namanya Bangsal Pohgading. Sebelah utaranya terdapat Pelabuhan Damar. Catatan peta ini menandakan bukti otentik kawasan Pohgading ini menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah perekonomian di Lombok.

Pohgading ini mungkin termasuk daerah dagang. Dulu kabarnya, banyak pedagang dari China, Belanda dan Gujarat berdatangan. Seperti fakta Pelabuhan Labuhan Haji, Pelabuhan Damar di Pringgabaya, Pelabuhan Carik di Lombok Utara itu merupakan satu jalur perdagangan dulunya.

Menurut Asri, kata bangsal itu diartikan sama dengan dermaga. Tapi ukurannya mungkin agak kecil dibandingkan pelabuhan. Bangsal inilah yang diduga menjadi tempat sandar kapal-kapal dagang yang kemudian diangkut antar bangsa di jalur-jalur perdagangan yang ada.

Pohgading dikenal dulu sebagai lokasi perdagangan untuk komoditi pertanian. Petani dari Suela utamanya banyak menjual dagangannya ke Pohgading. Selain itu, Pohgading itu termasuk wilayah penghasil kelapa yang cukup besar dan sekarang pemasarannya meluas.

Ketua Kapela NTB, Herman saat diwawancara terpisah mengatakan ia menyelam di kedalaman sektar 2,5 meter. Dilihat bangkai kapal ini masih menancap di dalam pasir. Terlihat dari bentuknya, memang kelihatan merupakan kapal kuno. Dilihat dari bahan pembuatannya saja terbuat dari kayu pinus. Strukturnya terbuat dari balok semua dan tidak ada dari papan.

Kapal tersebut diduga kuat berasal dari luar. Usianya diduga cukup lama. “Tertimbun pasir ini sudah cukup lama sekali,” ucapnya.

Pihaknya menyarankan kapal tersebut diangkut dan dibawa ke darat. Hal ini kata Herman yang juga pelaku wisata bisa menjadi salah satu tambahan daya tarik wisata di Pohgading. Pohgading ini menjadi salah satu  tempat menarik dikunjungi selain karena wisata pantai juga ada wisata sejarahnya. (rus)