Kawasan Wisata Mekaki, Masih ’’Blank Spot’’ dan Terkendala Sarana Dasar

0
Kawasan Mekaki Sekotong ini memiliki objek wisata menarik. Sayangnya, sarana komunikasi dan sarana dasar masih harus dilengkapi. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Mekaki merupakan salah satu kawasan di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang menarik minat banyak investor untuk berinvestasi. Mulai di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dua kali groundbreaking dilakukan Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi ketika itu. Selanjutnya, kali ini kembali dilakukan groundbreaking dihadiri Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah.

Keindahan Pantai Mekaki dengan pasir putih yang membentang, pulau kecil di tengah laut dan dikelilingi perbukitan menambah keindahan kawasan yang terletak di bagian selatan Lobar itu. Hal ini menjadi daya tarik bagi investor untuk berlomba-lomba berinvestasi di daerah itu. Namun sayang, dari sekian kali groundbreaking oleh investor justru tak berlanjut ke pembangunan fasilitas penginapan, sehingga sangat wajar, pembangunan Hotel The Apurva Kempinski yang ditandai groundbreaking Rabu, 13 Juli 2022 sangat diharapkan bisa terlaksana.

Kawasan Mekaki berada di perbukitan bagian ujung barat Sekotong. Lokasinya ini menyebabkan kawasan ini sulit sinyal telekomunikasi dan dijangkau sarana dasar seperti listrik dan air bersih. Bupati Lobar H. Fauzan Khalid yang dikonfirmasi terkait langkah menangani kendala di kawasan itu, mengatakan soal sinyal sudah menjadi program nasional. Di mana Menkominfo, menargetkan tahun 2024 Indonesia tuntas black spot. ‘’Karena 2022 ada satelit diluncurkan yang memiliki kapasitas dua kali lipat dari saat ini,’’ ujarnya.

Terikait fasilitas dasar air bersih dan listrik? Menurutnya begitu ada industri akan otomatis masuk pelayanan air bersih dan listrik ke daerah itu. “Karena bagaimana PDAM masuk kalau ndak ada industri? Jadi dia otomatis karena ini pasar. Jadi ndak perlu khawatir, air dan listrik, begitu industri masuk dia ikut,” kata dia.

Mengenai keseriusan investor, bupati menyebut tergantung dari reputasi dan kepercayaan perusahaan. Seperti, Wings Group atau Kempinski. Pihaknya akan terus memantau pelaksanaan kegiatan di lapangan selepas groundbreaking tersebut.

Sementara itu,  Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Lobar H. Ahmad Subandi memastikan keseriusan dari investor ini. “Jadi ini serius, berhenti PT “akan” itu,” kata dia.

Begitu selesai membangun, investor langsung mulai membangun. Tahap awal pembangunan dimulai dari gudang, kantor, mess dan hotel. Namun dari rencana awal kamar yang dibangun 200 kamar menjadi 254, sehingga untuk izin perlu ke pusat untuk Amdalnya.

Untuk 200 kamar hotel itu sudah keluar izinnya, karena sesuai ketentuan untuk jumlah kamar 200 bisa dikeluarkan oleh gubernur, sedangkan kalau 100 kamar dikeluarkan oleh Bupati. Sedangkan jumlah kamar lebih dari 200, maka perlu izin ke pusat. “Inilah Nantinya akan diurus setelah groundbreaking, kami akan bantu proses perizinan,” ujarnya.

Direktur PT Teluk Agung Alami Hendra Sujanto menegaskan pihaknya serius membangun hotel di kawasan Mekaki. Hal ini dibuktikan dengan keseriusannya melengkapi semua hal yang diperlukan untuk pembangunan. “Kami sangat serius dalam pembangunan, kami sudah persiapkan. Jadi  kami sudah punya pengalaman di Jakarta dan Bali, bahkan di sini (Mekaki , red) desain kita awal-awal sudah selesai,” tegasnya. Pihaknya membangun sebanyak 254 kamar, yang dibangun bertahap satu areal mengacu konsep yang telah dibuat. (her)