Simalakama Penerapan Vaksin Booster

0
Warga cukup ramai mengunjungi area bermain di Taman Sangkareang, Rabu, 13 Juli 2022 malam. Aktivitas sosial masyarakat mulai normal dan perekonomian perlahan pulih. Kebijakan vaksinasi booster menjadi buah simalakama. Masyarakat cenderung acuh dan vaksin booster tidak lagi jadi kebutuhan. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah pusat telah mengeluarkan surat edaran Nomor 21 Tahun 2022 tentang ketentuan perjalanan orang dalam negeri pada masa pandemi Covid-19. Penerapan kebijakan vaksin booster seolah menjadi simalakama. Masyarakat cenderung acuh. Protokol kesehatan mulai diabaikan.

Salah seorang warga Mataram, Ammar seolah tak peduli dengan kebijakan pemerintah tersebut. Ia justru kecewa pemerintah tidak konsisten menerapkan aturan. Sebelumnya, masyarakat diberikan kelonggaran membuka masker di ruang publik. Saat ini, perekonomian masyarakat mulai stabil dengan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. “Baru mulai normal lagi, ada aturan baru,”  jawabnya acuh dikonfirmasi, Kamis, 14 Juli 2022.

Menurut mahasiswa perguruan tinggi swasta di Mataram bahwa pemerintah semestinya perlu melihat kondisi kasus di daerah dan tidak menyamaratakan aturan. Hal ini menyebabkan masyarakat bingung akibat seringnya perubahan regulasi. Dampaknya adalah ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. “Sekarang jadi buah simalakama,” ucapnya.

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa mengakui, perubahan kebijakan oleh pemerintah pusat justru akan membingungkan masyarakat. Sebelumnya, pemerintah sudah memberikan kelonggaran bagi masyarakat untuk melepas masker di ruang tertutup. Kebijakan ini mendapatkan respon positif dan aktivitas ekonomi perlahan bangkit. “Untuk meminta masyarakat mengikuti aturan bukan sesuatu yang mudah dikondisikan,”  kata Nyoman.

Cakupan vaksinasi dosis ketiga atau booster di Kota Mataram telah mencapai 30 persen. Nyoman mengatakan, surat edaran Nomor 21 Tahun 2022 tentang ketentuan perjalanan orang dalam negeri pada masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat. Masyarakat sudah dihadapi persoalan bahwa Covid-19 sudah lama landai. Nuansa kebatinan masyarakat menganggap bahwa sudah tidak ada pandemi. Pola pikir ini yang dihadapi di daerah, sehingga tidak mudah mendorong masyarakat untuk kembali vaksinasi.

Meskipun demikian, Pemkot Mataram tetap berupaya memberikan pelayanan optimal di puskesmas maupun rumah sakit bagi yang membutuhkan vaksinasi. “ Iya, memang tidak gampang,” ucapnya.

Contoh kecil saja sebut Nyoman, tingkat kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan mulai menurun. Turunnya tingkat kedisiplinan seiring juga kebijakan pemerintah pusat memberikan kelonggaran. Untuk mengubah pola pikir masyarakat tidak mudah atau butuh waktu, sehingga ini menjadi tantangan.

Saat Ada Keperluan

Vaksinasi dosis ketiga atau booster justru mengalami pergeseran. Masyarakat mendatangi fasilitas kesehatan untuk vaksin bukan atas kesadaran untuk hidup sehat, melainkan atas dasar keperluan administrasi atau perjalanan.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, dr. Hj. Eka Nurhayati sebelumnya mengatakan, permintaan untuk vaksinasi dosis ketiga tidak terlalu signifikan dibandingkan sebelumnya. Masyarakat hanya datang untuk vaksin booster saat ada keperluan seperti persyaratan perjalanan atau melengkapi administrasi. “Selebihnya ndak ada. Cuma yang datang minta divaksin saat mau perjalanan ke luar daerah,”  kata Eka.

Pihaknya tetap melayani vaksinasi dosis I sampai dosis III. Meskipun, sudah tidak ada tempat khusus yang disediakan seperti pelaksanaan vaksinasi pada bulan Ramadhan lalu. Eka melihat, masyarakat menganggap vaksin booster bukan menjadi kebutuhan untuk meningkatkan daya tahan tubuh,agar tidak mudah terserang virus corona. (cem)