Ketua DPRD NTB Berharap Pelaku Pelecehan Seksual Dihukum Seberat-beratnya

0
Hj. Baiq Isvie Rupaeda (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda mengecam dugaan pelecehan terhadap sejumlah mahasiswi di Kota Mataram. Karena perebutan terduga pelaku dinilai telah menginjak-injak harkat dan martabat perempuan. “Ini harus diusut tuntas, tidak bisa main-main soal kasus ini. Karena ini menyangkut harkat martabat perempuan, masa depan perempuan, dan juga menyangkut kemanusiaan,” ujar Isvie saat di DPRD NTB, Kamis, 30 Juni 2022.

Menurut Isvie dugaan perbuatan pelecehan terhadap seksual terhadap 10 orang mahasiswa tersebut dinilainya sebagai kejahatan yang luar biasa. Sehingga ia mendorong Aparat Penegak Hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan berharap dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.

“Saya yakin korbannya tidak hanya 10 orang, bisa lebih, makanya harus diusut tuntas. Ini kejatahan yang luar biasa, sehingga pelaku harus dihukum seberat-beratnya, hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya.” tegas Isvie.

Dikatakan Isvie ksus dugaan pelecehan seksual dengan korban yang sangat banyak itu sudah mencoreng dunia pendidikan dan juga nama Provinsi NTB. Sebab pemberitaan terkait kasus tersebut kini telah menjadi viral dan menjadi perhatian masyarakat luas. “Pembuatan pelaku ini sudah mencoreng dunia pendidikan kita, nama daerah kita. Apalagi pelakunya adalah seorang oknum Dosen gadungan. Dan kita minta para korban ini harus diberikan pendampingan,” katanya.

Kasus kejahatan seksual terhadap mahasiswi di perguruan tinggi di NTB bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya juga kasus pelecehan oknum dosen kepada mahasiswinya juga pernah terjadi di salah satu perguruan tinggi di NTB. Karena itu politisi Partai Golkar itu meminta perguruan tinggi di NTB agar mulai berbenah untuk meminimalisir terjadinya pelecehan seksual pada mahasiswi dengan melarang dosen memberikan bimbingan di luar jam kerja atau dilakukan di luar kampus.

“Ini juga penting untuk kebijakan kampus agar tidak boleh lagi melayani konsultasi mahasiswa di luar kampus dengan dosen. Ini untuk meminimalisir kejadian serupa terjadi kembali,” cetusnya. Isvie juga mengimbau pada mahasiswi agar juga menjaga diri dan menghindari interaksi dengan dosen yang dinilai di luar kebiasaan dengan mengajak bertemu di luar jam kerja dan di luar area kampus.

“Saya mengimbau pada adik-adik mahasiswi agar terus menjaga diri, jangan mau terbuai dan jangan pernah sekali-kali ke rumah Dosen. Konsultasi di jam kerja saja dan di kampus. Karena perbuatan ini kan semuanya terjadi di luar kampus, ini suatu yang keliru, tidak usah dilakukan lagi,” pungkasnya. (ndi)