Lomba Begasingan, Coba Pertahankan Nilai Budaya Leluhur

0
Para pemain sedang begasingan. Pemukul yang dapat mematikan atau melemahkan putaran gasing lawan keluar sebagai pemenang. (Suara NTB/ist)

Begasingan menjadi salah satu olahraga tradisional yang khas dari Suku Sasak di Lombok. Nilai budaya leluhur coba dipertahankan grup Tunggal Galih melalui gelaran lomba begasingan yang akan digelar 22 Agustus sampai dengan 22 Oktober 2022 mendatang.

“LOMBA ini kita gelar tiga bulan,” ungkap Ketua Panitia Lomba Begasingan, Lalu Guru Aprianto didampingi Sekretarisnya, Samudin di Selong, Senin, 18 Juli 2022. Acara lomba adu ketangkasan dalam memukul gasing lawan ini dipusatkan di lapangan lingkungan Batu Mulut Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Lombok Timur (Lotim).

Lomba digelar dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 77. Acara dikemas dengan nama Tunggal Galih Cup. Tunggal Galih ini merupakan peraih juara I pada lomba serupa sebelumnya digelar di Lombok Tengah (Loteng). Bagi Tunggal Galih, kegiatan ini merupakan kali pertama dan bakal digelar se pulau diLombok. Yakni menghadirkan peserta para pecinta gasing se pulau Lombok.

Turnamen Begasingan se Pulau Lombok ini akan mempertemukan peserta dari 52 regu. Loteng dan Lotim. Gasing-gasing yang dimainkan memang banyak modelnya. Beda kabupaten beda bentuk. Lotim sendiri ada balutan besi di pinggirnya.

Syarat peserta ada standarisasinya. Pertama, berat gasing standar 2- 2,3 kg. Masing-masing peserta akan memiliki dua gasing. Yakni gasing pemukul dan gasing dipukul. Gasing pemukul ini biasanya lebih berat dibandingkan gasing yang dipukul.

Sistem pertandingan menggunakan sistem kompetisi penuh. Syarat peserta memiliki grup 10 orang. Bayar uang pendaftaran Rp500 ribu per regu. Panitia telah siapkan hadiah menarik. Total hadiah Rp15 juta plus tropi dan piagam.

Kenapa Begasingan? Lalu Guruh menjawab, Begasingan ini merupakan tradisi asli Sasak yang sekarang banyak peminat. Akan tetapi dari segi perhatian pemerintah masih sangat minim. Olahraga tradsional hanya memperhatikan perisean. Padahal, Lombok ada Begasingan yang tidak kalah seru dengan perisean.

Melalui kegiatan Begasingan ini, selain  pelestarian nilai budaya juga bertujuan pertahankan nilai silaturahmi. Filosofi gasing melatih kesabaran. Di mana, semua harus menunggu putaran gasing yang bisa sampai 30 menit.

Memakmurkan kegiatan Begasingan ini juga memiliki nilai ekonomis tersendiri. Para pembuat gasing akan laku. Begitupula pembuat talinya. Samudin sendiri mengaku sudah pernah menjual gasingnya sampai ke Amerika.  Mainan yang terbuat dari bahan kayu dan dilapisi besi baja stainless itu cukup mahal.

Satu unit gasing bisa laku terjual seharga Rp500 ribu sampai di atas Rp1 juta. Harga mahal ini karena proses pembuatannya menggunakan kayu asam pilihan. Teknis pembuatannya pun memerlukan keahlian khusus. Seperti pengecatannya dengan cara diputar diatas tangan. (rus)