Kantor Bahasa NTB Sambut Baik Penyediaan 2,9 Juta Buku

0
Puji Retno Hardiningtyas. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB, Puji Retno Hardiningtyas, menyambut baik aksi program nyata Gerakan Literasi Semesta (Gelis) yang menyasar wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di NTB. Program yang digalakkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tersebut bertujuan untuk memperkuat semangat literasi, salah satunya di Provinsi NTB.

“Kantor Bahasa NTB sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sangat mengapresiasi peran dan dukungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan adanya bantuan penyediaan 2,9 juta buku di wilayah Provinsi NTB. Apalagi bantuan ini diperuntukkan bagi wilayah 3T, yaitu tertinggal, terdepan, dan terluar. Ini salah satu gebrakan yang dapat memicu semangat para pegiat literasi, komunitas literasi, dan taman baca di NTB untuk terus menyebarkan dan menumbuhkan literasi dari lingkungan terkecil,” ujar Puji Retno Hardiningtyas dalam siaran yang diterima, Rabu, 13 Juli 2022.

Ia menambahkan sudah selayaknya negara melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Kantor Bahasa NTB hadir menjalankan amanah Undang-Undang Dasar. Pemerataan pengetahuan dan pemahaman literasi, terutama di wilayah yang masih sulit terjangkau harus terus diperhatikan, dibenahi, dan dilaksanakan.

“Saya yakin upaya nyata ini juga tentu atas hasil kerja keras dan semangat pemerintah daerah, para pegiat dan komunitas literasi yang ada di NTB untuk terus menyuarakan kebutuhan masyarakat akan buku-buku berkualitas dan bermanfaat. Ketika kita berbicara tentang literasi, kita tidak hanya berbicara tentang Indeks Tingkat Literasi tersebut, tetapi bagaimana fasilitas dan penyediaan buku penunjang merata tersebarluaskan ke berbagai wilayah di NTB,” ujar Retno.

Geliat program ini mendorong Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk semakin berbenah dan melakukan berbagai rangkaian aksi nyata. Pihaknya mendukung dan juga hadir sebagai salah satu inisiator penghubung antara kebutuhan wilayah di NTB dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang menjadi fasilitator utama.

“Sesuai dengan slogan kami, Kami Melayani Anda dengan Cepat, Akuntabel, Netral, Transparan, Inovatif, dan Kreatif (CANTIK) dan mewujudkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang Bermartabat Bermanfaat,” ujarnya dihubungi di sela-sela mengikuti kegiatan Penilaian SAKIP di Jakarta, Rabu, 13 Juli 2022.

Mengacu pada program Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan pada tahun 2018 lalu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo mengatakan upaya peningkatan literasi perlu dilakukan, karena adanya indikasi kehilangan pembelajaran atau learning loss yang signifikan di kalangan siswa ditambah banyaknya siswa yang putus sekolah. Bahkan dari hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tahun 2021 fakta menunjukkan bahwa siswa yang berhasil mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca yakni kurang dari 50 persen.

Menurut Imam, jika pemerintah tidak segera membuat terobosan, maka dampak dari hilangnya pembelajaran akan terus dirasakan bahkan meski pandemi telah usai. Salah satu upaya mendesak yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut adalah menambah ketersediaan bahan bacaan bagi siswa dengan melakukan pencetakan dan pengiriman buku ke daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T), seperti wilayah NTT dan NTB.

Selain menjadi langkah cepat, Imam menilai dalam menanggulangi penurunan kualitas pendidikan, pencetakan dan pengiriman buku ke daerah 3T juga menjadi komitmen untuk mengedepankan amanat Nawacita yang menekankan pentingnya membangun Indonesia dari daerah pinggiran dengan menguatkan sisi sosial, ekonomi, dan sumber daya manusia. “Bila selama ini pembangunan Indonesia terfokus hanya di kota besar saja, saatnya sekarang pembangunan dirasakan pula oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah 3T,” tekannya. (ron)