Pemilahan Sampah dari Rumah Tangga Jadi Tantangan

0
H. Kemal Islam. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB per 1 Juli telah menerapkan kebijakan sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongo, harus sudah terpilah. Komitmen ini telah disepakati oleh Pemkot Mataram. Pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi tantangan berat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram H. M. Kemal Islam menjelaskan, kebijakan pemilihan sampah sebenarnya mulai diberlakukan pada awal Januari 2022. Namun, Pemkot Mataram dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat meminta kebijakan Pemprov NTB, supaya diberikan kesempatan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan pelaku pengelolaan persampahan sehingga 1 Juli sampah yang dibuang ke TPA Kebon Kono sudah terpilah.

Alhamdulillah, permintaan itu disetujui oleh Pemprov dan diberlakukan mulai 1 Juli pekan kemarin,” kata Kemal ditemui usai menghadiri acara pengambilan sumpah jabatan pimpinan tinggi pratama di Lingkup Pemkot Mataram, Senin, 4 Juli 2022. Sampah yang terpilah diberikan kebijakan secara bertahap minimal lima persen yang terbuang ke TPA Kebon Kongo.

Ia mencontohkan, satu dump truck mengangkut 2,5 ton sampah. Artinya, lima persen dari 2,5 ton sudah terpilah. Kemal menyadari bahwa pemilahan sampah itu paling sulit di tingkat rumah tangga. Perlu secara marathon mensosialisasikan kepada masyarakat agar memulai pemilahan sampah. “Saya menjadwalkan sosialisasi ke 325 lingkungan mulai Selasa – Kamis,” terangnya.

Sosialisasi sebelumnya sudah dilaksanakan ke petugas operator roda tiga, petugas kebersihan, dan penyapuan. Kendati demikian, target 100 persen sampah terpilah dari rumah tangga adalah tantangan berat, sehingga membutuhkan kesadaran masyarakat. Paling penting menurutnya, pemilahan sampah plastik. Pasalnya, sampah plastik tidak bisa diurai dan mempercepat pemenuhan land field di TPA Kebon Kongo.

Karena itu, ia mengharapkan partisipasi masyarakat dan tidak mesti seluruh tanggungjawab diserahkan sepenuhnya ke pemerintah. Masyarakat diminta memilah sampah sisa makanan di dapur yang nantinya dijadikan makanan maggot. Kedua, sampah sisa sayur-sayuran. Ketiga, sampah botol plastik, kertas, dan kardus dijadikan satu. Keempat, sampah hasil sapuan halaman rumah.

Kemal menegaskan, sampah milik warga yang tidak terpilah akan ditolak, karena memiliki konsekuensi terhadap pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongo. “Kita tidak terpilah sampah milik warga akan kita tolak. Percuma juga kita angkut karena di TPA juga akan ditolak. Sama artinya kita menghabiskan BBM ke sana kemudian ditolak juga,” katanya. (cem)