Gunakan Pupuk Organik, Kombinasikan dengan Program ’’Zero Waste’’

0
H. Fathul Gani (Suara NTB/ham)

Mataram (Suara NTB) – Petani di NTB masih sangat tergantung pada pupuk kimia (an organik) saat bercocok tanam. Sementara di satu sisi, harga pupuk bersubsidi terus naik. Bahkan, beberapa jenis pupuk yang selama ini disubsidi oleh pemerintah sudah mulai dicabut. Untuk itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB akan berupaya agar petani di NTB tidak lagi terlalu bergantung pada pupuk bersubsidi dalam bercocok tanam.

Demikian disampaikan Kepala Distanbun NTB Drs. H. Fathul Gani, M.Si., menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa, 19 Juli 2022.

Terkait hal ini, ujarnya, pihaknya terlebih dahulu harus mengubah mindset atau pola pikir dari petani, terutama penggunaan pupuk dalam bercocok tanam. Dalam mengubah mindset ini, tambahnya, pihaknya akan memberikan pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) pada tenaga penyuluh pertanian yang selama ini menjadi ujung tombak di lapangan.

‘’Yang penting dalam jangka waktu pendek, menengah ini adalah bagaimana membangun mindset petani supaya jangan selalu tergantung pada pupuk kimia. Ini sebuah tantangan. Di sinilah fungsi para penyuluh kita untuk dibekali bagaimana teknik memanfaatkan pupuk organik. Baik pupuk organik dari pabrik atau yang diolah secara mandiri,’’ terang mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB ini.

Menurutnya, pelatihan bagi tenaga penyuluh ini dinilai sangat penting, terutama dalam mengikuti perkembangan pertanian secara global. Dicontohkannya, pertanian di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Thailand atau Vietnam cukup maju, sehingga para penyuluh pertanian bisa memahami perkembangan di lapangan.

Begitu juga penggunaan pupuk organik, tambahnya, sejalan dengan program Zero Waste yang digaungkan oleh pasangan Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Si., dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. Nantinya, jika penyuluh sudah diberikan pelatihan dan menerapkan saat turun lapangan, maka petani yang ada di daerah ini bisa menggunakan pupuk organik saat bercocok tanam. Pupuk organik yang dipergunakan bisa berasal dari pupuk yang diolah sendiri atau diolah di tempat pengolahan sampah menjadi pupuk organik yang siap pakai.

Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB terkait penggunaan pupuk organik. ‘’Untuk pupuk organik ini, kita akan coba terus menemukan pola komunikasi dan koordinasi dengan DLHK, sehingga program zero waste ini nyambung, sehingga limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik, baik pupuk cair maupun pupuk padat,’’ ujarnya.

Pihaknya mengharapkan petani di NTB di masa mendatang tidak menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. Tapi paling tidak bisa mengkombinasikan penggunakan pupuk kimia dan pupuk organik. Saat harga pupuk meningkat, subsidi pupuk dikurangi. ‘’Maka satu-satunya jalan adalah menggarahkan para petani harus terbiasa menggunakan pupuk organik. Baik memproduksi sendiri dengan swadaya, berkelompok atau pupuk organik yang dibuat secara modern,’’ terangnya. (ham)