Terjebak Pinjol Ilegal, Nasabah Diteror dan Dipermalukan

0
Ilustrasi ciri-ciri pinjol

Pinjaman online (pinjol) masih merajalela. Tawarannya masif dilakukan melalui media sosial (medsos). Pinjol ini menawarkan kemudahan masyarakat yang membutuhkan dana secara instan. Syaratnya sangat gampang. Tinggal kirim foto dan KTP, pinjaman sudah diterima di rekening. Tapi di balik kemudahan itu, nasabah hanya menunggu waktu sengsara. Jika utang tidak segera dibayar siap-siap dipermalukan.

CERITA terjebak pinjol ilegal ini dialami DEP, mantan karyawan sebuah perusahaan swasta. Karena sudah di-PHK akibat pandemi Covid-19, DEP menjadi kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga. DEP mencoba tawaran pinjol yang berseliweran di laman media sosialnya.Kemudian mengajukan penawaran pinjaman sebesar Rp1,5 juta. Kemudian diberi pinjaman lagi Rp1,8 juta, begitu seterusnya, hingga lebih dari sepuluh aplikasi tempatnya meminjam.

Dari nilai pinjaman kata DEP, hanya separuhnya terealisasi, sisanya untuk potongan administrasi. Sisa utang di masing-masing aplikasi pinjol ada Rp2,2 juta, ada juga sebesar Rp2,3 juta, ada Rp3 juta, ada Rp1,5 juta. Sehingga total pinjaman  yang belum terbayar sekitar Rp20-an juta. Padahal, setoran rutin terus dilakukan.

Beberapa nama aplikasi pinjaman online ini, di antaranya, DS, PL, UN, PB, TH, PA, PT, UKU, AK, PB. Hanya akibat keterlambatan pembayaran cicilan, DEP mulai diteror hampir setiap saat dengan kata-kata yang sangat kasar dan istilah-istilah yang tidak manusia.

Demikian juga nomor-nomor yang ada dalam kontak ponselnya, dari nomor keluarga, tetangga, kerabat, dan handai taulan serta teman pun ikut diteror dengan kata-kata yang tidak pantas.

“Saya dipermalukan kepada semuanya. Selain menyebut jumlah utang, foto saya juga dipajang di seluruh nomor kontak yang ada di HP saya. Dengan mengatasnamakan saya sebagai buronan, maling, tukang judi, pengedar narkoba, bahkan disebut sebagai hewan najis,” tuturnya pada Ekbis NTB pekan kemarin.

Padahal, dirinya sudah memiliki niatan untuk melunasi utang yang terus menumpuk nilainya itu. Namun karena keterbatasan kemampuan, apalagi ia korban PHK oleh kantor tempatnya bekerja. tentu cicilannya tidak bisa terbayar secara lancar.

‘’Saya dan keluarga menjadi hilang rasa nyaman. Sampai akhirnya saya jenuh, saya tunggu yang neror ini datang. Mau saya laporkan langsung karena sudah merusak nama baik saya. Tapi sampai sekarang tidak ada yang datang,’’ katanya.

Karena ketidaknyamannya di tetangga, masyarakat sekitar yang juga mendapatkan SMS dari pinjaman online, DEP pada Mei lalu sudah melaporkan persoalan yang dialami ke OJK NTB. Harapannya, agar terungkap siapa saja orang-orang yang melakukan praktik kotor ini.

Kondisi serupa juga dialami, Ir, salah seorang warga Lombok Barat (Lobar) yang pernah berurusan dengan pinjol. Ir menuturkan, dirinya pernah terjebak dalam skema pinjol sekitar tahun 2021 lalu. Dari sekitar Rp10 juta pinjaman yang diakses di beberapa aplikasi pinjol ilegal, kewajiban yang harus dia bayar saat ini sekitar Rp20 juta, karena terus berbunga.

Lantaran gagal bayar, data diri beserta foto disebar ke semua nomor kontak yang ada di HP miliknya. Karena saat mengakses pinjaman di pinjol ilegal mensyaratkan semua kontak di HP peminjam bisa diambil, maka mereka dengan leluasa melakukan teror dan menyebar data diri peminjam ke semua nomor kontak tersebut.

Perusahaan pinjol ilegal itu, ujarnya, akan mengedit foto dan KTP peminjam dan ditambahkan dengan narasi-narasi yang sangat kasar, kemudian disebar ke semua nomor kontak yang ada di HP peminjam tersebut. Tidak hanya nomor kontak yang berhasil diambil oleh pinjol ilegal, namun semua data di HP juga bisa diambil, termasuk semua aplikasi yang pernah diunduh, sehingga tindakan mereka dinilai masuk dalam kategori pencurian data.

Salah satu yang menjadi ciri khas pinjol ilegal adalah kemudahan dalam pencairan dana pinjaman namun dengan tenor waktu yang sangat pendek yaitu satu minggu. Pada hari kelima setelah mendapat dana pinjaman, perusahaan tersebut sudah mulai menagih dengan cara meneror bahkan melakukan penyebaran data.

Saat berurusan dengan pinjol ilegal, tambahnya, suku bunga pinjaman sering tidak jelas. Sebab saat masyarakat mengakses pinjaman ke satu aplikasi tertentu, aplikasi ini kerap bertindak sebagai broker yang menghubungkan antara peminjam dengan pemberi dana.

“Dalam satu aplikasi itu, ada lebih dari 20 link untuk melakukan peminjaman. Biasanya masyarakat akan terjebak di sana. Begitu masyarakat mengklik tanpa verifikasi konten, akan banyak link itu yang akan transfer dana ke peminjam,” katanya.

Soal bunga pinjaman memang kerap tidak masuk akal. Ia mencontohkan, jika masyarakat mengakses pinjaman sekitar Rp 2 juta ke aplikasi pinjol itu, maka yang akan masuk ke rekening biasanya jauh berkurang dari itu misalnya Rp 1,2 juta dengan tenor tujuh hari. Sebelum hari ke tujuh, mereka sudah mengirim SMS peringatan bahkan teror agar pinjaman segera dikembalikan.

Jika si nasabah tak mampu mengembalikan pinjamannya dengan cepat, maka aplikasi itu akan mengarahkan nasabah tersebut untuk mengakses pinjaman lagi ke link tertentu agar dana sebelumnya bisa terbayar. Begitulah seterusnya, seperti gali lubang tutup lubang, sehingga si nasabah benar-benar terjebak dalam skema pinjol ilegal tersebut.

Dirinya memberi apresiasi terhadap upaya pemerintah pusat untuk memberastas perusahaan pinjol ilegal ini. Namun demikian ia masih melihat adanya aplikasi perusahaan pinjol ilegal ini yang masih lolos dari pemantauan Kominfo, sehingga ia berharap ketegasan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

Pinjol ilegal semakin meresahkan lantaran diduga memperjualbelikan data pribadi seseorang. Data yang mereka ambil dari nasabahnya diduga dijual lagi ke perusahaan pinjol lainnya. Indikasinya yaitu para nasabah yang mengakses di satu perusahaan pinjol akan menerima penawaran dari perusahaan-perusahaan pinjol lainnya melalui nomor kontak.

Selanjutnya pria yang bekerja di sektor swasta ini memberi saran kepada masyarakat yang belum pernah mencoba mengakses aplikasi pinjol ini agar menghindarinya. “Yang legal-pun sebenarnya kita diwanti-wanti agar jangan pernah melakukan. Bahkan yang legal saja mereka masih melakukan penagihan dengan bahasa yang kurang enak,” sarannya.

Pengalaman pahit serupa juga dialami YN. Salah satu pengajar Taman Kanak-kanak di Kabupaten Lobar menyesal dan harus menanggung malu. Bagaimana tidak, dirinya dipermalukan secara sosial oleh layanan pinjol  tempatnya meminjam dana.

Awalnya YN tergitu menjadi nasabah, karena kemudahan yang ditawarkan. Cukup dengan memfoto diri dengan KTP, kemudian mengirim identitas KTP. Tak lama, dana sudah diterima di rekening. Siapa sangka, janji menolong pemberi pinjaman rupanya petaka sosial baginya.

Seluruh kontak di nomor HP YN sudah menjadi senjata, semua diteror. Teman, kolega, keluarga, dan handai taulan. Sebuah pemberitahuan masuk ke WhatsApp, ke SMS.  Mengaku dari AB, dan menyebut, seluruh nomor kontak di HP YN sudah dijadikan kontak darurat. Dalam pemberitahuannya, aplikasi ini menyampaikan atas nama YN, alamat, dan tempat bekerja sedang berutang. Dan diminta kepada pemilik kontak untuk mengingatkan YN agar segera menyelesaikan utang-utangnya di aplikasi YN.

Dalam pemberitahuan aplikasi ini, dicantumkan juga foto wajah YN close up dengan menunjukkan KTP di bawah dagu. Aplikasi ini bahkan menyebut YN dengan istilah-istilah yang sangat kasar dan tidak manusiawi.

Aplikasi ini juga menyatakan kepada seluruh nomor kontak yang ada di ponsel YN, jika tidak mengingatkan YN untuk melunasi utang-utangnya, maka akan terus diteror. Hal ini tentu sangat mengganggu bagi semua pemilik kontak yang tidak tahu menahu perihal pinjaman ini. (bul/ham)