Sempat Gagal Karena Anomali Cuaca, Petani di Loteng Kembali Tanam Tembakau

0
Petani asal Desa Kidang Praya Timur, tengah menanam tembakau di antara tanaman tembakau yang hancur sebelumnya, karena diterjang hujan lebat, Senin, 4 Juli 2022.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Hampir sebagian besar petani tembakau di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) yang tanaman tembakaunya rusak, karena tingginya intensitas hujan di wilayah ini, memutuskan kembali menanam tembakau. Kendati ancamanan gagal tanam belum sepenuhnya hilang. Petani berharap dengan menanam tembakau kembali, hasilnya bisa menutupi kerugiaan akibat kegagalan saat penanaman yang pertama.

“Kalau kita tidak menanam tembakau lagi, itu artinya kita harus menanggung kerugian total. Tapi kalau menanam lagi masih ada harapan untuk bisa menutupi kerugian yang kemarin. Kalau tanaman tembakau yang kedua ini berhasil,” ungkap Sawidi, petani asal Desa Kidang, Praya Timur, Senin, 4 Juli 2022.

Ia mengatakan, hampir semua petani yang sebelumnya mengalami kegagalan lantaran tanaman tembakaunya hancur karena hujan memutuskan kembali menanam tembakau Dengan modal seadanya. Bahkan ada yang sampai harus menggadaikan barang berharga miliknya, seperti kendaraan dan lainnya.

Selain untuk biaya persiapan, modal juga digunakan untuk membeli bibit tembakau, karena pada tanam yang kedua kalinya, bibit harus didatangkan dari luar. Mengingat, bibit tembakau yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh petani sudah habis ditanam pada saat tanam yang pertama kemarin.

Itu artinya, petani harus menambah modal untuk bisa membeli bibit. Belum lagi untuk pupuk dan obat-obatan yang harganya juga tidak murah. Jadi untuk tanam yang kedua kali ini, modal yang dibutuhkan lebih besar lagi. “Kalau saat tanam yang pertama kemarin, bibit hasil penyemaian sendiri. Tapi kalau untuk tanam yang kedua ini, petani harus datangkan dari luar. Dan, itu butuh modal,” terangnya.

Sebelumnya, para petani yang tanaman tembakaunya rusak sempat didata dan katanya akan memperoleh bantuan benih tembakau. Namun pada kenyataan, hingga petani mulai menanam yang kedua bantuan benih tembakau yang dijanjikan tak kunjung datang, sehingga mau tidak mau petani harus membeli bibit sendiri.

Sawidi mengaku, menanam tembakau memang menjadi alternatif utama para petani untuk ditanam dan diharapkan bisa menutupi kerugian saat tanam yang pertama kemarin dengan melihat kondisi lahan yang ada. Walau ancaman kegagalan yang kedua masih membayangi, dengan melihat kondisi cuaca yang tidak menentu sekarang ini.

“Mau menanam padi dengan cuaca yang tidak menentu sekarang ini juga berisiko. Jadi petani memilih lebih baik menanam tembakau. Karena kalau berhasil, sedikit tidak bisa menutupi kerugian yang diawali kemarin,”  tandas Tarnadi, petani tembakau lainnya. (kir)