Persiapan Material Ekspor Perdana, Petani Minta Difasilitasi Kontainer, Disdag NTB Cari Solusi

0
Petani memasukkan chip porang ke dalam karung. Penyimpanan untuk sampai ke tahap ekspor butuh usaha ekstra untuk mencegah jamur. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Kelompok petani porang Kabupaten Lombok Utara (KLU) tengah berjibaku menyiapkan material (chip) kering porang untuk kebutuhan ekspor. Di tengah persiapan itu, muncul kekhawatiran petani di mana chip rentan lembab. Oleh karena itulah, petani porang berharap adanya dukungan Pemprov NTB untuk memfasilitasi kontainer sebagai tempat penampungan sembari menunggu jadwal peluncuran ekspor.

Pembina Petani Porang KLU, Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D., kepada Suara NTB, Selasa, 19 Juli 2022 menyuarakan kebutuhan jangka pendek petani porang selama persiapan ekspor. Ia membayangkan, petani porang akan kesulitan menyimpan chip kering dengan kadar air rendah dan siap ekspor. Sebab di Lombok Utara, sesekali turun hujan.

“Pertanyaan kami, bisakah Perindag NTB memfasilitasi kontainer ekpor porang agar ekspor bisa langsung ke Vietnam dan china,” tanya Suwardji.

Pakar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unram ini menyambung, agar para petani dibantu di tahap awal ekspor. Caranya, biaya sewa kontainer disubsidi oleh pemerintah daerah.

Ke depan ia optimis, lancarnya pembayaran ekspor di tingkat petani akan membantu petani untuk mandiri dan membayar biaya sewa kontainer secara penuh. “(Pertama) dengan subsidi pemerintah, karena itulah kewajiban pemerintah. Kalau sudah lancar, full dibayar petani. Apalagi launching ekspor nanti akan kita hadirkan Pak Gubernur dan Pak Bupati. Jadi, KLU yang pecahkan kendi (ekspor) bulan September nanti,” tandasnya.

Ketua Kelompok Koperasi Porang, Berkah Gumi Lombok, Putra Anom, menambahkan, chip porang saat ini disimpan di gudang. Penyimpanan dalam jumlah banyak dalam situasi dan kondisi hujan dan angin, menyebabkan porang rawan jamur.

“Kelembaban gudang harus dijaga betul. Tetapi kalau ada kontainer, petani akan lebih aman,” kata Anom.

Ia menegaskan, chip porang dengan suhu penyimpanan yang baik akan mampu menjaga kualitas porang untuk bertahan selama 3-4 bulan. Periode ini hampir setara dengan persiapan ekspor perdana dari mulai panen, pengolahan, hingga penyimpanan yang dilakukan petani saat ini.

Penjagaan kualitas Porang memerlukan penjagaan yang cukup ketat. Sebab untuk menghasilkan chip 1 kontainer, bukan perkara mudah bagi petani. Tiap bulan, petani harus menghasilkan 5 ton chip kering untuk memenuhi kontrak ekspor 100 ton. ‘’Harapan kami, difasilitasi kontainer. Karena kontrak 100 ton, memerlukan ribuan ton umbi basah,” paparnya.

Terpisah, Analis Perdagangan Luar Negeri pada Disdag NTB, Rachmat Wira Putra, mengapresiasi ikhtiar ekonomi yang dilakukan petani porang binaan Prof. Suwardji. Mencermati aspirasi petani, pihaknya akan mengupayakan solusi pada tahun anggaran berikutnya. “Nanti kita coba fasilitasi, liat anggaran dulu. Kita juga akan lihat kondisi lapangan dulu,” ucapnya.

Wira mengisyaratkan, upaya Pemprov NTB untuk membantu petani akan diwujudkan, meski tidak dalam anggaran tahun 2022 ini. “Tapi bukan janji untuk difasilitasi sekarang, mungkin next shipment (pengiriman) kita coba,” tandasnya. (ari)