Sidak Pasar, Cabai Selalu Jadi Pemicu Inflasi

0
Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujiburrahman didampingi Asisten II Lalu Alwan Basri dan tim pengendali inflasi daerah (TPID) lainnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar Dasan Agung, Senin, 18 Juli 2022. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram mengecek sejumlah kebutuhan pokok di pasar Dasan Agung, Senin, 18 Juli 2022. Cabai selalu menjadi komoditi yang menjadi pemicu inflasi. Intervensi pemerintah melalui kampung inflasi perlu dievaluasi.

Kegiatan tersebut dipimpin Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujiburrahman didampingi Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, Kepala Dinas Perikanan H. Irwan Harimansyah, Sekretaris Dinas Perdagangan Syamsul Irawan, perwakilan Bank Indonesia Ahmad Fauzi, dan OPD teknis lainnya.

TGH. Mujiburrahman

Wawali mengakui, sejumlah komoditi mengalami kenaikan seperti cabai rawit, cabai merah, beras, bawang, daging, dan komoditi lainnya. Hal ini perlu dilakukan pengendalian dengan cara berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, agar daerah yang mengalami surplus komoditi supaya didistribusikan ke Kota Mataram, sehingga ketersediaan stok terjaga. “Tadi, kita cek ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga yang perlu dikendalikan,” kata Mujib ditemui usai sidak.

Diakui, komoditi yang selalu menyebabkan inflasi adalah cabai dan bawang. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga barang. Mahalnya harga cabai disebabkan pengepul lebih banyak mengirim keluar daerah untuk mencari keuntungan. Strategi dinilai penting dilakukan pemerintah adalah dengan mendatangkan komoditi pemicu inflasi ke Kota Mataram, dengan harapan tidak terjadi kekurangan atau surplus. Selain itu, akan ditambah kampung inflasi di Kota Mataram. “Kita akan minta camat dan lurah untuk mengedukasi masyarakat membuat kampung inflasi,” terangnya.

Sejauh ini, kampung inflasi belum efektif menekan laju inflasi di Kota Mataram. Mujib menegaskan, keberadaan kampung inflasi akan dioptimalkan. Pihaknya mendorong terbentuknya delapan kampung inflasi di Kota Mataram, supaya kebutuhan rumah tangga tercukupi. Artinya kata Mujib, masyarakat tidak perlu lagi membeli cabai ke pasar. “Cukup ambil di rumah sehingga membantu menekan laju inflasi,” harapnya.

Pedagang di pasar Dasan Agung, Hj. Murdiah mengaku, harga cabai rawit lokal masih mahal yakni Rp75 ribu/kg. Terkadang, ia kesulitan menjual karena sepi pembeli. Caranya menyiasatinya adalah dengan membuat takaran menjadi kecil, sehingga terjangkau oleh pembeli. “Ndak ada yang beli 1 kg. Paling banyak itu ¼ saja. Kalau beli ¼ saya jual Rp20 ribu,” tuturnya.

Murdiah tidak berani menyetok terlalu banyak cabai. Ia hanya membeli 2 kg ke pengepul. Itupun lanjutnya, tidak langsung habis. “Tidak seperti dulu banyak yang beli 1 kg. Sekarang ini sepi,” tuturnya. (cem)