Penjualan Hewan Kurban di Loteng Lesu

0
Pedagang menjajakan kambing kurban di kelurahan Leneng Praya, Selasa, 5 Juli 2022. Tahun ini penjualan kambing kurban lesu, karena mahalnya harga jual. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Penjualan hewan kurban, khususnya kambing jelang hari raya Idul Adha tahun ini di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terasa lesu. Menurunnya daya beli masyarakat disinyalir jadi penyebab utamanya. Kondisi tersebut kian diperparah dengan mahalnya harga jual hewan kurban yang berkisar antara Rp3 sampai Rp5 juta/ekor.

Sejak mulai membuka lapak dagangan hewan kurban sepekan yang lalu, sejumlah pendagang kambing di seputaran Kota Praya, Selasa, 5 Juli 2022. mengaku kalau jumlah hewan kurban yang sudah laku terjual cukup bervariasi. Ada yang baru menjual dua ekor, ada pula yang baru menjual sampai lima ekor.

“Kalau yang punya chanel bagus dan sudah ada langganan tepat, bisa menjual sampai 10 ekor sejauh ini,” kata Hidayatulhah, pedagang kambing di Kota Praya. Memang banyak yang datang hendak membeli kambing untuk kurban. Tapi begitu tahu harganya, rata-rata urung membeli. Karena harga dinilai terlampau mahal.

Pedagang pun mengaku tidak bisa berbuat banyak soal harga. Karena harga beli kambing dari masyarakat juga mahal. Mengingat kambing yang dijual saat ini semuanya kambing lokal yang memang dipelihara oleh masyarakat. Tidak ada kambing luar yang didatangkan ke Loteng.

Pasalnya, sejak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di Loteng dan Pulau Lombok umumnya, pengiriman kambing dari luar daerah sekarang sudah tidak ada. Apalagi yang berasal dari pulau Jawa. Padahal kambing luar tersebut menjadi andalan pedagang hewan kurban. Lantaran harganya bisa lebih murah dari kambing lokal.

“Dibandingkan dengan harga kambing lokal, harga kambing luar lebih murah. Selisihnya bisa sampai Rp300 ribu/ekor. Sehingga kalau ada kambing luar masuk, kami  bisa menjual tentunya dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.

Pun demikinan, lanjut Sakurniawan, pedagang kambing lainnya, dalam kondisi sekarang ini pedagang kambing juga tidak bisa berbuat. Karena penutupan pengiriman hewan dari luar dari merupakan keputusan pemerintah. Pihaknya hanya bisa menerima keputusan pemerintah. Sehingga meski harganya lebih mahal, pihaknya tetap menjual kambing lokal.

Dengan masih beberapa hari lagi jelang hari raya Idul Adha, pedagang  berharap bisa menjual kambing lebih banyak lagi. Karena biasanya, permintaan kambing kurban meningkat jelang lebaran. “Biasanya puncak orang banyak beli kambing kurban itu antara H-2 sampai H-1 lebaran. Mudah-mudahan tahun ini lebih baik,” tegasnya.

Pihaknya memastikan kalau kambing-kambing yang dijual sudah diperiksa oleh petugas Dinas Pertanian Loteng dan dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan Kuku (PMK). Sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir saat membeli hewan kurban. (kir)