Petani Garam Tantang Pemerintah Siapkan Pasar

0
Aktivitas jual beli garam di Desa Pijot Kecamatan Keruak. (Ekbis NTB/rus)

KEBIJAKAN industrialisasi garam prinsipnya disambut baik oleh para petani tambak garam. Akan tetapi, sejauh ini sentuhan program pemerintah dianggap masih setengah-setengah. Bantuan yang telah digelontorkan selama ini dinilai tidak berfungsi maksimal. Petambak garam dari Lombok Timur (Lotim) khususnya mengaku lebih mengharapkan ketersediaan akses pasar daripada sekadar bantuan dengan alasan industrialisasi.

Demikian disampaikan  petani garam di Desa Sepapan saat ditemui di Desa Pijot, lokasi tambak garam Kecamatan Keruak Kabupaten Lotim, kemarin.  Petambak yang mengaku memiliki lahan 50 hektar ini hanya kewalahan di pasar. Soal produksi , katanya berapapun diminta pasar siap disediakan.

Saat ini saja, di gudang miliknya terdapat 2 ribu karung. Menurutnya, untuk kebutuhan Lotim itu sudah terpenuhi selama beberapa bulan ke depan. Garam-garam produksi petambak di Desa Pijot Keruak dan Serumbung Jerowaru ini diyakini berkualitas bagus.

Tambak garam tradisional yang dilakukan warga ini dinilai memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan produksi garam yang diajarkan oleh pemerintah. Diakui, pemerintah selama ini memberikan bantuan berupa terpal yang dapat digunakan petambak. Terpal tersebut dimaksudkan dapat digunakan agar produksi garam bisa lebih bersih.

Garam yang diproduksi dari terpal itu merpakang aram potong. Dia mengibaratkan seperti ayam potong. Garam lokal sebagai ayam kampung. Karena namanya garam kampung diyakini kualitas rasa jauh lebih baik dibandingkan dengan garam impor.

Kualitas produksi garam ini sudah dibuktikan para konsumen. Garam hasil tambak tradisional ini dianggap jauh lebih enak. Memang terlihat lebih hitam. Akan tetapi katanya di balik warnanya yang lebih hitam, tersimpan rasa yang jauh lebih enak. Garam berwarna hitam ini dibenarkan karena bercampur tanah. Namun diyakinkan karena ada campuran tanah itulah dia menjadi berbeda. “Kita kan juga berasal dari tanah,” sambungnya.

Pihaknya sudah membandingkan rasa dan kualitas dari garam produksi terpal yang diakui memang jauh lebih putih. Akan tetapi, saat dicampur dengan ikan rasanya hambar. Berbeda dengan garam lokal ini saat dicampur ikan, rasanya dianggap konsumen jauh lebih enak.

Ditambahkan, salah satu kelebihan rasa kuliner khas Sasak itu, karena karena garamnya. Garam yang digunakan merupakan garam lokal yang memang memberikan tambahan rasa yang makin khas. Berbeda dengan garam yang sudah mendapat sentuhan industrialisasi. “Kalau terpal, memang bagus, tapi tidak laku di jual ke masyarakat hal itu karena garam itu diperuntukkan untuk industri,” ucapnya.

Pihaknya siap menerima program industrialisasi yang diberikan pemerintah. Akan tetapi, tidak cukup dengan program tersebut. Pasalnya, harus tersedia gudang dan tempat pemasaran yang jelas. Pasar lokal tidak menerima garam industri. Kalau produksi garam industri ini massal, para petambak akan kebingungan mencari kemana menjualnya. “Di Lombok ini kan tidak ada industri,” paparnya.

Garam yang lebih putih karena dibuat dengan bedengan terpal itu dianggap mudah sekali lembek dan mencair. Garam putih tersebut tidak bsa dibuat menjadi garam lembut seperti yang dilakukan oleh para penjual garam lembut di Desa Pijot. Termasuk katanya garam dari Bima. Meski Bima diketahui produksi lebih besar, namun tetap berkeyakinan kualitas garam lokal ini jauh  lebih baik.

Sementara itu, mengenai harga garam saat ini dinilai masih standar. Petani garam menjual seharga Rp 250 ribu per kuintal. Harga ini dinilai rendah karena pada dasarnya harga jual garam ini bisa jauh lebih mahal. Saat mahal bisa tembus Rp 500 ribu per kuintal. “Kalau sekarang ini kita bisa bilang normal dan standar, dalam waktu beberapa bulan ke depan mungkin akan mahal, karena faktor hujan petani kesulitan produksi garam,”  ujarnya. (rus)