DLHK Dampingi Sosialisasi Pilsadar di Sekarbela

0
Tim Satgas Zero Waste Dinas LHK NTB melakukan pendampingan sosialisasi Pilsadar (Pilah Sampah dari Rumah) di Kecamatan Sekarbela. (Suara NTB/ist)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) – Selama dua hari, 2 hingga 3 Juli 2022, Tim Satgas Zero Waste Dinas LHK NTB melakukan pendampingan sosialisasi Pilsadar (Pilah Sampah dari Rumah) di Kecamatan Sekarbela.

Pilsadar adalah suatu sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, dengan memberikan edukasi dan kesadaran pada masyarakat. Gerakan yang merupakan inisiatif dari Camat Sekarbela.

Program Pilsadar ini diluncurkan pada tanggal 30 Juni 2022 di Aula Kantor Camat Sekarbela kemudian memilih lima RT di lima kelurahan untuk dijadikan lokasi percontohan Pilsadar yaitu : RT. 05 Lingkungan Kekalik, Kelurahan Kekalik Jaya, RT 06 Lingkungan Sembalun kelurahan Tanjung Karang, RT. 12 Kelurahan Tanjung Karang Permai, RT. O4 BTN Mapak Indah, Kelurahan Jempong Baru dan RT 01 Lingkungan Mutiara Mas  Kelurahan Karang Pule.

Sosialisasi dilakukan di lokasi yang telah ditunjuk sebagai percontohan dengan menghadirkan Ketua RT dan masyarakat yang terlibat serta dikomandoi oleh Lurah masing-masing. Dalam sosialisasi tersebut, warga dijelaskan tentang cara memilah sampah di rumah. Setiap kepala keluarga akan diberikan dua buah karung. Karung untuk sampah organik ditulis dengan warna hijau dan untuk sampah non organik ditulis dengan warna biru. Sampah organik akan dijemput petugas dua kali dalam sepekan, yaitu hari Senin dan Kamis dari pukul 06.00 – 08.00 wita sedangkan sampah non organik akan dijemput hari Sabtu pada jam yang sama.

Selain mendapat dua buah karung dari kelurahan, Dinas LHK NTB juga turut memberi dukungan dengan membagikan composter bagi setiap warga. Pemberian composter bag untuk memberi solusi bagi warga yang menghasilkan sampah organik lebih banyak. Mengingat sifatnya yang mudah membusuk dan menimbulkan bau, maka composter bag ini dapat menjadi solusi sederhana mengatasi hal tersebut yaitu mengompos sampah organik.

Camat Sekarbela,  Cahya Samudra, S. STP, MM mengungkapkan bahwa Gerakan Pilsadar salah satu implementasi misi “HARUM” Kota Mataram yaitu Mandiri. Artinya warga Sekarbela mulai belajar mandiri dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat dan menghidupkan lagi semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Selain itu, gerakan ini juga merupakan aksi nyata dari Kecamatan Sekarbela menindaklanjuti kebijakan yang di keluarkan oleh UPTD TPA Regional Kebon Kongoq, bahwa per 1 Juli 2022 TPAR kebon Kongok hanya menerima sampah yang sudah terpilah.

Kebijakan ini cukup menuai  pro dan kontra dari sebagian besar masyarakat dan petugas dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok  Barat, sehingga menyebabkan beberapa unit kendaraan pengangkut sampah tertahan di pintu masuk TPAR karena membawa sampah yang belum terpilah.

Pengambilan keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Kondisi timbunan sampah di TPAR telah mencapai ketinggian level berbahaya, yaitu dengan ketinggian lebih dari  40 Meter. Jika tidak diantisipasi maka timbunan sampah ini dapat menimbulkan bencana dan tidak mampu lagi menampung sampah yang masuk setiap harinya mencapai 200-350 ton per hari.

Oleh karena itu, pemerintah provinsi sejak tahun 2019 melakukan berbagai upaya untuk memperpanjang usia operasional TPAR kebon Kongok. Seperti mengganti metode timbunan sampah dengan metode open dumping (tanpa penutupan dengan tanah) menjadi controled landfill (penutupan sampah dengan tanah urug), litbang SRF (solid recovered fuel) kerjasama dengan PT. Indonesia Power, Pengolahan sampah organik dengan Bioteknologi BSF di Lingsar, pengomposan hingga  pencacahan sampah plastik.  Namun hal ini tidak dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi sampah yang belum terpilah.

Kepala Dinas LHK Provinsi NTB, Julmansyah, S.Hut, M.A.P, menyampaikan bahwa Implementasi kebijakan ini memang tidak gampang, karena hal ini erat kaitannya dengan mengubah kebiasaan dan paradigma berfikir masyarakat tentang pengelolaan sampah. Dari pola Kumpul, angkut, buang menjadi Kurangi, Pilah dan Olah sampah dari rumah.

Namun rasa optimisme tetap ditanamkan terlebih lagi terdapat komitmen dari pimpinan daerah. Dan akan mudah dilakukan jika dimulai dari skala kecil yaitu dari rumah tangga karena volume sampah yang diolah masih kecil. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini, tutupnya (r/*)