Apartemen Layak Dibangun di NTB

0
H. Heri Susanto. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi NTB dinilai sudah layak dijadikan lokasi untuk membangun apartemen. Mengingat, sampai saat ini, satu pun bangunan apartemen belum berdiri di Provinsi ini.

“Kota (Mataram) ini sudah layak sebenarnya. Daerah Dasan Agung, Daerah Gomong, itu sudah layak,” kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB, H. Heri Susanto saat ditemui,  Selasa, 6 Juli 2022. Kendati demikian, untuk mendirikan apartemen menurut pemilik perusahaan property Histo Land ini tidaklah mudah.

“Hanya kadang kala kami, para pebisnis property lokal sepertinya belum mempunyai kemampuan yang cukup,” ungkap Heri. Ia menjelasakan, untuk membanggun  apartemen bukan hanya berbicara finansial belaka, tetapi mencakup beberapa aspek yang harus turut mendukung.

“Bukan (hanya) masalah finansial. Kalau kita berbicara apatemen, minimal ada tiga hal. finansial, power dan manajement,” terangnya. Terkait power, Heri memaparkan besarnya peran pemerintah dalam hal mendirikan apartemen. Para pengusaha property harus mampu bekerjasama dengan pemerintah dan seluruh stakeholders.

Karena bagaimana pun, pemerintahlah yang memiliki kuasa atas pengelolaan tata ruang dan perizinan di suatu daerah. “Untuk membangun apartemen, faktor pendukung yang sangat penting adalah power. Kalau mau membangun apartemen, pemerintah harus merelokasi warganya, membayar ganti rugi lahan dan lain sebagainya.

Ini tidak bisa dilakukan secara biasa. Harus punya kekuatan jaringan untuk mengkoordinasikan seluruh syarat-syaratnya,” kata Heri. Tekanan sosial terutama sekali. Apalagi untuk memindahkan atau mengosongkan sebuah kawasan untuk menyulapnya menjadi apartemen.

Heri kemudian menyampaikan kondisi terkini di Surabaya, bahwa apartemen-apartemen di sana sudah berdiri megah khusus untuk mahasiswa. Ada yang lima tower, bahkan sepuluh tower. Tetapi sampai saat ini, dirinya tetap optimis terkait pendirian apartemen di NTB, khususnya Mataram. Sudah bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa. Daripada membayar cicilan kos-kosan menurutnya lebih baik dikonversi sebagai cicilan apartemen. Layaknya cicilan rumah subsidi.

“Kami sudah mulai wacana itu. Hanya itu tadi, pemerintahnya. Apa-apa yang memulai itu, berat. Kalau pemerintahnya sudah oke, pengusaha siap-siap saja,” pungkasnya. (bul)