Pemkot Mataram Terus Upayakan Pencegahan Stunting

Mataram (Suara NTB) —  Pemerintah Kota Mataram terus mengupayakan berbagai cara untuk mencegah stunting di Kota Mataram. Salah satunya, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Mataram bersama Dinas Kesehatan mengadakan Penyuluhan Pencegahan Stunting di Aula Pendopo Walikota Mataram, Rabu, 6 Juli 2022.

Penyuluhan itu dihadari Ketua Forum kader kelurahan se-Kota Mataram sebanyak 50 orang, Ketua TP PKK Kecamatan sebanyak enam orang, Ketua TP PKK Kelurahan yang menjadi lokus stunting sebanyak 25 orang dan Kepala Puskesmas se-Kota Mataram sebanyak 11 orang. Hadir juga dalam pembukaan kegiatan,  Ketua GOW Kota Mataram Hj. Waridah Mujiburrahman dan   Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Mataram Hj. Baiq Herlina Idayani Effendy Eko Saswito.

Foto bersama Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana bersama sebagian peserta kegiatan.(Suara NTB/ron)

Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana dalam sambutannya menjelaskan, stunting sedang menjadi primadona yang banyak dibicarakan baik dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan dan kelurahan. Data angka stunting di Kota Mataram di tahun 2022 terlihat berada di tiga terendah. Namun data yang terkumpul baru 47 persen, artinya belum lengkap jika data terkumpul belum menyentuh angka 70 persen. Pihaknya akan berupaya selama lima bulan ke depan untuk menekan angka stunting sehingga Kota Mataram tidak berada di urutan terendah.

“Berkaca pada tahun 2021, saya optimis dengan kerja keras Dinas Kesehatan, para ibu ketua TP PKK, beserta seluruh kader, dan didukung dari Pita Putih Indonesia, saya yakin minimal, angka stunting Kota Mataram masih sama dengan tahun 2021, saya optimis, dengan kerja keras dan optimis dari semua pihak dan Kader, saya yakin angka stunting di Mataram bisa ditekan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat sebagai sasaran pencegahan stunting harus datang dulu ke Posyandu, kalau sasaran sudah 100 persen datang ke Posyandu, tolok ukurnya menjadi jelas. “Jadi dengan sasaran itu bisa hadir, bisa terukur angka stunting kita. Silakan ibu-ibu aktifkan kembali Posyandu, pantau di mana posyandu belum aktif dan belum maksimal sasarannya. Ini mempengaruhi angka stunting di Mataram,” ujarnya.

Di samping itu, pihaknya menyoroti cara pengukuran di Posyandu. Diakuinya, salah satu tantangan di Posyandu yaitu terkendala alat. Alat belum standar sehingga cara pengukuran berbeda. Kondisi ini mempengaruhi angka stunting.

Kalau sudah memakat alat pengukuran digital  dan yang sudah ter-tera secara rutin, maka hasilnya diyakini jauh lebih akurat. “Ini yang harus kita kejar, agar semua Posyandu dalam  lima bulan ini memakai alat yang standar,” ujarnya.

Pencegahan stunting juga diyakini lebih mudah di Kota Mataram dengan didukung tingkat pendidikan masyarakat di Kota Mataram yang lebih maju. Selain juga kesadaran masyarakat yang lebih baik.

Sementara bagi anak yang terindikasi stunting, menurut Kinnastri, bentuk perawatannya berupa Dinas Kesehatan akan memberikan makanan tambahan dan pendampingan gizi oleh kader Posyandu.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting yaitu pola kebijakan pemerintah agar fokus mengatasi stunting, salah satunya mengadakan penyuluhan. TP PKK terus melakukan pencegahan melalui sosialisasi kepada kader dan ibu di setiap Posyandu Keluarga. Dengan begitu diharapkan bisa mengubah pola pikir masyarakat.

“Bicara stunting, bukan dalam tahap pengobatan, tapi fokus tahap pencegahan. Upaya yang bisa dilakukan dengan menguatkan kualitas kader di lapangan. Tolong ibu-ibu fokus benar-benar mengikuti penyuluhan, sehingga bisa menyosialisasikan ke kader. Ketika ketua (PKK Kecamatan dan Kelurahan) memahami, hanya tinggal dibutuhkan motivasi dan inovasi yang muncul dari ketua kecamatan maupun kelurahan ke kader,” jelas Kinnastri.

Di samping itu, pencegahan bisa dilakukan di Posyandu Remaja. Para remaja diberi masukan mengenai kesehatan. Posyandu Remaja harus bisa mengedukasi remaja mengenai pentingnya zat besi bagi perempuan. Zat besi yang cukup akan mempengaruhi pertumbuhan bayi.

Selain itu, ujar Kinnastri, ada pola lain yang bisa ditempuh yaitu memberikan tablet tambah darah khusunya di SMP dan SMA. Bisa melalui gerakan minum tablet tambah darah bersama-sama.

“Kalau bisa dilaksanakan setiap satu minggu, bisa memperbaiki, ada usaha kita mencegah stunting, dan itu menjadi bagian dari penilaian,” ujarnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat  Dinas Kesehatan Kota Mataram, I Gusti Bagus Bagiyasa, S.H., menjelaskan, berbagai cara pencegahan stunting yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Mataram yaitu dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan, yaitu dari hari pertama dikandung sampai anak berusia dua tahun.

“Artinya kepada ibu dan bayi, ibu harus memberikan ASI ekslusif, dalam enam bulan hanya ASI, tidak boleh makanan tambahan. Wajib ASI eksklusif dari 0-6 bulan, setelah itu baru makanan tambahan,” ujarnya.

Di samping itu, adanya  kelas ibu hamil di Puskesmas. Pihaknya memberikan edukasi ibu hamil, terkait pemenuhan gizi, memberikan tablet tambah darah bagi ibu hamil.  Diharapkan supaya ibu hamil itu sehat, ketika melahirkan tidak mengalami kendala.

Posyandu kita tetap berjalan sebulan sekali, yang masih jadi persoalan tingkat kehadiran sasaran masih rendah. Selain itu, alat ukur harus yang sudah terstandarisasi. “Kami sudah melakukan pelatihan kepada perwakilan kader di masing-masing Posyandu untuk bisa melakukan pengukuran, karena jika salah cara pengukuran akan mempengaruhi hasil,” jelasnya.

Sementara di usia remanja, pihaknya mengintervensi melalui pemeriksaan kesehatan pada remaja, pemberian tablet tambah darah di SMP dan SMA. Juga melalui sosialisasi kepada kader remaja terkait kesehatan reproduksi dan kesehatan mental. “Tujuannya untuk mencegah pernikahan anak. Pernikahan anak berpotensi melahirkan bayi stunting, karena sisi kesehatan repruduksi dan mental belum siap,” ujarnya.

Pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Mataram Yuni Hardini, A.Md.Gz., memaparkan mengenai angka stunting di Kota Mataram tahun 2022 di tiap kecamatan. Pemateri lainnya, Rilla Kurniati Taufiq, S.IP., dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana memaparkan tentang Pendampingan Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting.

Penyuluhan ini ditutup oleh Ketua Pokja 4 TP PKK Kota Mataram, Lalu Budiawan. Ia menyimpulkan, stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu dua sektor. “Perlu kebersamaan kita semua, lintas sektor dan lintas program,” ujarnya. (ron)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Bang Zul Apresiasi Masjid Sederhana di Desa Wakan

0
Mataram (Suara NTB) – Menyapa langsung masyarakat Nusa Tenggara Barat mulai dari tokoh agama tokoh pemuda, bahkan masyarakat kecil sekalipun. Itulah cara Gubernur NTB,...

Latest Posts

Bang Zul Apresiasi Masjid Sederhana di Desa Wakan

Mataram (Suara NTB) – Menyapa langsung masyarakat Nusa Tenggara...

Lagu Sasak Masuk Kompilasi Video Musik Wonderland Indonesia 2

Mataram (Suara NTB) - Lagu Sasak “Lalo Ngaro” dari...

1.856 Rumah di Kota Bima Masih Kumuh

Kota Bima (Suara NTB) - Dinas Pekerjaan Umum dan...

Bupati Lobar Promosikan Wisata Olahraga Bersepeda di Senggigi

Giri Menang (Suara NTB) - Keindahan alam dan pantai...

Kasus Tanah Eks GTI, Menteri ATR/BPN akan Cek ke Gili Trawangan

Jakarta (Suara NTB) – Menteri Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan...