Di Tengah Penghentian Sementara Pengiriman PMI, Malaysia Membutuhkan 10 Ribu CPMI

Kuala Lumpur (Suara NTB) – Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Malaysia Hermono menjelaskan duduk perkara penghentian sementara pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia. Langkah itu ditempuh, sebagai upaya melindungi harkat dan martabat bangsa. Terutama warga negara Indonesia yang bekerja di Malaysia.

‘’Kita tidak mau kasus Adelina (Adelina Lisao, PMI asal NTT yang tewas akibat kekerasan warga negeri Malaysia Ambika MA Shan) terulang lagi,’’ kata Hermono kepada media di Wisma Duta Republik Indonesia, Jalan U-tan, Kuala Lumpur, Malaysia akhir pekan kemarin.

Penjelasan ini disampaikan saat Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos.MH bersama Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pekerja Migran Indonesia (APPMI) H Muazzim Akbar berkunjung ke rumah dinas Dubes Hermono untuk silaturahmi dan berdiskusi tentang PMI.

Kebijakan penghentian ini memang cukup mengejutkan. Terutama bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan di dalamnya. Sebab pintu Malaysia untuk PMI baru baberapa minggu saja dibuka pasca MoU antara kedua negara tanggal 1 April 2022.

Seperti diketahui langkah penghentian itu akibat pihak Malaysia ditemukan bukti masih menerapkan System Maid Online (SMO) yaitu sistem rekrutmen pekerja secara online. Padahal dalam MoU itu, Malaysia dan Indonesia telah sepakat menggunakan sistem satu kanal atau One Channel System.

Sebab SMO dinilai sebagai sistem yang cukup rentan mengeksploitasi pekerja. Termasuk praktik perdagangan manusia.

Awalnya pihak pemerintah Malaysia cenderung tidak ingin ada MoU terkait penerapan satu kanal dan penekanan pada aspek perlindungan PMI itu. Namun setelah ada tekanan dari pihak Indonesia, akhirnya pihak Malaysia melunak dan bersedia menandatangani MoU yang isinya secara umum memberikan perlindungan pada tenaga kerja Indonesia.

 “(Saya bilang saat itu) Oke kalau you tidak mau, nggak apa-apa, kita akan hentikan semua pengiriman tenaga kerja ke Malaysia, saat itu semua ribut (di Malaysia yang akhirnya membuat mereka sepakat tanda tangan),” tuturnya.

Tapi rupanya setelah MoU terbit, pihak Malaysia dituding ingkar janji terhadap perjanjian yang ditandatangani sekitar tiga bulan lalu itu. Itulah yang membuat pemerintah Indonesia kecewa yang selanjutnya disikapi dengan langkah tegas penyetopan pengiriman PMI.

 “Jadi selama ini banyak orang-orang kita selalu berpandangan, kita yang butuh Malaysia. Ya memang kita butuh pekerjaan, tapi mereka juga sama-sama butuh kita. Bahkan mungkin lebih butuh,” ujarnya.

Terkait dengan kesan Pemerintah Malaysia yang bergeming dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang menghentikan sementara pengiriman PMI itu, Hermono menjawab santai. “Nggak ada masalah silakan saja, kami tetap bertahan. Ya kita lihat saja, nanti mana yang lebih butuh,” ujarnya.

Sebab pada faktanya, pekerja Indonesia mendominasi di sektor-sektor pertanian dan perladangan. Hal ini membuktikan, Malaysia lebih menyukai tenaga kerja Indonesia.

 “Kalaupun ada dari negara lain seperti Bangladesh, paling satu-dua (orang dalam satu ladang),” katanya.

Ditegaskannya apapun sikap Pemerintah Malaysia, sikap Pemerintah Indonesia bergeming sampai akhirnya Malaysia mau menaati kesepakatan yang telah dibuat.  “Kami akan terus bertahan, sampai mereka (Malaysia) sepakat,” tegasnya.

Langkah penutupan ini juga telah dibahas dengan matang bersama Kementerian Tenaga Kerja Indonesia dan pihak terkait lainnya.  “Jadi saya ditanya bagimana saran pak Dubes? (saya jawab) kita tutup saja sampai patuhi MoU,” tuturnya.

Hermono mengatakan pemerintah sangat yakin dengan keputusan ini karena didasari niat mulia menjaga warga negara Indonesia yang bekerja di Malaysia. “Ini kan itikad baik, jadi apapun demi harkat dan martabat bangsa, kita akan lakukan,” tekannya lagi.

Namun demikian, supaya dampaknya tidak terlalu besar, Hermono mengatakan sekitar 10 ribu calon PMI secara nasional yang saat ini sedang diproses keberangkatannya ke Malaysia, dapat dilanjutkan untuk dikirim.

 “Jadi yang kita tutup sementara permohonan yang baru. Job order (ke Malaysia) yang baru bukannya kita tidak terima tapi kita hold, dulu. Sedangkan mereka yang sudah berproses yang sudah ada ID, boleh jalan. Intinya sebelum tanggal 12 (Juli kebijakan penyetopan mulai diberlakukan) dapat diproses,” terangnya.

Hermono juga mengatakan pihak Kementerian Sumber Malaysia (KSM) yang membidangi tenaga kerja, telah menghubunginya.

 “Sudah ada komunikasi dengan pihak KSM, mereka akan bicarakan hal ini dengan Menteri Dalam Negeri mereka. Jadi untuk sementara kita tunggu saja yang jelas sikap kita tidak akan berubah,” tegasnya.

Hermono juga membantah sikapnya melunak dengan minta pihak Malaysia mengubah isi MoU.

 “Begini di dalam MoU pasal 17 masing-masing pihak dapat mengusulkan pembahasan ulang poin-poin yang memberatkan, kemudian di pasal 22 masing-masing pihak juga dapat menghentikan MoU. Itu artinya saya tidak menantang, tapi kalau memang ada yang tidak sesuai itu diberikan ruang untuk memperbaiki atau menghapus. Nggak ada juga melunak,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Umum APPMI NTB H Muazzim Akbar berharap penjelasan utuh ini dapat dipahami masing-masing pihak. “Yang penting 10 ribu Calon PMI yang sudah berproses ini dapat tetap berangkat. Itu yang melegakan,” katanya.

Ia berharap masing-masing pihak saling memahami dan menghargai. Mengingat tenaga kerja adalah pekerjaan mulia untuk meningkatkan taraf hidup setiap orang.

 “Ya kita berharap pemerintah Malaysia dapat mematuhi, MoU yang telah ditandatangani,” kata Ketua DPW PAN NTB itu.

Hal yang sama disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB I Gede Putu Aryadi. Penjelasan yang disampaikan Dubes menurutnya sangat jelas menjaga keselamatan pekerja dan melindungi harkat dan martabat bangsa. “Keputusan yang tegas demi melindungi pekerja kita,” katanya. (ris)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

JNE Raih 2 Penghargaan Bergengsi Kriteria Pelayanan Pelanggan

0
Jakarta (Suara NTB) -Kinerja maksimal dalam seluruh aspek yang dilakukan JNE sebagai perusahaan asli Indonesia terus dilakukan dengan mengusung semangat ”Connecting Happiness”. Komitmen ini...

Latest Posts

JNE Raih 2 Penghargaan Bergengsi Kriteria Pelayanan Pelanggan

Jakarta (Suara NTB) -Kinerja maksimal dalam seluruh aspek yang...

Yuk Belajar Cara Pengiriman Uang ke Luar Negeri yang Mudah & Murah

Pengiriman uang ke luar negeri di zaman serba digital...

Kado Kemerdekaan ke 77 RI, Sistem Transmisi Bima-Sape Operasi Penuh

Mataram (suarantb.com)- Tanggal 17 Agustus 2022, bertepatan dengan perayaan...

Dispora NTB Usulkan Porprov NTB Ditunda

Mataram (Suara NTB) - Rencana KONI NTB menggelar Pekan...

Bandar Togel Diringkus Tim Puma

Mataram (Suara NTB) - Polresta Mataram, mengamankan bandar togel...