Remitansi PMI NTB Diprediksi Lebih dari Rp1 Triliun

0
H. Mori Hanafi

Johor Bahru (Suara NTB) – Remitansi atau kiriman uang dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) diperkirakan tidak hanya berjumlah Rp 1 triliun per tahun seperti laporan Badan Pusat Statistik (BPS) selama ini. Namun jumlahnya diprediksi mencapai belasan triliun rupiah jika mengacu pada rata-rata penghasilan PMI yang diterima di negara penempatan.

Wakil Ketua DPRD NTB H. Mori Hanafi mengatakan, sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB bahwa jumlah PMI asal NTB di 108 negara penempatan sebanyak 535 ribu orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 60 persen atau sekitar 250 ribu orang berada di Malaysia.

Jika saja rata-rata PMI di Malaysia memperoleh gaji sebesar Rp7 juta per bulan, maka potensi gaji PMI di negara jiran tersebut sebanyak Rp 1,7 triliun. Jumlah tersebut jika dikali 12 bulan atau satu tahun, maka muncul angka sebanyak Rp 21 triliun per tahun.

‘’Memang tak semua penghasilan PMI itu menjadi remitansi. Karena ada yang dibelanjakan di negara penempatan. Namun demikian, katakanlah setiap PMI itu dikirim Rp5 juta perbulan, jumlah remitansi tetap besar,” kata Mori Hanafi di sela pertemuannya dengan perusahaan penempatan di Johor Bahru Malaysia, Rabu, 13 Juli 2022.

Ia mengatakan, jumlah remitansi tersebut banyak memberikan andil terhadap pembentukan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTB yang berjumlah sebesar Rp 140 triliun tahun 2021. Memang penopang terbesar masih di sektor pertanian yang diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian serta perdagangan besar dan eceran, namun remitansi PMI tak dipungkiri memberi sumbangan yang signifikan.

“Share remitansi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB itu tinggi. Belum lagi dampak PMI ini mengatasi pengangguran di dalam daerah. Sehingga saya memang dari dulu menentang jika ada wacana menghentikan pengiriman PMI ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, dari perhitungan Bank Indonesia dan PT Pos Indonesia, laporan remitansi yang masuk ke NTB sekitar 1 triliun per tahun. Namun sesungguhnya PMI memiliki banyak pilihan sarana untuk mengirimkan uangnya ke kampung halaman yang tak tercatat di Bank Indonesia dan PT.Pos, sehingga perkiraan remitansi PMI yang mencapai belasan triliun itu masih tetap bisa diterima.

Sebelumnya Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos.MH mengatakan, dari sekitar 250 ribu PMI asal NTB yang bekerja di Malaysia itu sebanyak 70 persennya adalah pekerja ladang dan sisanya bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga dan lainnya. Mereka telah banyak memberikan sumbangan devisa bagi negara dalam bentuk remitansi. Karena itulah sektor perlindungan dan pemenuhan hak-haknya sebagai pekerja harus dipastikan telah terpenuhi dengan baik.(ris)