Pasar Ternak Tutup, Saudagar Sapi Pasarkan Ternak secara Daring

0
Ternak siap diantarkan ke pembeli yang sudah memesan secara daring. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Pasar Ternak Masbagik  merupakan pasar ternak terbesar di NTB. Pasar tersebut notabenenya menjadi satu-satunya tempat transaksi jual beli ternak yang representatif di Lotim. Akan tetapi, selama wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pasar ternak itu tutup. Kondisi ini memaksa para saudagar ternak untuk mencari solusi cara penjualan.

Adalah Muhammad Rohman Hariadi, salah satu saudagar di Dusun  Belet Desa Bagik Payung yang sudah menjalani proses penjualan sapi secara daring. Kepada Suara NTB, Rabu, 6 Juli 2022, ia menuturkan penjualan secara daring ini ternyata jauh lebih menguntungkan.

Apalagi menjelang hari raya kurban. Sekarang ini katanya, harga jual secara online ini justru mengalami kenaikan hingga 30 persen. Harga sapi sebelumnya Rp 13 juta per ekor kini bisa dijual seharga Rp 15 juta perekor.

Selama dua pekan terakhir ini, sudah 15 ekor sapi Rohman laku terjual dengan sistem pembayaran Cash on delivery (COD). Dengan kendaraan carry pick up miliknya, ia siap mengantarkan kemana saja di seluruh Lombok ini sapi-sapi pesanan pelanggannya.

Sajauh ini tempat paling jauh diantarkan ke BTN Puncang Gunung Sari. Selebihnya sebagian besar di wilayah Kabupaten Lotim. Menurut Rohman, penjualan secara daring ini ternyata cukup menggiurkan.  Selam dua pekan terakhir ini, disebut bisa meraup keuntungan Rp 15 juta. Satu ekor bisa mendapatkan keuntungan bersih rata-rata Rp 1 juta.

Serangan wabah PMK pada terna sapi ini diakui cukup merugikan bagi petani. Diakui bagi saudagar atau pengepul sapi sebenarnya tidak ada ruginya. Bahkan dinilai jauh lebih menyenangkan pemasaran online dari pada penjualan lewat pasar ternak. “Kadang ada yang merasa lebih baik ditutup terus pasar ternak, akan tetapi kalau tutup terus yang rugi kan peterak,” akuinya.

Saudagar ini mengakui lebih senang menjual secara daring. Cukup dengan posting gambar sapinya lalu dibagikan ke grup whatshapp atau aplikasi medsos lainnya. Bagi pemain baru, sambungnya penjualan secara daring mungkin akan kurang menguntungkan. Akan tetapi, bagi pemain lama ternyata cara daring ini menggiurkan.

Jelang Idul Adha ini juga, sapi banyak diburu calon pembeli. Kondisi ini membuat banyak yang menaikkan harga. Kenaikan harga sapi ini mencapai rata-rata 30 persen. “Sapi sekarang menjadi jarang, karena pembeli kan memburu sapi yang sehat,” terangnya lagi.

Ditambahkan, saat wabah PMK melanda ini memang sangat merugikan bagi peternak. Harga sapi yang sakit sangat anjlok. Pengalaman Rohman sendiri banyak membeli sapi yang masih sakit lalu diobati. Dengan pengobatan tradisional, selang beberapa  hari sudah bisa sembuh. “Kita pakai buat ramuan dari daun-daun bebais, pakai gula merah untuk mulut dan lainnya,” sebutnya.

Khusus untuk penyebuhan luka pada kuku-kuku ternak, Rohman menggunakan bahan bakar minyak (BBM) merek Pertamax. Penggunaan Pertamax ini katanya cukup bagus untuk penyembuhan luka, karena bisa lebih cepat kering. (rus)