Miris, Empat Tahun Murid SDN 6 Pohgading Belajar di Teras

0
Gedung SDN 6 Pohgading yang sudah rata dengan tanah akibat gempa tahun 2018 silam. Murid-murid yang ada di sekolah ini terpaksa belajar di teras sekolah. (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Miris, akibat gempa bumi 2018 lalu, sejumlah ruang kelas SDN 6 Pohgading Kecamatan Pringgabaya rata dengan tanah. Sejak saat itu, murid-murid di sekolah ini tidak memiliki ruang belajar yang representatif. Terpaksa, murid ditempatkan di teras. Empat tahun sudah berlalu, gedung-gedung SD ini tidak kunjung diperbaiki.

Kepala SDN 6 Pohgading, Lalu Sudi kepada Suara NTB, Jumat, 15 Juli 2022 menyebutkan semula sekolahnya memiliki enam ruang kelas dan satu ruang guru. Saat ini tersisa tiga ruang ruang. Dari tiga ruang tersisa tersebut dimanfaatkan untuk guru, dan dua ruang lainnya digunakan belajar murid kelas lima dan enam.

Murid  yang belajar di teras sekolah adalah murid kelas dua, tiga dan empat. Dengan demikian menurutnya, murid belajar diteras tanpa pembatas sangat terganggu dan tidak etis untuk kegiatan belajar mengajar.

Disebutkan, saat ini terdapat 66 orang murid kelas I sampai kelas 6. Tahun 2020 lalu, tidak ada satupun murid yang daftar. Baru ada yang daftar lagi tahun 2021 ini. “Jadi kelas dua sekarang kosong,” terangnya. Sedangkan jumalh murid lainnya, kelas tiga 10 orang, Kelas tiga 12 orang, kelas 4, 14 orang. Kelas lima hanya 14 orang dan sisanya kelas 6.

Lalu Sudi mengaku sejak diguncang gempa, SDN 6 Pohgading ini tidak pernah tersentuh bantuan. Pihaknya ini khawatir, murid akan hilang kalau tidak kunjung dilakukan perbaikan gedung. Ada rencana tahun 2023 mendatang baru diberikan Dana Alokasi Khusus (DAK). “Informasinya sudah masuk Aplikasi Kresna,” tuturnya.

Kepsek berharap dengan adanya komite sekolah saat ini, dapat memecahkan permasalah pembangunan. Hal ini agar anak-anak didik penerus bangsa ini bisa belajar dengan baik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Izzudin yang dikonfirmasi mengakui banyak sekolah yang mengalami hal yang sama. Akibat gempa , diidentifikasi sekitar 30 unit sekolah di Lotim yang rusak parah dan belum tersentuh.

Pihak Dikbud Lotim sudah melakukan verifikasi dan validasi data-data keberadaan sekolah. Data sudah diteruskan ke pemerintah pusat. Termasuk melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Semua data sekolah tersebut tinggal didorong saja agar segera dapat bantuan.

Sekolah-sekolah korban gempa ini memang ada persoalan. Di mana ketika dipantau lewat satelit tidak ada, karena sudah roboh. Kebijakan pihak sekolah merobohkan ini beralasan juga, karena khawatir akan berbahaya bagi anak-anak didik lain yang sedang sekolah. Pihak pusat ingin melihat dalam kondisi riil. Tapi di lapangan itu, masyarakat beranggapan berbahaya. “ini persoalannya,” ucapnya.

Semua data lengkap tentang sekolah-sekolah yang rusak itu sudah diteruskan dan pihak Dikbud Lotim tinggal menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lotim diakui tidaklah  mampu untuk membangun gedung-gedung sekolah tersebut. “Jangankan untuk bangun sekolah, anggaran sekarang ini saja kan banyak direfocusing,” paparnya.

Dinas Dikbud Lotim berharap bisa segera cair dana dari pusat, sehingga gedung-gedung sekolah di Lotim korban gempa ini bisa kembali terbangun dan layak ditempati untuk kegiatan belajar mengajar murid. (rus)