Panitia Daerah Siap Sambut Kepulangan Jemaah Haji

0
H. M. Zaidi Abdad (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Jemaah haji asal NTB akan pulang dari tanah suci Mekkah Arab Saudi dalam waktu dekat ini. Proses kepulangan jemaah haji tetap melalui proses seperti pada musim haji sebelumnya. Jemaah haji yang langsung pulang dan tidak dijemput panitia kabupaten agar tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan (prokes).

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) NTB Dr. H. M. Zaidi Abdad, M.Pd., melalui Sekretaris PPIH M. Ali Fikri, menjelaskan, panitia daerah siap menerima kepulangan jemaah haji asal NTB.

“Kesiapan panitia pemulangan menerima kepulangan jemaah Insya Allah siap, masing-masing bidang sudah mengetahui dan memahami tugasnya, begitu pun dengan fasilitas asrama,” jelasnya, Kamis, 14 Juli 2022.

Menurutnya, kepulangan dan penerimaan jemaah di UPT Asrama Haji sudah ada prosedur dan protapnya. Dalam hal ini, ujarnya, tidak ada perubahan seperti tahun sebelumnya, kecuali, ada penyesuaian sedikit, karena, adanya bangunan baru Bir Ali Dua yang semula dipakai parkir oleh keluarga yang menjemput jemaah.

Mengenai alur kedatangan jemaah masuk di Asrama Haji, tambahnya, kemudian keluar diupayakan sederhana, tidak bertele-tele. Begitu juga dengan cara pengaturan pos penitipan dan alur pengambilan kopear, air zam-zam dan bawaan lainnya di tempat dan alur yang strategis, mudah dijangkau, tapi tetap dalam pantauan dan koordinasi panitia, sehingga kelancaran dan keamanan tetap terjaga.

Pada bagian lain, Kakanwil Kemenag NTB H. Zaidi Abdad mengakui, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2022 sudah maksimal. Apalagi  persiapan yang dilakukan hanya sekitar dua bulan. Karena kepastian kuota haji Indonesia diumumkan pada pertengahan April 2022. Sementara pemberangkatan jemaah haji Indonesia mulai pada 4 Juni 2022.

“Dengan dua bulan waktu persiapan, apa yang dilakukan petugas sudah sangat maksimal dalam melayani jemaah haji,” ujarnya.

Begitu juga secara nasional, ujarnya mengutip statemen Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dalam waktu persiapan yang sangat pendek itu, para petugas mampu menyiapkan sejumlah peningkatan layanan. Misalnya, katering yang semula hanya dua kali, tahun ini diberikan tiga kali makan.

Termasuk hotel di Madinah tetap bisa di kawasan markaziyah dengan kualitas minimal setaraf hotel bintang tiga. Demikian juga di Makkah, hotel setaraf bintang tiga. Layanan bus shalawat juga berjalan 24 jam melayani jemaah dari hotel ke Masjidil Haram, pergi pulang.

Meski demikian, tambahnya, masih ada ruang untuk melakukan peningkatan layanan. Dari catatan Menteri Agama, ungkapnya, ada sejumlah perbaikan yang perlu dilakukan di masa yang akan datang.

Misalnya, perumusan mitigasi setiap potensi persoalan, terutama di Arafah dan Mina, secara lebih detail dan operasional. “Tahun ini tidak ada isu listrik di Arafah, tapi ada peristiwa listrik padam di terowongan Mina. Alhamdulillah, tidak ada korban,” terangnya.

Perbaikan lainnya pada aspek pembimbing ibadah. Ke depan, pembimbing ibadah harus menguasai ilmu fikih haji secara mumpuni. “Ini akan kita dorong melalui program sertifikasi pembimbing ibadah haji,” terangnya.

Pemerintah pusat juga akan memperbanyak pembimbing ibadah haji perempuan, karena mayoritas jemaah Indonesia adalah perempuan.

Terkait tenda di Mina, katanya penentuan lokasinya ditetapkan oleh Lajnatul Ulya Lil Hajj. Lembaga ini diketuai oleh Menteri Dalam Negeri Arab Saudi. Setelah ditetapkan, lalu dibuatkan peta lokasi, baru diserahkan ke Menteri Haji Arab Saudi untuk dibagikan kepada Syarikah selaku pelaksana masing-masing negara.

Menteri Agama, tambahnya, pada 11 Juli 2022 telah menggelar rapat evaluasi dengan delegasi Amirul Hajj, membahas evaluasi penyelenggaraan puncak haji Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Rapat berlangsung di Kantor Daerah Kerja Makkah.

Rapat evaluasi ini merumuskan sejumlah catatan perbaikan, antara lain, pemeriksaan kesehatan jemaah untuk mendeteksi jemaah risiko tinggi sebelum berangkat. Selain itu, optimalisasi fungsi televisi hotel dan sosial media untuk sosialisasi, pembinaan penyusunan program KBIH, penyiapan naskah khutbah wukuf di tenda jemaah. Termasuk mengefektifkan koordinasi petugas haji Indonesia dengan petugas maktab.

Hal lain yang mesti dipenuhi pada musim haji berikutnya adalah keberadaan posko haji khusus di hotel terdekat Masjidil Haram dan Nabawi, desain baju petugas ditambah identitas negara Indonesia berbahasa Arab. Memperbanyak toilet wanita di Arafah dan Mina, penguatan manasik haji di daerah masing-masing, penyiapan kursi roda dan mobil golf untuk evakuasi jemaah sakit di Mina.

‘’Begitu juga peningkatan kualitas Pembimbing Ibadah Haji (TPIHI) dengan penguasaan fiqih haji yang baik. Serta petugas Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH) diisi orang dengan pengetahuan medis dan fisik kuat,’’ terangnya. (ham)