Bahas Isu Buruh Migran, Komisi V DPRD NTB Raker dengan Disnakertrans dan BP2MI

0
Pertemuan Komisi V DPRD NTB dengan Disnakertrans Provinsi NTB bersama BP2MI. (ist/Disnakertrans)
ads top adsamman

KOMISI V DPRD Provinsi NTB mengundang Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB dan Balai Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Selasa, 28 Juni 2022. Undangan dalam rangka rapat kerja (Raker) terkait penanganan PMI di NTB.

H. Lalu Hadrian Irfani, ST, M.Si dari Komisi V memimpin rapat kerja tersebut, di mana hadir juga sejumlah asosiasi tenaga kerja di Provinsi NTB, APJATI dan APPMI.

Melalui Raker ini, Hadrian berharap bisa menghasilkan solusi terkait beberapa hal yang menyangkut ketenagakerjaan, mengingat Provinsi NTB termasuk lima besar sebagai provinsi penyalur PMI tertinggi.

Akhir-akhir ini terjadi kasus yang menimpa warga NTB akibat bujuk rayu para calo atau tekong yang memberangkatkan PMI secara unprosedural.

Pekan lalu, Komisi V melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Ketenagakerjaan untuk berdiskusi menemukan langkah atau solusi dalam rangka mengurangi kasus PMI unprosedural yang akhir-akhir ini marak terjadi.

Melalui raker hari ini, ada beberapa agenda pembahasan yang ingin diketahui oleh Komisi V. Diantaranya mendapatkan informasi terkait perkembangan terakhir kondisi warga NTB yang menjadi korban kecelakaan speed boat di Batam, menemukan langkah konkrit untuk memulangkan warga kembali warga NTB sehingga bisa segera berkumpul bersama keluarga masing-masing.

Selain itu, ingin mengetahui edukasi apa saja yang yang telah dilakukan oleh Disnakertrans NTB dan BP2MI agar CPMI tidak berangkat dengan cara unprosedural.

“Berbicara masalah PMI, seperti tidak pernah tuntas. Namun demikian, harus ditemukan solusi untuk menyelamatkan warga NTB yang pada dasarnya memiliki cita-cita luhur, yaitu menjadi PMI karena ingin memperbaiki perekonomian keluarga,” ujar Hadrian.

Disnakertrans Beberkan Modus PMI Unprosedural

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Prov. NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos, MH menyampaikan, pekan lalu sebanyak 150 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) NTB diberangkatkan ke Malaysia dengan menggunakan pesawat carter yang dibiayai oleh perusahaan Sime Darby Plantation.

PMI prosedural saat ini berjumlah 535.000 orang di 108 negara penempatan dan 70 persen PMI bekerja di Malaysia, yang kedua adalah negara-negara Timur Tengah.

Berdasarkan data, jumlah remitansi yang diterima oleh Provinsi NTB dari Bulan Januari-Mei 2022 sebesar Rp500 miliar lebih, dengan rincian melalui Western Union sebesar Rp271 miliar dan melalui bank milik pemerintah sebesar Rp240 miliar.

“Begitu besar kontribusi PMI untuk daerah kita, sehingga tidak salah PMI disebut sebagai pahlawan devisa. Data remitansi adalah dana yang dikirimkan oleh PMI yang berangkat melalui jalur prosedural,” ujar Gede.

Terkait kasus kecelakaan speed boat di Batam masih terus dipantau. Bahkan untuk mendapatkan informasi terkini, pihaknya memiliki jaringan komunitas masyarakat Sasak yang ada di Batam. Menurut informasi ada 30 warga NTB yang menjadi korban kecelakaan speed boat, padahal kapasitas speed boat hanya untuk 15 orang.

Mereka berangkat ke Batam seperti warga yang ingin jalan-jalan jadi tidak dilengkapi dokumen. Salah satu pelaku termasuk menjadi korban hilang pada kecelakaan speed boat ini.

Kasus ini awalnya ditangani oleh aparat TNI Kepri, kemudian diserahkan ke shelter BP2MI di Kepri. Dari 23 orang selamat, 21 orang dalam keadaan sehat dan 2 orang butuh perawatan. Kasus ini ditangani oleh Polda Kepri dan datanya di backup oleh Polda NTB.

“Polda NTB siap memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Polda Kepri. Proses pemulangan baru bisa dilaksanakan setelah ada titik terang dalam proses hukum,” ungkap Gede.

Berdasarkan pengamatannya, tingginya kasus PMI unprosedural akhir-akhir ini karena sejak tahun 2020 atau sejak pandemi  Covid melanda, penempatan Malaysia ditutup. Bahkan Tahun 2021 Malaysia memulangkan PMI asal NTB. Selain itu, perbedaan peraturan di sejumlah negara penempatan memiliki pengaruh pada tingginya kasus penempatan unprosedural. Adanya kebijakan konversi visa yang berlaku di beberapa negara penempatan inilah yang dimanfaatkan oleh calo/tekong.

Biasanya PMI unprosedural berangkat dengan menggunakan visa kunjungan, visa umroh atau visa suaka kemudian setibanya di negara penempatan, dengan adanya kebijajan konversi visa, mereka mendapatkan visa kerja dan izin tinggal, sehingga menjadi legal menurut aturan di negara tersebut. Namun tidak mendapatkan perlindungan yg memadai, bahkan PMI tersebut tidak mengetahui isi perjanjian kerjanya, karena semuanya diurus oleh mafia TPPO.

CPMI yang berangkat secara non prosedural dg menggunakan vis kunjungan, tidak membutuhkan rekomendasi desa, disnaker apalagi layanan di LTSA. Mereka cukup mengurus paspor kunjungan di Imigrasi.

“Kementerian luar negeri sudah mengimbau negara penempatan terkait masih adabya kebijakan konversi visa ini. Namun faktanya kita tidak bisa mengintervensi kebijakan negara lain,” ujarnya.

Jika merunut ke desa, biasanya Kepala Desa tidak mengetahui warganya menjadi PMI. Dalam laporannya, Gede mengungkapkan peran pemerintah kabupaten/kota sangat penting terutama di desa dan dusun dalam memberikan edukasi kepada warganya agar tidak berangkat dengan jalur unprosedural. Pemprov NTB mengapresiasi Kabupaten Lotim yang sudah membentuk tim terdiri dari P3MI dan asosiasi dalam mensosialisasikan peluang kerja di luar negeri.

“Saya lihat di Lombok Timur sudah mulai tertib. Harapan ke depannya kami didukung penambahan pejabat pengantar kerja di kabupaten/kota, karena informasi kesempatan kerja luar negeri harus disampaikan oleh pejabat yang tepat dan kompeten,” ujar mantan Kadis Kominfotik ini.

BP2MI Paparkan Potret PMI NTB

Sementara itu, Kepala BP2MI NTB Abri Danar Prabawa melaporkan dari tahun 2007 sampai Februari 2022 ada 535.000 PMI NTB yang bekerja di luar megeri. Jika dijabarkan per-kabupaten, posisi pertama ditempati Lombok Timur dengan jumlah PMI 235ribu. Disusul Lombok Tengah kurang lebih 146 ribu. Dari 108 negara penempatan, paling besar ada di Malaysia sekitar 77 persen, kemudian diikuti Saudi Arabia, Hongkong, Taiwan, Brunei Darussalam, dan diikuti oleh Uni Emirates Arab.

“Potret pekerja migran NTB yang penempatannya di Malaysia memang paling banyak bekerja sebagai pekerja ladang dengan jumlah 41 ribu. Lalu pekerja bangunan ada 638 orang, jumlah ini sangat timpang jika dibandingkan dengan yang bekerja di ladang. Kemudian disusul pekerja ART (housemaid). Dari ke 3 jabatan itu kita sepakat bahwa jabatan itu no skill,” papar Abri.

Tahun 2021 PMI yang dipulangkan sebanyak 26.996, dimana kepulangan terbanyak berasal dari Malaysia. Padahal sebelum pandemi, rata-rata setiap tahun ada sekitar 20 ribu PMI yang dikirim dengan hampir 90% penempatannya ke Malaysia, Hal ini menjadi salah satu penyebab banyaknya terjadi kecelakaan PMI akhir-akhir ini.

Abri menyampaikan dari data BP2MI tahun 2021-2022 sudah terjadi 4 kecelakaan PMI unprosedural dengan 100% kecelakaan kapal tujuannya ke Malaysia.

Kabar baiknya, pada semester 1 tahun ini, hasil pencegahan keberangkatan PMI ilegal yang dilakukan oleh BP2MI ada 187 orang dengan tujuan keberangkatan terbanyak ke Saudi Arabia, yang kebanyakan perempuan. Angka ini naik 100% dari tahun lalu yang berjumlah 68 orang. Sementara dari Disnaker sendiri ada 54 orang yang sudah dicegah hingga saat ini. Asal CPMI yang paling banyak dari Loteng, Lotim, dan Sumbawa.

Penyebab kasus yang banyak terjadi adalah karena keberangkatan tidak prosedural. Hal ini menimbulkan banyak permasalahan lainnya, seperti di Timur Tengah seringkali terjadi permasalahan PMI tidak digaji, disiksa, atau diperlakukan tidak manusiawi. Kalau di kawasan Malaysia, penyebab kasus kebanyakan karena PMI overstay.

Selain itu ada juga permasalahan lain, yaitu ketika PMI mengalami masalah di negara penempatan, masalah belum selesai tapi PMI sudah dipulangkan. Padahal seharusnya permasalahannya diselesaikan dulu di negara tersebut karena pemerintah sudah menyediakan lawyer di sana.

Karena itulah, lanjut Abri, sektor domestik untuk rumah tangga ke Saudi Arabia dari tahun 2015 sampai saat ini belum dibuka oleh Pemerintah. Namun meski begitu tetap masih banyak warga NTB yang ingin berangkat ke Saudi sebagai ART.

Contoh kasus kemarin 24 orang CPMI ilegal yang dicegah adalah 100 persen warga NTB yang dijanjikan berangkat ke Saudi. Beberapa hari kemudian juga dilakukan pencegahan 7 orang CPMI ilegal asal Bima yang akan diberangkatkan ke Saudi juga.

“Kenapa mereka ini tidak mau mengikuti jalur prosedur karena kebanyakan mereka ini tidak punya kompetensi. Rata-rata pendidikan mereka ini hanya lulusan SD. Padahal menjadi PMI prosedural sangat lah mudah, apalagi ke Malaysia. Baru-baru ini perusahaan Malaysia sudah berkunjung ke NTB mengungkapkan bahwa mereka butuh PMI kita,” ungkap Abri.

Karena itu, Pemprov NTB melalui Disnakertrans Provinsi NTB dan BP2MI sudah melakukan Koordinasi dengan BLK, agar CPMI ilegal yang dipulangkan kemarin diberikan pelatihan kompetensi agar siap dikirim sebagai PMI prosedural.

Dalam UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang perlindungan PMI telah dibagi tugas dan peran masing-masing pemerintah dari pemerintah pusat hingga pemerintah desa. Karena itu semua pihak perlu melakukan upaya bersama agar perlindungan PMI maksimal. (*)