MXGP Samota Nihil Temuan Kasus Covid-19

0
Tim kesehatan saat di MXGP Samota (Suara NTB/ist)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) – Tim Kesehatan Pemprov NTB sudah selesai menyusun laporan terkait dengan pemantauan dan pengendalian pandemi Covid-19 selama berlangsungnya Motocross Grand Prix (MXGP) Samota tanggal 24 – 26 Juni 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. H.Lalu Hamzi Fikri mengatakan, pemeriksaan RTD antigen dan PCR pada momentum MXGP Samota dilakukan pada tanggal 16 – 28 Juni 2022. Artinya pemeriksaan kesehatan dilakukan jauh sebelum balapan digelar di Samota.

Jumlah pemeriksaan antigen kepada penyelenggara dan penonton secara acak sebanyak 663 serta PCR sebanyak 269 pemeriksaan. Hasilnya yaitu tidak ada kasus Covid-19 yang ditemukan oleh tim kesehatan selama berlangsungnya kegiatan.

“Tren kasus Covid-19 dari tanggal 16 Januari sampai dengan 26 Juni 2022 di Provinsi NTB terjadi penurunan sangat signifikan. Pada tanggal 1 Juni 2022 dengan kasus baru yaitu satu kasus di NTB,” kata Lalu Hamzi Fikri  kepada Suara NTB, Rabu, 29 Juni 2022.

Ia mengatakan, tidak hanya Covid-19 yang dilakukan pemantauan, namun tim kesehatan juga memantau situasi penyakit potensial lainnya seperti malaria, keracunan, ISPA, GHPR, gigitan ular, diare akut, dan DBD.

Dari data yang diterima Suara NTB terlihat adanya kasus diare yang muncul selama digelarnya event MXGP. Misalnya di tanggal 24 Juni ditemukan sebanyak tujuh kasus diare, tanggal 25 Juni sebanyak satu kasus, tanggal 26 Juni sebanyak tiga kasus dan 27 Juni terdapat dua kasus. Sehingga total kasus diare yang ditangani oleh tim medis sebanyak 13 kasus.

“Ada kru yang kena diare, karena penyesuaian makanan saja dan saat kejadian sudah tertangani dengan baik,” kata Fikri.

Dokter Fikri mengatakan, dari hasil pemantauan bahwa sampai dengan saat ini tidak ditemukan kasus penyakit potensial KLB atau wabah pada pos-pos pelayanan kesehatan selama berlangsunya event tersebut.

Adapun upaya yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan untuk mempersiapkan hal itu yaitu melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor, membentuk jejaring surveilans, adanya kontak person pada semua pos kesehatan, dan melakukan pelatihan terhadap tim surveilans dalam pengimputan data secara online.(ris)