Izin Prinsip Lahan Tuntas, Pembangunan Kereta Gantung Tunggu Kepastian Investor

0
L. Wiranata (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Rencana pembangunan kereta gantung di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) kini tinggal menunggu kepastian dari pihak investor. Adapun terkait persoalan izin prinsip penggunaan lahan untuk lokasi pembangunannya sudah tidak ada persoalan.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan Daerah (BP3D) Loteng, L. Wiranata, Rabu, 6 Juli 2022.

Dihubungi wartawan di ruang kerjanya, L. Wiranata mengatakan, sebelumnya rencana pembangunan kereta gantung tersebut sempat terkendala pemanfaatan lahan. Pasalnya, lahan yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan kereta gantung berada di kawasan hutan lindung. “Tapi sekarang statusnya sudah berubah jadi taman hutan rakyat (tahura). Jadi secara aturan sudah boleh dimanfaatkan lahannya,” sebutnya.

Rencananya, titik awal pembangunan fasilitas kereta gantung tersebut dimulai lahan kawasan Tahura Nurakse di Desa Karang Sidemen. Memanjang hingga area pelawangan menuju Danau Segara Anak di jalur pendakian Loteng. Dengan panjang tali kereta membentang hingga lebih dari belasan kilometer.

Soal kekhawatiran pembangunan kereta gantung tersebut bakal merusak hutan dan lingkungan, ia menegaskan dari studi kelayakan yang dilakukan, dampaknya terbilang kecil. Pasalnya, untuk pembangunan satu tiang kereta butuh lahan kurang dari satu are. Dan, tidak perlu sampai ada penerbangan pohon di sepanjang jalur kereta gantung.

Pasalnya, tali kereta berada jauh di atas, sehingga nyaris tidak ada interaksi dengan lingkungan yang ada di bawahnya yang sampai mengharuskan ada perambahan hutan. “Kalau bicara dampak lingkungan, sangat kecil. Karena hanya ada tiang yang dibangun di atas lahan kurang dari satu are untuk satu tiangnya. Selebihnya tidak ada,” jelasnya.

Memang ada khawatiran juga, keberadaan kereta gantung tersebut bakal mematikan usaha bagi para porter di jalur pendakian gunung Rinjani dari Loteng, karena orang tidak akan mau mendaki lagi melalui jalur pendakian yang ada dan memilih menggunakan kereta gantung, bisa dikatakannya itu sangat subjektif, mengingat pasarnya berbeda-beda.

Para pendaki tetap bisa mendaki melalui jalur pendakian yang ada, karena jalur pendakian tidak ditutup. “Kereta gantung ini dibangun untuk menjawab keinginan masyarakat yang ingin menikmati pemandangan di TNGR terutama Danau Segara Anak. Tetapi tidak kuat untuk mendaki. Sementara bagi mereka yang sudah mendaki, bisa tetap mendaki di jalur yang sudah ada,” imbuhnya.

Dengan begitu semua kalangan bisa diakomodir dalam hal ini. Baik itu para orang tua maupun anak-anak yang tidak kuat mendaki. Maupun mereka yang masih muda dan sanggup untuk mendaki, semua terakomodir keinginnanya untuk menikmati pemandangan di kawasan TNGR. Mengingat selera dan cara setiap orang untuk menikmati pemandangan alam berbeda-beda. Ada yang lebih suka dengan bertualang. Ada juga yang lebih suka dengan cara yang cepat dan mudah.

“Justru dengan keberadaan kereta gantung tersebut akan mengundang lebih banyak wisatawan untuk datang ke daerah ini. kalau wisatawan sudah ramai, maka perekonomian masyarakat setempat dengan sendiri akan ikut bergerak,” tandasnya. (kir)