Saldo Nasabah Rp165 Juta Raib, BRI Sebut karena Kejahatan Social Engineering, Nasabah Keberatan

0
Ilustrasi Uang (ant/bali post)

Kota Bima (Suara NTB) – Pimpinan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Bima, Dicky Advia Rahim menyebut raibnya uang tabungan Rp165 juta dari saldo rekening disebabkan tindakan kejahatan rekayasa sosial alias social engineering. Namun nasabah menyatakan keberatan.

Dalam keterangan pers yang diterima Suara NTB, Dicky mengaku berkurangnya saldo nasabah Koperasi Pelita Karya Disnakertrans Kabupaten Bima tersebut, BRI Cabang Bima telah menerima pengaduan. “Pengaduan telah kami terima dan akan ditindaklanjuti dengan melakukan investigasi,” ujarnya.

Meski begitu, Dicky menyampaikan nasabah merupakan korban tindak kejahatan social engineering. Penyebabnya nasabah memberikan data transaksi perbankan berupa password atau PIN yang bersifat pribadi dan rahasia. Hal inilah yang membuat transaksi pemindahan dana dapat berjalan sukses.

“BRI berempati atas hal ini, namun bank hanya akan melakukan penggantian kerugian kepada nasabah apabila kelalaian diakibatkan oleh sistem perbankan,” ujarnya.

Untuk itu, Ia mengimbau nasabah agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan. Tetap rutin melakukan penggantian PIN kartu ATM. Tetap menjaga kerahasiaan data nasabah seperti nomor rekening tabungan, nomor kartu, nomor CVV kartu kredit, nomor OTP transaksi dan sebagainya kepada pihak manapun, termasuk pihak yang mengatasnamakan BRI.

Selain itu Ia juga mengingatkan nasabah agar senantiasa menggunakan saluran resmi website dan sosial media resmi (verified/centang biru) sebagai media komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat.

“Apabila mendapat notifikasi melalui sms/email atas transaksi yang tidak dilakukan, nasabah agar segera menghubungi Contact BRI untuk melakukan pemblokiran rekening,” ujarnya.

Menanggapi itu, Ketua Koperasi Pelita Karya Disnakertrans Kabupaten Bima, Fatahullah, S.Pd, menyatakan keberatan serta mempertanyakan pihak BRI Cabang Bima yang berani menyimpulkan nasabah bernama Khairunnisa yang juga Bendahara Koperasi Pelita Karya disimpulkan sebagai korban tindak kejahatan social engineering.

“Pertanyaaan saya, dari mana pihak Bank mengetahui nasabah Khairunnisa telah memberikan data transaksi perbankan password dan PIN. Kepada siapa, kapan dan lewat mana,” katanya mempertanyakan.

Sementara faktanya, lanjut dia, berdasarkan hasil konsultasi dirinya dengan Bendahara Koperasi Pelita Karya Khairunnisa, Ia sama sekali tidak pernah melakukan transaksi apapun pada saat rekeningnya dibobol.

“Komentar pimpinan BRI Bima telah melukai perasaan nasabah dan terkesan ingin melepaskan diri dari tanggungjawab,” ujarnya.

Bagi dia, pernyataan pimpinan BRI itu hanya standar yang umum dan biasa dikeluarkan oleh pihak Bank ketika terjadi pembobolan oleh sindikat. Ia menuding hal itu hanya alasan untuk menghindari kewajiban membayar atau mengembalikan uang nasabah yang hilang. “Ketika uang hilang, pihak Bank sedikit sedikit menyalahkan nasabah. Harusnya tanggungjawab karena perbankan ada sistemnya,” pungkasnya. (uki)