Pemkot Mataram Terus Pacu Integrasi Posyandu Keluarga dengan Lintas Sektor

Mataram (Suara NTB) – Pelayanan Posyandu terus berubah dari waktu ke waktu. Jika dulunya, pelayanan hanya untuk ibu hamil, bayi dan balita, kini pelayanannya mencakup aspek yang lebih luas. Misalnya pelayanan untuk remaja hingga lansia, sehingga kini Posyandu yang konvensioal telah berubah menjadi Posyandu Keluarga.

Tak sampai di situ, Posyandu Keluarga juga sudah diintegrasikan dengan lintas sektor yang lain seperti pengelolaan sampah yang akan berdampak pada kebersihan lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Saat ini, seluruh Posyandu di Kota Mataram sudah menjadi Posyandu Keluarga. Sehingga pelayanannya dilakukan secara komprehensif dan integrasi antara Posyandu Ibu Anak, Posbindu, Posyandu Lansia, dan atau pelayanan lainnya yang ada di wilayah lingkungan yang dilaksanakan dalam waktu bersamaan.

Kader Posyandu sedang menimbang berat badan balita saat pelayanan Posyandu berlangsung

Selasa, 5 Juli 2022, tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTB melakukan kunjungan ke Posyandu R.A Kartini yang terletak di Lingkungan Banjar, Kelurahan Dasan Agung Baru, Kota Mataram. Kemenkes dan Dinas Kesehatan Provinsi NTB ingin melihat lebih dekat aktivitas Posyandu Keluarga di lingkungan tersebut yang saat ini sudah  terintegrasi dengan lintas sektor yang lain.

Project Management Office Stunting Kementerian Kesehatan Dahlan Khoiron dalam kesempatan tersebut mengatakan, Posyandu Keluarga di Kota Mataram dan di Provinsi NTB secara umum menjadi wujud nyata bagaimana pelayanan masyarakat diintegrasikan secara bersama-sama. Jika di masyarakat sudah dilakukan pemindaian permasalahan kesehatan, maka bisa diantisipasi lebih dini persoalan yang ada.

“Sehingga masyarakat tak perlu pergi ke rumah sakit atau puskemsas untuk kasus-kasus yang semestinya bisa selesai di Posyandu ini. Dengan ini, masyarakat cenderung merasa lebih memiliki. Mau menjaga kesehatannya secara mandiri. Ini sangat bagus sekali.” ujar Dahlan usai meninjau aktivitas Posyandu R. A Kartini.

Adapun terkait dengan masalah stunting di Provinsi NTB, dengan adanya Posyandu Keluarga ini, balita bisa terdeteksi sejak dini jika ada persoalan gizi yang dihadapinya. Pihak Puskesmas dan kader Posyandu Keluarga bisa melakukan intervensi terhadap anak yang bermasalah dengan gizi tersebut.

Pihaknya juga mengapresiasi jika ada lurah atau kades yang peduli dengan Posyandu dan  mengalokasikan anggarannya untuk kesehatan masyarakat. Tentu dengan program ini, masyarakat menjadi sehat dan angka stunting akan menjadi turun.

“Termasuk nanti sasaran-sasaran remaja, atau usia produktif. Ketika mau hamil, maka Posyandu Keluarga mulai memberi edukasi agar mereka memeriksa kehamilannya secara lengkap, menjaga konsumsi dengan bagus, sehingga mencegah bayi yang lahir stunting,” ujarnya.

Sementara itu Kasi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Dikes Kota Mataram,Dian Novita yang ikut mendampingi kunjungan tersebut mengatakan, pihaknya akan terus mengintensifkan proses terintegrasinya Posyandu Keluarga dengan lintas sektor yang lain agar semua persoalan di masyarakat bisa diselesaikan di tingkat posyandu,karena Posyandu keluarga bukan hanya masalah kesehatan tetapi pusat edukasi semua masalah sosial di masyarakat. Karena itulah Dinas Kesehatan Kota Mataram mengapresiasi Posyandu R.A Kartini di Lingkungan Banjar, Kelurahan Dasan Agung Baru yang sudah memiliki program yang cukup lengkap.

Misalnya ada program “Rumah Senja” yang menjadi program pemberdayaan para lansia dalam pengolahan sampah. Di sini, lansia diberikan tong komposter sebagai tempat membuang sampah organik yang selanjutnya menjadi pupuk bagi tanaman.Ini merupakan salah satu bentuk integrasi Posyandu Keluarga dengan lintas sektor yang lain.

“Masalah pengelolaan sampah kan masalah kesehatan dan lingkungan hidup. Jadi ini merupakan integrasi yang bagus sekali. Kedepan kita juga berharap di Posyandu Keluarga yang lain bisa terus melakukan inovasi,” terangnya.

Misalnya di Kecamatan Sekerbela ada program inovasi yang bernama “Pilsadar” yang merupakan akronim dari pilah sampah dari rumah. Dinas Kesehatan akan berkoordinasi dengan Kecamatan Sekarbela agar bagaimana program Pilsadar ini bisa terintegrasi dengan Posyandu Keluarga.

“Artinya sasaran yang hadir ke Posyandu itu bisa menyerahkan sampah plastiknya dan ditimbang di Posyandu dan menjadi nilai ekonomis bisa sebagai tabungan atau operasional posyandu tersebut. Kita harapkan juga dengan OPD lain seperti Dukcapil dengan program pelayanan mobile-nya agar bisa datang ke masyarakat untuk pencatatan dan pengurusan data kependudukan saat digelarnya pelayanan Posyandu. Kita berharap ada integrasi dengan Posyandu Keluarga,” katanya.

Posyandu secara umum memiliki empat kategori yaitu pratama, madya, purnama, dan mandiri. Dimana kategori yang paling tinggi adalah mandiri. Pemkot Mataram terus berupaya agar semua Posyandu di daerah ini berada di level mandiri dan bintang 3 gemilang syaratnya yaitu Posyandu tersebut harus terintergrasi dengan lintas sektor lain di luar kesehatan.

“Di Posyandu Keluarga ini, diarahkan untuk melayani seluruh sasaran yang ada di keluarga, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, Posbindu dan lansia,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Dinas Kesehatan Provinsi NTB Romy Hidayat mengatakan, Kementerian Kesehatan saat ini sedang mengembangkan program Posyandu Prima dengan tujuan untuk memperkuat pelayanan primer. Salah satu syaratnya yaitu adanya integrasi sasaran dengan pendekatan siklus hidup yaitu dari bayi hingga lansia. Namun sejatinya prinsip Posyandu Prima tersebut sudah dijalankan di Provinsi NTB dalam bentuk Posyandu Keluarga.

“Sehingga oleh Kemenkes, NTB dinilai sudah sangat siap ketika akan ditranformasikan menjadi Posyandu Prima. Nah inilah Kemenkes datang untuk melihat penerapan Posyandu Keluarga tersebut dengan pendekatan siklus hidup tadi,” ujarnya.

Posyandu Keluarga menjadi pusat edukasi masyarakat, sehingga tidak hanya masalah kesehatan saja, namun masalah sosial juga diharapkan bisa dituntaskan di Posyandu Keluarga ini. Sehingga dalam aplikasinya Posyandu Keluarga memiliki lima langkah yang harus dilalui oleh sasaran. Lima langkah tersebut meliputi pendaftaran, kedua pengukuran dan penimbangan, langkah tiga pencatatan dan screening langkah empat yaitu konseling dan pelayanan kesehatan serta langkah kelima yaitu validasi data dan  evaluasi yang menghasilkan perencanaan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Para kader Posyandu R.A Kartini sendiri menangani sebanyak 50 anak balita dan 14 bayi di bawah satu tahun. Sementara usia produktif dan lansia yang menjadi sasaran Posyandu ini sebanyak 120 orang. Lansia dan sasaran posbindu yang datang langsung mendaftarkan diri, menimbang berat badan, mengukur lingkar perut, konseling, cek laboratorium di petugas Puskesmas dan mendapatkan makanan tambahan. (ris)

amman




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Asyik Swafoto Wisatawan Kelahiran Israel Tewas Terjatuh dari Puncak Rinjani

0
Selong (Suara NTB)-Sekitar pukul 05.30 Wita, Jumat tanggal 19 Agustus 2022, wisatawan kelahiran Israel berkebangsaan Portugal meninggal terjatuh di ketinggian 150 meter dari Puncak...

Latest Posts

Asyik Swafoto Wisatawan Kelahiran Israel Tewas Terjatuh dari Puncak Rinjani

Selong (Suara NTB)-Sekitar pukul 05.30 Wita, Jumat tanggal 19...

JNE Raih 2 Penghargaan Bergengsi Kriteria Pelayanan Pelanggan

Jakarta (Suara NTB) -Kinerja maksimal dalam seluruh aspek yang...

Yuk Belajar Cara Pengiriman Uang ke Luar Negeri yang Mudah & Murah

Pengiriman uang ke luar negeri di zaman serba digital...

Kado Kemerdekaan ke 77 RI, Sistem Transmisi Bima-Sape Operasi Penuh

Mataram (suarantb.com)- Tanggal 17 Agustus 2022, bertepatan dengan perayaan...

Dispora NTB Usulkan Porprov NTB Ditunda

Mataram (Suara NTB) - Rencana KONI NTB menggelar Pekan...