Investasi di NTB Triwulan I Capai Rp 4,1 Triliun

0
Mohammad Rum (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Triwulan I-2022, realisasi investasi di Provinsi NTB sudah mencapai Rp 4,1 triliun. Adapun proyeksi investasi yang diberikan oleh pemerintah pusat ke NTB yaitu Rp18,5 triliun dan proyeksi internal Pemprov NTB sebesar Rp15,3 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, Ir.H. Mohammad Rum, MT mengatakan, saat ini pihaknya sedang menunggu realisasi investasi triwulan II yang angka-angkanya belum final.

“Saya lihat bukan karena tidak ada angka (investasi besar), namun karena sistem pelaporan yang agak bermasalah dengan OSS itu. Karena kemarin yang baru masuk laporannya baru Rp 1 triliun (di triwulan II-red). Ini terlihat berbeda pada angka saja, sebab nilai ril akan terlihat nanti di di triwulan ke tiga,” kata Mohammad Rum kepada Suara NTB, Senin, 18 Juli 2022.

Adapun, investasi yang cukup menonjol tahun ini salah satunya pembangunan Hotel Kempinski di Mekaki, Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat oleh Wings Group. Hotel tersebut sudah mulai dibangun  di lahan seluas 26 hektare. Perusahaan tersebut sebelumnya mengelola Hotel Indonesia Kempinski di Jakarta dan di Bali.

Investasi selanjutnya yaitu rencana pembangunan kereta gantung di dekat kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Desain proyek besar tersebut sedang dalam proses pengerjaan oleh investor dari Tiongkok. Dengan rencana investasi sebesar Rp 2,2 triliun, kereta gantung ini diprediksi akan menjadi salah satu destinasi unggulan di NTB.

“Namun tahap awal ini investasinya Rp600 miliar dulu. Persiapannya sekarang sedang proses amdal , segala macam. Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa kereta gantung ini di luar kawasan TNGR. Tidak sampai ke TNGR. Justru kita tetap akan memberdayakan porter yang ada di sana,” ujarnya.

Selain, hotel Kempinski dan Kereta Gantung, investasi yang cukup menonjol di NTB tahun ini yaitu pembangunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Investasi untuk pembangunan pabrik pemurnian emas dan tembaga tersebut jika mengacu pada rencana sebelumnya yaitu sebesar Rp26 triliun dan ditargetkan rampung 2023. Jumlah tenaga kerja yang akan diserap selama masa konstruksi sebanyak 2.000 orang lebih.

Smelter yang dibangun kapasitasnya lebih kecil dari rencana awal 1,3 juta ton per tahun menjadi 900 ribu ton per tahun. Nantinya, bukan hanya hasil tambang AMNT di KSB yang bisa diolah di smelter tersebut. Tetapi hasil tambang dari PT. Sumbawa Timur Mining di Dompu bahkan luar NTB bisa diolah di KSB.(ris)