Kuota Vaksin PMK untuk NTB Ditambah 38.000 Dosis

0
Ahmad Nur Aulia. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah pusat menambah alokasi vaksin untuk penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi NTB. Jumlahnya sebanyak 38.000 dosis. Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, tambahan vaksin PMK ini untuk mengejar target ideal vaksinasi, yaitu 80 persen dari total populasi.

Untuk tahap pertama, sebelumnya NTB mendapatkan kuota 5.000 dosis. “Dari 5.000 dosis itu, tinggal 500 dosis yang belum disuntikkan. Dikejar hari ini secepatnya dihabiskan,” kata kepala dinas memberi keterangan di Bank Indonesia, Senin, 18 Juli 2022. Untuk vaksin PMK tambahan, diharapkannya pekan ini bisa terdistribusi dari pusat.

Sehingga vaksinasi PMK bisa massif dilakukan. Mantan Kepala Biro Umum Setda NTB ini menjelaskan, per tanggal 17 Juli 2022, data hewan ternak yang sudah terjangkit PMK sebanyak 77.660 ekor/kasus. Seluruhnya ditemukan di Pulau Lombok. Sementara di Pulau Sumbawa, sampai saat ini dinyatakan masih bebas PMK.

Dari angka kasus ini, Aulia merinci, sudah sembuh 63.712 ekor. Masih sakit 13.586 ekor. Jumlah yang dipotong 208 ekor. Sementara yang mati 154 ekor. “Angka kesembuhannya tinggi. Tren sapi yang sembuh PMK grafiknya terus naik,” katanya. Karena itu, penanganan terus dilakukan. Dengan pendampingan kepada peternak, atau kelompok-kelompok ternak. Aulia menambahkan, PMK termasuk penyakit hewan ternak yang tingkat penularannya cukup tinggi.

Angka penularan mengalami kenaikan, salah satunya disebutkan karena media pembawa penyakit termasuk adalah peternaknya, atau manusia. “Yang datang dari kandang hewan ternak yang terkena PMK ke kandang lainnya, secara otomatis akan terjadi penularan. Karena virus PMK ini bisa menepel di mana saja dalam waktu lama. Dan bisa ditularkan hanya lewat udara,” imbuhnya.

Berdasarkan analisa, saat momentum Idul Adha 1443 H/2022, terjadi interaksi langsung dari pembeli sapi kepada peternak. Atau masyarakat yang membutuhkan langsung datang dari kandang ke kandang untuk mencari hewan kurban. Hal itulah yang mengakibatkan terjadinya penambahan kasus penularan.

“Bagaimana mau melarang orang meriksa hewan untuk kurban. Walaupun dari kandang ke kandang diperiksa. Padahal, kita bisa langsung menjadi pembawa virusnya. Mestinya ada SOP kalau berkunjung ke kandang,” imbuhnya.

Kendati demikian, Aulia mengingatkan kepada para peternak agar tidak panik, apalagi melelang ternak-ternak miliknya dengan harga murah. Tingkat kesembuhan tinggi. Dan penanganan dari pemerintah juga massif. Sementara untuk pasar-pasar hewan ternak yang masih ditutup, kepala dinas mengatakan, masih berkonsultasi dengan pusat terkait kebijakan yang akan diambil. Diketahui, pasar ternak adalah pusat ekonomi masyarakat. Disatu sisi, pasar ternak adalah tempat berinteraksi terberas hewan-hewan ternak. (bul)