Meski Banting Harga, Okupansi Hotel di Lotim Masih Rendah

0
Kondisi Pantai Jeeva Bloam di bagian selatan yang indah dan sangat cocok bagi yang mencari liburan untuk menghilangkan stres dari keramaian. (Suara NTB/rus)

Memasuki masa liburan, sejatinya destinasi wisata ramai kunjungan wisata. Tetapi hal ini tak dirasakan hotel di Lotim bagian selatan. Salah satunya Hotel Jeeva Bloam di Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lotim. Meski masih banting harga karena masih berlaku harga Corona Virus Disease (Covid), tingkat hunian belum mampu terdongkrak.

“Saat ini memang high season,” ungkap Lalu Hendra, Camp Manajer Jeeva Bloam menjawab Ekbis NTB saat ditemui Sabtu, 16 Juli 2022.

Pihaknya mengaku, situasi saat ini tidak separah awal kemunculan Covid. Sekarang ada tren perbaikan. Hanya saja masih sekitaran 35 persen saja. Biasanya saat high season bulan Juli-Agustus ini okupansi hotel bisa 50-80 persen.

Pada bulan Agustus mendatang saja, baru sekitar 38 persen saja yang booking. Tampaknya, situasi Covid-19 ini masih membuat kunjungan wisatawan belum stabil.

Hotel privasi dengan 11 kamar unik dan menarik ini diakui kalau harga normalnya bisa tembus seharga Rp 3,5 juta sampai dengan Rp 6 juta per malam. Sementara sekarang ini, Jeeva menjual dengan harga termahal Rp 2 juta saja per malam. Sebelumnya hanya menerima tamu asing, kini tamu domestik pun sudah mulai banyak yang diterima. Peminat wisatawan domestik ke Jeeva Bloam ini pun cukup tinggi.

Jeeva Bloam memiliki keunikan tersendiri. Hotel yang menawarkan konsep liburan di tengah kesunyian ini memiliki fasilitas kamar yang cukup mewah.  Dari tampilan luar, terlihat memang hanya bangunan rumah nelayan. Namun, dalamnya menyuguhkan nuansa hotel berkelas.

Dalam memberikan pelayanan kepada para tamu, Jeeva tetap mengedepankan kearifan lokal. Menu makanan pun disajikan khas Sasak. Ada juga yang menu makanan sesuai asal tamu. “Prinsipnya on request, tapi kita juga kan jauh, mau beli apa-apa jauh,” urainya.

Masih rendahnya kunjungan wisatawan ini tampaknya juga besar pengaruhnya karena kenaikan harga tiket pesawat. Lonjakan harga tiket pesawat ini cukup drastic, sehingga berpengaruh pada kunjungan.

Ditambahkan, masih mahalnya harga menginap per malam di Jeeva Bloam ini cukup beralasan. Di mana, operasional hotel eco tourism ini cukup tinggi. Belum ada jaringan listrik ke kawasan hutan Selatan membuat pihak hotel terpaksa tetap beli Bahan Bakar Minyak (BBM). Dalam sebulan sebelumnya dibeli BBM solar Rp 26 juta. Sekarang, harga pembelian dua kali lipat.

Selama masa pandemi, masih hotel ini pun selalu merugi dan dapat subsidi dari pemiliknya. Meski mahal,  pihaknya meyakinkan tetap bisa bertahan dan terus perbaiki kualitas pelayanan.

Jeeva  pun telah menyiapkan  konsep baru pengembangan ke depan. “Kita rencana pengembangan lagi, ke depan pantai tetap seperti sekarang, cuma tamu tak bisa renang sehingga rencana bangun resto dan kolam,” demikian sambungnya.  (rus)