Angka Konsumsi Ikan di NTB Tembus 50,21 Kg Per Kapita Per Tahun

0
Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj. Niken Saptarini, dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lombok Utara, didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim dalam kampanye gemar makan olahan pangan berbahan dasar ikan di Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Angka konsumsi ikan masyarakat NTB berdasarkan perhitungan Susenas pada tahun 2021 naik menjadi 50,21 Kg perkapita pertahun. Dengan kenaikan tingkat konsumsi ini, kualitas SDM masyarakat dapat ditingkatkan lebih baik. Angka konsumsi ikan NTB tiap tahun meningkat. Dari 38.2 Kg/kapita/tahun pada tahun 2018 menjadi 50.21 pada tahun 2020 dan menjadi 50.49 kg/kapita/tahun pada tahun 2021. Jika dilihat per kabupaten/kota.

Angka konsumsi ikan di Lombok Barat 38,40 kg/kapita/tahun, Lombok Tengah 34,39 kg/kapita/tahun, Kabupaten Sumbawa 50,00 kg/kapita/tahun. Kabupaten Sumbawa Barat 49,33 kg/kapita/tahun. Kabupaten Dompu 46,96 kg/kapita/tahun. Kabupaten Bima 45,00 kg/kapita/tahun. Kabupaten Lombok Utara 37,21 kg/kapita/tahun. Kota Mataram 42,98 kg/kapita/tahun. Kota Bima 41,19 kg/kapita/tahun dan terendah adalah Kabupaten Lombok Timur, 33,76 kg/kapita/tahun.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, ST.,M. Si didampingi Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Produk Perikanan (P2HP) di kantornya, Rabu, 30 Juni 2022 menerangkan, kenaikan angka konsumsi ikan ini bergerak menuju perbaikan kualitas SDM NTB. “Berarti, tingkat kesadaran masyarakat untuk makan ikan cukup tinggi. Secara berangsur-angsur, angka stunting (kerdil) kita bisa dikurangi,” ujarnya.

Pada tahun 2022 ini Kementerian Kalautan Perikanan (KKP) juga memfokuskan kegiatan GEMARIKAN melalui upaya penurunan angka stunting. Indonesia saat ini masih menghadapi permasalahan gizi di masyarakat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, sebanyak 30,8% anak balita (bawah lima tahun) mengalami pertumbuhan stunting atau kerdil akibat kekurangan gizi kronis.

Lanjut Muslim, amanat undang-undang No 18 tahun 2012 tentang Pangan, bahwa ikan termasuk pangan pokok yang diperuntukkan sebagai makanan utama sehari-hari sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal. Produksi perikanan Provinsi NTB tahun 2021 telah mencapai lebih dari 1,285 juta ton yang terdiri dari perikanan tangkap sebesar 239.515,77 ton, dan perikanan budidaya sebesar 946.793,93 ton, dengan komoditas dominan rumput laut yaitu sebesar 681.697 ton.

Di lain pihak, produksi olahan hasil perikanan Provinsi NTB tahun 2021 mencapai 112.969,3 ton yang merupakan produksi dari 5522 UMKM yang tersebar di sepuluh Kabupaten/Kota di NTB. “Ini menunjukan bahwa potensi hasil kelautan dan perikanan yang bisa dikonsumsi cukup tinggi dan diharapkan dapat menurunkan angka stunting,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, masalah pemenuhan gizi masyarakat masih menjadi hambatan dalam membangun manusia di NTB. Salah satunya angka stunting yang masih berada di bawah toleransi yang direkomendasikan WHO (20%) sampai dengan tahun 2021. Untuk mendorong peningkatan konsumsi ikan, salah satu upayanya adalah kampanye gemar makan ikan, dan ditetapkannya Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara sebagai prioritas utama yang butuh perhatian di Provinsi NTB kaitannya dengan angka prevalensi stunting.

Intervensinya adalah pemberian paket bantuan 420 paket setiap bulan selama 7 kali (60 orang per bulan). Sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan batita. Pemberian paket adalah olahan bahan ikan yang terdiri dari bakso ikan, siomay ikan, otak-otak, abon, teri, pindang, pempek, nugget ikan, cilok, kaki naga, tempura, fillet ikan dan sosis ikan.

“Setiap bulan dilakukan pemantauan dampak pemberian produk olahan ikan pada sasaran, sesuai indikator kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan batita. Kita berharap angka stunting bisa ditekan dengan memperbanyak konsumsi ikan. Karena di dalam ikan terdapat kandungan omega 3 yang sangat baik untuk perkembangan otak dan tubuh,” demikian Muslim. (bul)