Selamatkan Generasi Emas Mati Sia-sia di Jalan Raya, Astra Honda Motor ’’Gempur’’ Sekolah

0
Edukasi keselamatan berkendara di sekolah-sekolah oleh Tim Safety Riding Astra Motor NTB. (Suara NTB/ist)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) – Angka kecelekaan di jalan raya masih tinggi. Didominasi oleh usia produktif, atau usia generasi emas. Fenomena ini harus menjadi perhatian bersama. Tingginya angka kecelakaan di jalan raya ini juga menjadi perhatian serius Astra Motor NTB, mewakili PT. Astra Honda Motor (AHM). Edukasi keselamatan berkendara gencar dilakukan, terutama di sekolah-sekolah. Dari tingkat SMP, SMA/SMK, hingga Perguruan Tinggi sebagai langkah preventif (pencegahan).

Tahun 2022 ini, Astra Motor NTB, kata Satria Wiman Jaya, Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, menyasar setidaknya 25 sekolah (25 kegiatan) di seluruh kabupaten/kota. Astra Motor NTB bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada pelajar, dan siswa sekolah.

25 sekolah yang menjadi target edukasi keselamatan berkendara ini, terdiri dari 19 sekolah setingkat SMA/SMK, 5 sekolah setingkat SMP, dan 1 kegiatan setingat Perguruan Tinggi. Materi edukasinya, secara umum tentang kepedulian keselamatan berkendara. #Cari_Aman dan basic skill berkendara. Dan prediksi bahaya dalam berlalulintas.

Untuk keselamatan berkendara, kata Satria terutama terkait postur berkendara. Pertama, kepala harus menghadap lusur ke depan. Dan dapat menangkap semua informasi sekitar saat berkendara. Kedua, pundak harus diposisikan serileks mungkin. Otot tidak tegang saat berkendara. Ketiga, siku posisinya agak menekuk, tidak boleh lurus. Agar pengendara mendapatkan suspensi ketika berjumpa dengan jalan berlubang atau berliku. Keempat, empat jari harus stand by pada posisi setang kemudi.

“Tidak ada jari yang stand by pada tuas kopling atau rem,” tambahnya. Kelima, posisi mengendara harus senyaman mungkin. Tidak boleh terlalu dekat dengan stang kemudi, juga tidak boleh terlalu jauh. Keenam, posisi lutut pengendara searah dan masih dalam area motor. Tidak dibolehkan posisi mengangkang. Ketujuh, kaki harus tetap berada pada pedal. Tidak boleh posisinya menggelantung.

Satria menambahkan, untuk rambu-rambu lalu lintas, kepada peserta edukasi juga tetap diberikan pemahaman tata caranya mengikuti aturan berlalu lintas di jalan berdasarkan rambu-rambu lalu lintas yang ada. “Persiapan berkendara juga diberikan pada materi basic skill. Sebelum berkendara pemanasan dulu 5-10 menit, dan juga harus mengikuti tujuh postur berkendara. Dan juga untuk si pembonceng juga harus tegak lurus dengan pengemudi. Memegang pengemudi di depat, atau tetap memeluk pengendara kalau sudah muhri. Dan posisi paha mengapit ke paha pengemudi,” imbuhnya.

Animo peserta saat diedukasi terkait keselamatan berkendara ini terbilang cukup tinggi. Baik saat edukasi secara daring, hybrid, maupun edukasi langsung ke sekolah-sekolah. Pihak sekolah juga sangat merespon, dan berharap edukasi keselamatan berkendara ini tetap dilakukan secara rutin. Rata-rata sudah sudah memahami tata cara berkendara. Namun belum sepenuhnya menyadari pentingnya mentatati keselamatan berkendara.

Misalnya ada yang merasa karena jarak tempuh dekat, sehingga tidak menggunakan helm saat berkendara. Ada juga yang memang belum memiliki kelengkapan keselamatan berkendara. “Menurut data yang kami terima, di tahun 2020 terjadi lakalantas sebanyak 100.028 kasus. 75 persen kecelakaan sepeda motor. Dan usia 14-30 an tahun adalah korbannya. Sangat disayangkan, usia – usia produktif. Karena itu, kampanye keselamatan berkendara gencar dilakukan, bahkan di saat covid-19,” demikian Satria.

Selama tahun 2021 PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang NTB membayar santunan mencapai Rp33,17 miliar. Kenaikan pembayaran santunan sebagai dampak dari tingginya kecelakaan lalu lintas. Kepala Jasa Raharja Cabang NTB, Emil Feriansyah Latief menyampaikan, selama tahun 2021, PT Jasa Raharja NTB telah membayarkan santunan kepada korban kecelakaan naik sebesar 11,21 persen dari periode yang sama tahun 2020 lalu sebesar Rp29,8 miliar.

“NTB ini wilayahnya relatif kecil. Tapi angka kecelakaan lalu lintasnya masih tinggi,” katanya. Berdasarkan usia, tingkat kecelakaan lalu lintas di NTB didominasi usia pelajar (6-25 tahun) sebesar 44 persen. Disusul usia prouktif antara 26-55 tahun sebesar 37 persen. Dan lansia 35 ke atas sebesar 17 persen dan balita atau 5 tahun ke bawah sebesar 2 persen.

Berdasarkan jenis kelaminnya, laki laki mendominasi angka kecelakaan sebesar 73 persen dan 27 persennya perempuan. Dan berdasarkan profesinya, pelajar/mahasiswa mendominasi angka kecelakaan sebesar 35 persen, disusul wiraswasta 21 persen. Kemudian buruh dan petani 18 persen, lain-lain 12 persen. Tidak bekerja 8 persen. Ibu Rumah Tangga 7 persen, serta TNI Polri 1 persen.

“Jika dilihat dari data statistiknya, angka kecelakaan di NTB di dominasi oleh usia-usia emas. Usia produktif. Dan sayang, meninggal di jalan sia-sia. Bisa jadi karena keteledoran dan kelalaian,” demikian Emil. (bul)